Dunia Itu Hanya Tiga Hari Saja, Kawan

time concept, selective focus point, special toned photo f/x

Hasan Al Bashri rahimahullah berkata : “Dunia itu hanya tiga hari. Kemarin, yang tak kan terulang. Besok, yang belum tentu menemuinya. Hari ini, tempat menabung amalan kita”

Begitu dalam untaian nasehat dari seorang ulama salaf, Hasan Al Bashri rahimahullah diatas. Ya betul, dunia itu hanya tiga hari saja kawan. Tidaklah lama sebenarnya, begitu amat singkat. Kita harus memanfaatkan waktu yang singkat tersebut, untuk satu tujuan. Tujuan apakah itu? Meraih ridho Allah Ta’alaa, dengan cara beribadah kepada-Nya sesuai tuntunan Al Qur’an dan Sunnah.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat : 56)

Mari kita coba maknai nasehat dari Hasan Al Bashri rahimahullah diatas…

Kemarin, yang tak kan terulang. Begitu banyak rangkaian kejadian dan aktifitas yang kita lalui di hari kemarin. Ada yang manis, tetapi tak sedikit yang pahit. Ada yang meninggalkan kesan bahagia, tetapi tak jarang yang berujung sedih. Namun setelah semuanya terjadi, maka akan berlalu. Sebenarnya kita hanya perlu untuk mengambil hikmah dan mensyukuri dari apa yang telah kita alami dan lakukan, apapun bentuknya. Karena bisa jadi yang pahit dan menyedihkan, mampu untuk menjadikan pribadi kita lebih taat dan kuat. Sebaliknya, yang manis dan bahagia, justru dapat menjerumuskan kita kepada kelalaian dan kehinaan. Maka mohonlah kepada Allah, agar kita diberikan hati yang bening dan hidup, agar mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang bermanfaat. Ya Allah, lunakkanlah hati kami dengan mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu…

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah : 216)

Besok, yang belum tentu menemuinya. Adakah yang bisa menjamin kita masih bisa berjumpa dengan hari besok? Tidak ada seorang pun, melainkan hanya Allah Ta’alaa semata yang Maha Mengetahui. Nasehat ini menghadapkan diri kita kepada satu hal penting; lakukanlah yang Allah dan Rasul-Nya sukai, sebaik-baiknya, dan saat ini juga. Karena kita tidak pernah tau, apakah kita masih bisa menemui hari besok untuk melakukannya, ataukah itulah yang terakhir bisa kita lakukan.

Para ulama salaf berkata : “Termasuk salah satu tanda hamba dibenci Allah adalah dia menyia-nyiakan waktu.” Dan mereka (para salaf) sangat bersungguh-sungguh untuk tidak melewatkan satu hari atau sebagian hari tanpa membekali diri mereka dari hari itu dengan ilmu yang bermanfaat atau amalan shalih, supaya tidak berlalu (habis) umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma.

Hari ini, tempat menabung amalan kita. Hari yang sedang kita jalani saat ini, adalah kesempatan emas untuk mengisinya dengan ketaatan dalam bentuk amal ibadah. pastikan yang wajib tak terlewat, dan perbanyaklah mengerjakan yang sunnah. Besar kecilnya ibadah, tergantung pada niat dalam hati kita. Kita tidak pernah tau, amalan mana yang nanti akan membawa kita masuk ke dalam surga. Tugas kita hanya fokus beribadah serta memastikan lurusnya niat hanya pada Allah Ta’alaa. Jangan sia – siakan waktu kita dengan hal – hal yang tidak membawa manfaat, terlebih bagi akhirat kita kelak. Apalagi saat tubuh masih diberikan nikmat sehat, optimalkan untuk beribadah hanya pada-Nya. Pada akhirnya, setelah kemarin tak dapat diulang, besok tak tentu berjumpa, maka manfaatkanlah sebaik mungkin hari ini.

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas)

Berbekalah dengan ketakwaan karena engkau tidak tahu
Apabila malam telah gelap apakah engkau akan hidup esok hari
Betapa banyak orang yang sehat meninggal tanpa didahului sakit
Dan betapa banyak orang yang sakit ternyata hidup lama
Betapa banyak seorang pemuda sore dan pagi harinya dalam kondisi aman
Padahal kain kafannya telah digunting dan dia tidak mengetahuinya
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: ”Keuntungan terbesar di dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling utama dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Bagaimana dikatakan berakal seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat (kesenangan dunia) yang hanya sesaat.”
Beliau juga berkata: ”Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan invite pin BBM 7B578D8D atau hubungi telpon / SMS / WA 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Advertisements

Peluang Investasi : Membangun Rumah (Di Surga) Dengan Angsuran Ringan

Model Rumah Minimalis Idaman Tipe 90 Dengan 2 Lantai

Saat ini untuk membeli properti berupa rumah, amatlah mahal sekali. Apalagi jika hendak membangunnya dari nol, sesuai dengan keinginan kita. Tentu butuh uang ratusan juta bahkan hingga miliaran rupiah. Seakan – akan sudah tidak mungkin lagi untuk memiliki rumah sendiri. Namun kita tak boleh berputus asa dari rahmat dan rezeki dari Allah Ta’alaa. Mudah saja bagi Allah untuk memberi kita rumah yang nyaman, luas, dan bagus.

Nah tetapi anda sebenarnya dapat membangun rumah sendiri di tempat lain. Dimana? Di surga. Ya setidaknya jikalau anda tidak mampu membangun dan memiliki rumah di dunia ini, anda mampu membangun dan memilikinya di surga kelak insya Allah. Caranya sangat mudah sekali, anda tidak perlu membeli material atau mendatangi agen properti. Cicilannya hanya 12 kali dalam sehari. Tertarik?

Begini cara nyicilnya : Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga. (HR Muslim)

Allahu Akbar, mudahkan? Anda hanya perlu menjaga sholat sunnah rawatib dalam sehari. Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah. Sedangkan sesudah shalat wajib disebutshalat sunnah ba’diyah.

Di antara tujuan disyariatkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib. Perlu dipersiapkan seperti ini karena sebelumnya jiwa telah disibukkan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah lebih dulu. Sedangkan shalat sunnah ba’diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan di sana – sini ketika melakukannya.

Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.” (HR Abu Dawud)

Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu. (HR Abu Dawud)

Kini pertanyaannya adalah, bagaimanakah penjabaran 12 raka’at sholat sunnah rawatib tersebut. Sederhananya, marilah kita perhatikan tabel berikut :

999691_10200284946382837_993759328_n

Dari tabel diatas, silahkan anda pilih sholat – sholat sunnah qobliyah dan sunnah ba’diyah yang ada. Hanya saja jika penulis boleh membuat pendapat, Hasil kesimpulan dari berbagai macam hadits yang membicarakan mengenai shalat sunnah rawatib, maka yang sangat dianjurkan yaitu : 2 raka’at sebelum sholat subuh, 4 raka’at sebelum sholat dzuhur dan 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at sesudah sholat maghrib, dan 2 raka’at sesudah ‘isya. Maka jika dijumlahkan didapat hasil 12 raka’at bukan?

Demikianlah peluang investasi besar yang dapat anda lakukan dengan sangat mudah. Angsurannya ringan, tidak perlu mengeluarkan sepeser uang. Yang terpenting adalah ada niat dan tekad dalam diri untuk mau mengerjakannya dan rela menyediakan waktu. Kita suka terlalu disibukkan dunia untuk mencari uang, tapi nyatanya masih saja susah untuk membeli rumah. Lebih baik sediakan waktu untuk membangun rumah di surga, insya Allah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan invite pin BBM 7B578D8D atau hubungi  telpon / SMS / WA 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Setidaknya Tiga Doa Ini Dalam Sujudmu

jamaah3Di tulisan sebelumnya, saya telah membahas pentingnya bagi kita untuk memberikan perhatian serius di sujud – sujud dalam sholat. Saya sangat berharap sujud yang kita lakukan, tak hanya sekedar bagian dari gerakan sholat semata. Namun menjadi sesuatu yang sangat dinanti untuk menyampaikan doa, karena pada saat itulah jarak kita dengan Allah Ta’alaa amatlah dekat.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabb-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya)” (HR Muslim)

Sudah saya sampaikan pula, bahwa pada dasarnya kita dapat membaca doa apapun tatkala sujud. Seperti misalnya doa yang diambil dari surah Al Baqarah ayat 201 :

“Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka)

Atau pun doa – doa lain, yang bersumber dari Qur’an dan Hadits, maupun doa yang kita panjatkan sesuai dengan hajat kita. Tetapi saya juga ingin menyampaikan sebuah nasihat emas dari ulama besar, Syeikh Abdul Aziz Bin Baaz hafidzhohullah, berkaitan dengan perkara berdoa tatkala sujud. Syeikh menyampaikan setidaknya tiga doa yang hendaknya jangan kita lupakan dalam sujud.

  1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah.
    “Allahumma inni as’aluka khusnal khotimah. Ya Allah aku meminta kepada-Mu khusnul khotimah

Yaitu seorang hamba sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebakan kemurkaan Allah Ta’alaa. Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan – perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini. Inilah puncak dari segala tujuan akhir kehidupan seorang muslim, yaitu mati dalam keadaan yang baik. Sesungguhnya bagian akhirlah yang akan menentukan keadaan seseorang kelak di akhirat. Maka hendaknya kita memohon kepada Allah Ta’alaa agar mendapatkan kenikmatan tertinggi; khusnul khotimah.

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR Bukhari)

2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat
Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut. ” Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat “

Ingat wahai saudaraku, sesungguhnya setiap manusia adalah pendosa, dan sebaik – sebaik pendosa ialah mereka yang bertaubat. Hal ini sesuai dengan hadits :

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.” (HR Ibnu Majah, At Tirmidzi, dan Ad Darimi)

Demi Allah, saya pun juga makhluk yang hina penuh dosa. Maka selama nafas belum sampai kerongkongan, mari kita bertaubat. Memohon ampun atas segala perbuatan dosa, kedzholiman, maksiat, dusta, dan lain sebagainya. Selamat hayat masih dikandung badan, disitulah Allah selalu membuka pintu taubat dan menerima taubat hamba-Nya.

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai dikerongkongannya” (HR At Tirmidzi dan Ahmad)

3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agama-Nya.

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinik. “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu”

Hati diibaratkan raja, sedang aggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila buruk, maka demikian pula urusan para prajuritnya.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati..” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, penting untuk menjaga hati ini agar selalu berada pada kebenaran. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memohon kepada Allah melalui doa diatas. Sungguh begitu mudah hati ini untuk berbolak – balik. Hari ini kita berada dalam jalan-Nya yang lurus, namun besok bisa jadi kita sudah berada di jalan setan yang menyimpang. Maka mohonlah selalu kepada Allah Ta’alaa dalam sujudmu untuk hatimu…

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Jangan Sia – Siakan Sujudmu

sujud

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Rabb-nya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya)” (HR Muslim)

Apa yang anda rasakan selama ini tatkala sedang sujud dalam sholat anda? Tentu setiap orang merasakan hal yang berbeda – beda, ada yang bahagia, ada yang ngantuk, ada yang melirik ke kaki, malahan ada yang tidak ingin lama – lama bersujud. Namun setelah membaca dan mengetahui hadits diatas, kini apa yang hendak anda lakukan ketika dalam keadaan sujud? Ya, berdoalah. Berdoalah wahai saudaraku, karena saat itulah Allah ‘Azza wa Jalla, Penggenggam alam semesta, Yang Maha membolak – balikkan hati hamba – hamba-Nya, sedang berada dekat dengan diri kita.

Seorang anak kecil yang tidak mempunyai apa – apa, tetapi ia ingin membeli permen di warung, pasti ia akan datang dan mendekat kepada orang tuanya untuk meminta uang. Anak kecil itu akan berusaha semaksimal mungkin agar orang tuanya mau memberikan ia uang, supaya dapat membeli permen di warung. Sang anak kecil juga tak sungkan untuk merengek bahkan menangis, agar hati orang tuanya luluh untuk mengeluarkan lembaran – lembaran rupiah kepadanya.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah pernah ditanya pertanyaan serupa dan beliau menjawab :

“Disyariatkan bagi seorang mukmin untuk berdo’a ketika shalatnya di saat yang disunnahkan untuk berdo’a, baik ketika shalat fardhu maupun shalat sunnah. Adapun saat berdo’a katika shalat adalah tatkala sujud, duduk di antara dua sujud dan akhir salat setelah tasyahud dan shalawat atas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebelum salam…”

Seperti itulah seharusnya sikap kita seorang manusia yang lemah ini, kepada Allah Jalla wa A’laa. Momentum sujud sudah sepatutnya menjadi kesempatan emas bagi kita untuk merengek, bermunajat, memohon kepada-Nya atas segala urusan dan keperluan kita. Bukan malah menyia – nyiakan atau menyepelekan keadaan sujud, karena kita tak pernah tau, apakah sujud tersebut akan menjadi sujud terakhir kita kepada Allah Ta’alaa di dunia ini.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “…ketika sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, niscaya segera dikabulkan untuk kalian” ( HR Muslim di dalam shahihnya)

Kemudian timbul pertanyaan, doa apa sajakah yang dapat kita ucapkan saat sujud terutama di sholat fardhu maupun sunnah? Sejatinya tidak ada tuntunan yang jelas dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengenai doa – doa apa sajakah yang dapat kita lafadzkan saat sujud ketika sholat. Sehingga, berdoalah sesuai dengan keinginan anda, berdoalah dengan doa – doa yang anda sukai, baik itu dari Al Qur’an, hadits, atau doa anda sendiri. Namun bukankah dilarang membaca ayat Al Qur’an ketika sujud dalam sholat sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR Muslim)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku untuk membaca (ayat Al Qur’an) ketika ruku’ dan sujud.” (HR Muslim)

Lalu bagaimana membaca doa yang diambil dari Al Qur’an ketika sujud dalam sholat? Maka Jawabannya tidaklah mengapa. Kita boleh saja berdo’a dengan doa yang bersumber dari Al Qur’an, seperti doa kebaikan dunia dan akhirat atau yang dikenal dengan doa sapu jagad (QS Al Baqarah : 201). Alasannya karena niatan ketika itu adalah bukan untuk tilawah Al Qur’an, namun untuk berdoa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda :

Setiap amalan tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan (HR Bukhari dan Muslim)

Salah seorang ulama Syafi’iyah, Az Zarkasyi rahimahullah berkata,

“Yang terlarang adalah jika dimaksudkan membaca Al Qur’an (ketika sujud). Namun jika yang dimaksudkan adalah doa dan sanjungan pada Allah maka itu tidaklah mengapa, sebagaimana pula seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al Qur’an”. 

Sedangkan apakah doa hanya boleh dilakukan saat sujud terakhir dalam sholat, sehingga banyak kaum muslimin yang melamakan sujud terakhirnya? Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin ditanya mengenai hal ini dan beliau rahimahullah menjawab,

“Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang disunnahkan  adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu hampir sama lamanya.  Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Baro’ bin ‘Azib, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya). ” Inilah yang afdhol. Akan tetapi ada tempat doa selain sujud yaitu setelah tasyahud (sebelum salam). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda, “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”. Maka berdoalah ketika itu sedikit atau pun lama setelah tasyahud akhir sebelum salam. (Fatawa Nur ‘ala Ad Darb)

Demikianlah saudaraku, penjelasan yang dapat saya sampaikan di tulisan kali ini. Maka sekali lagi saya mengingatkan, jangan sia – siakan sujudmu. Setiap sujudmu dalam sholat, adalah kesempatan terbaik untuk berdoa. Sampaikanlah ke saudara, kerabat, teman jika tulisan ini dirasa bermanfaat dan membawa kebaikan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang menunjukkan sunnah atau perbuatan yang baik dalam islam maka baginya pahala perbuatan itu serta pahala orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menunjukkan sunnah atau perbuatan yang buruk dalam islam maka baginya dosa perbuatan itu dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Hadirilah Sholat Idul Adha 1435 H

 

 

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilhamd..

HADIRILAH DAN IKUTILAH
Sholat Idul Adha 1435 H

Hari, Tanggal : 10 Dzulhijjah 1435 H / 5 Oktober 2014 M
Waktu : Pkl 06.15 WIB
Imam & Khatib : Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal
Tempat : Lapangan Olahraga SMPN 35 jln Dago Pojok, Kota Bandung
Tema : Ya Allah, Kami Berhaji dan Kami Berqurban

idul_adha

Penyakit “Yang Penting kan…”

daun-gugur1

“Sholat di rumah aja, yang penting kan sholat….”

“Sudah nutup rambut, yang penting kan berjilbab…”

“Seribu saja cukup, yang penting kan sedekah…”

Begitulah selentingan kata orang yang mengaku sebagai muslim. Begitu diajak sholat berjama’ah di masjid, kalimat pertama keluar dari lisannya. Dinasehati cara berjilbab yang benar sesuai syari’at, kalimat kedua terucap dari lisannya. Ketika hendak memasukkan sedekah ke dalam kotak amal, kalimat ketiga meluncur dari lisannya. Dan masih banyak lagi “yang penting kan” yang penting kan” lainnya. Jujur, saya suka gregetan ketika mendengar pernyataan – pernyataan seperti diatas. Dengan mudahnya mereka mengatakan demikian, darimana dasarnya? Apakah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam atau para sahabat radhiallahu ‘anhum pernah mencontohkannya?

Sadarilah, ini merupakan salah satu bentuk penyakit yang menjangkiti ketaqwaan seorang hamba Allah Azza wa Jalla. Seolah – olah apa yang mereka lakukan sudah benar, sudah sesuai tuntunan. Padahal hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada artinya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Maka merugilah orang – orang yang demikian itu. Sungguh inilah salah satu bentuk ujian dari Allah Azza wa Jalla kepada hamba – hamba-Nya, agar terlihat mana yang amalnya paling baik amalnya diantara mereka.

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS Al Mulk : 2)

Tentulah tidak sama, kadar pahala yang didapatkan seorang muslim (terutama laki-laki) yang sholat berjama’ah di masjid (tepat waktu) dengan yang hanya sholat sendiri di rumah (tanpa udzhur). Tidak akan sama pula, kadar pahala yang didapatkan seorang muslimah yang berjilbab secara syar’i (menutup dada, tidak ketat, tidak tembus pandang, apalagai bercadar) dengan yang berjilbab ala kadarnya (hanya menutup rambut, tidak menutupi dada, dan seterusnya). Serta tidak akan sama, kadar pahala seorang muslim atau muslimah yang bersedekah dengan sedekah yang banyak (dibarengi niat ikhlas) dengan yang bersedekah apa adanya (tidak dibarengi niat ikhlas dan terpaksa, padahal dia mampu memberi lebih).

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar Rahman : 60)

****

Saudaraku seiman, jangan sampai kita terjangkit penyakit “yang penting kan”. Penyakit ini bisa lebih parah daripada kanker, karena dapat mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Sebagian orang menyanggah dengan perkataan, “Hargailah prosesnya untuk menjadi sholih”. Ingat, proses menuju kesholihan jalannya hanya satu, yaitu yang sesuai Qur’an dan Sunnah. Tidak berlaku “Banyak jalan menuju Roma”, karena kita sedang menuju kesholihan, meraih ridho Allah Azza wa Jalla, bukan sedang ber-travelling menuju Roma. Banyak orang yang ingin mendapatkan kebaikan, namun ia ternyata sama sekali tidak mendapatkan apa – apa. Kenapa? Karena ia menempuh cara dan jalan yang salah.

“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al Furqan : 23)

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR Ad Darimi)

Semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat bagi penulis maupun pembaca. Bahwa sesungguhnya telah ada tuntunan yang benar dari Qur’an dan Sunnah mengenai segala aspek kehidupan seorang muslim, termasuk perihal amal ibadah. Jangan mudah mengucapkan “yang penting kan”, karena bisa jadi kalimat inilah yang akan menjerumuskan kita kedalam neraka.

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS Al Ghasyiyah : 1-7)

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran : 31)

Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR At Tirmidzi)

Meraih ridho Allah Azza wa Jalla itu perlu pengorbanan, kegigihan, dan semangat untuk memperbaiki kualitas ibadah. Namun yakinlah, bahwa semuanya agar terbayar kontan kelak di yaumil akhir. Serta pastikan bahwa anda sedang berada di jalan yang benar untuk menuju surga-Nya. Wallahu a’lam bishowab

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Doorprize Di Awal Bulan Dzulhijjah

door-prizesDiawal tulisan saya ingin bertanya, tanggal berapa hijriah hari ini? Tau? Jangan liat kalender hijriah atau googling ya. Alhamdulillah hari ini kita telah memasuki 29 Dzulqo’dah 1435 Hijriah. Berarti insya Allah sebentar lagi kita akan masuk bulan dzulhijjah. Salah satu bulan dari empat bulan haram (suci), sebagaimana dalil dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berikut :

Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) syahru Mudhar, terletak diantara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban.” (HR Bukhari)

Saya yakin ada beberapa dari pembaca yang bertanya – tanya, apa yang dimaksud bulan haram? Sedikit akan saya jelaskan dari pendapat seorang ulama.  Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

  1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya (Latho-if Al Ma’arif).

****

Nah kemudian beberapa hari lagi kita akan memasuki salah satu bulan haram, yakni Dzulhijjah. Lantas apakah ada keutamaan dalam bulan tersebut? Tentulah pasti ada, setidaknya anda telah mengetahui salah satunya, yaitu hari raya Idul Adha. Akan tetapi sebelum tiba hari raya Idul Adha, Allah Azza wa Jalla lebih dahulu membagikan doorprize ridho-Nya serta jalan menuju surga di awal bulan dzulhijjah? Apakah doorprize tersebut?

Ternyata pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa (selain pada hari Nahr [Idul Adha]). Karena hari Nahr tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah.

Salah satu sahabat yang gemar melakukannya adalah ‘Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

****

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, … (HR Abu Daud)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. (Kitab Latho-if Al Ma’arif). Untuk orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam (Kitab Fathul Bari) Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.

Sahabat yang dirahmati Allah Azza wa Jalla, setelah kita mengetahui secara jelas dalil – dalil tentang keutamaan puasa sunnah di awal Dzulhijjah, maka pertanyaan selanjutnya apakah kita mau mengambil doorprize itu? Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kita kemudahan, taufik dan hidayah-Nya agar mampu menunaikan salah satu amalan yang baik ini. Walhamduilllahi robbil ‘alamiini.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Jagalah Mimpi Anda Pergi Ke Baitullah

mathaf-expansionBismillah. Para pembaca yang disayangi Allah Azza wa Jalla, beberapa hari ini kita diramaikan dengan berita liputan haji, baik di TV, radio, dan koran. Mulai dari proses manasik, jelang keberangkatan, hingga kedatangan di tanah suci. Tak hanya itu saja, di beberapa berita juga diangkat kisah – kisah inspiratif tentang orang – orang yang dianggap “tidak mampu” pergi ke tanah suci, tetapi pada kenyataannya Allah Azza wa Jalla takdirkan yang berbeda. Tatkala Allah Azza wa Jalla yang berkehendak, maka segalanya bisa terjadi. Seperti yang saya pernah lihat berita tentang seorang pedagang gula aren, penjual gorengan, penjaja krupuk, dan masih banyak lagi, yang berkesempatan untuk pergi haji tahun ini. Ah Subhanallah, betapa takdir Allah Azza wa Jalla indah sekali.

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah.” (QS Al-Baqarah: 196)

Mimpi pergi ke Baitullah, baik dalam rangka haji maupun umroh, harus selalu kita pelihara dengan keikhlasan, menyiramnya dengan ikhtiar dan tawakal agar ia tumbuh besar dan menjadi kenyataan. Saya akan mulai membahas tentang haji terlebih dahulu. Seperti tulisan saya sebelumnya, penting bagi kita mengetahui keutamaan sebuah amal ibadah. Haji merupakan salah satu rukun Islam, yang wajib dilakukan bagi mereka yang mampu baik secara materi maupun non materi.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari)

Haji merupakan amalan paling afdhol, sebagaimana hadits :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Bukhari)

Bahkan jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga.

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga. (HR Bukhari dan Muslim). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim)

Dengan demikian, sangat jelas bahwa setiap muslim harus memiliki niat untuk menunaikan ibadah haji. Walaupun dihadapkan dengan persoalan mahalnya biaya dan daftar tunggu haji yang lama, tapi kita tidak boleh mengubur niat pergi haji. Karena sesungguhnya pergi haji bukan tentang hitung – hitungan uang dan waktu, tetapi tentang siapa yang Allah Azza wa Jalla undang. Allah Azza wa Jalla tidak mengundang yang mampu pergi haji, namun Dia Ta’alaa mampukan siapa yang Dia Ta’alaa undang. Sering kita temui, seseorang yang kaya raya, banyak harta, sehat lahir batin, namun Allah Azza wa Jalla belum berkehendak mengundangnya ke baitullah. Namun seorang penjual krupuk keliling, tua renta, yang penghasilannya hanya 20ribu sehari, Allah Azza wa Jalla mampukan ia dan Allah Azza wa Jalla undang ia untuk pergi haji ke baitullah. Masya Allah.

Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun : “Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah” (QS Yasin : 82)

Ajaib memang, ibadah haji bisa dilaksanakan bagi mereka yg mendapat taufik dan memiliki keikhlasan. Ada yang punya harta, tetapi tidak punya waktu dan kesehatan tubuh. Ada yang sehat dan punya waktu tetapi tidak punya harta. Ada yang punya waktu, uang dan kesehatan tetapi tidak segera menunaikan haji, baik karena menunda-nunda atau atau tidak ada keinginan sama sekali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Azaa wa jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, Aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghandiri undangan-Ku (naik haji, karena yang berhaji disebut tamu Allah, pent), maka sungguh dia orang yang benar-benar terhalangi (dari kebaikan)” (HR Ibnu Hibban)Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata,

sesungguhnya saya berkeinginan bisa mengutus sekelompok orang ke daerah-daerah. Mereka mencari orang yang punya kemampuan tetapi tidak pergi haji, menjatuhkan jizyah (upeti) kpeada mereka. Mereka (Yang semacam ini) bukanlah muslim, mereka bukanlah muslim.”  (HR Said bin Mashur)

Dalam riwayat yang lain,

Hendaknya mereka mati dalam keadaan yahudi atau nashrani –dikatakan tiga kali- seorang yang mati kemudian (sengaja) tidak berhaji, (padahal) ia mendapat keluasan (rezeki) dan kemudahan jalan.” (HR Baihaqi)

****

Kemudian umrah. Ada sebagian ulama yang menyebutkan umrah adalah haji kecil. Karena tata caranya sama dengan haji, hanya saja umrah tidak ada lempar jumrah dan wukuf di Arafah. Keutamaan umrah juga banyak sekali, diantaranya :

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR Ibnu Majah)

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasai, Tirmidzi dan Ahmad)

Umrah bisa dilakukan kapan saja, beda dengan haji yang hanya dilakukan di bulan Dzulhijah. Pergi umrah juga memerlukan kesiapan materi dan non materi seperti haji. Tetapi sekali lagi saya ingatkan, kehendak Allah Azza wa Jalla jauh diatas hitungan manusia. Ditulisan kali ini, inti yang ingin penulis sampaikan adalah jagalah mimpi anda untuk pergi ke Baitullah, apakah itu untuk haji ataupun umrah. Bermimpi adalah awal menuju kenyataan. Bermimpi adalah kemampuan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Berapa banyak orang yang baru sekedar bermimpi saja, tidak bisa. “Ah kayaknya gak mungkin deh umrah apalagi haji”, demikian kata sebagian orang yang kurang keimanannya kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka lupa ada Allah Azza wa Jalla yang menguasai dan memiliki langit bumi beserta isinya.

Atau yang lebih parah adalah seorang muslim yang menempatkan mimpinya keluar negeri bukan ke Baitullah (Arab Saudi, Makkah dan Madinah), tapi malah ke Korea ingin ketemu artis K-Pop, ke Jepang ingin ke Gunung Fuji, Amerika Serikat ingin melihat patung Liberty, atau ke Perancis ingin melihat menara Eiffel. Na’udzubillah, semoga kita dijauhkan dari hal seperti ini.

Hal perlu anda lakukan sekarang adalah meniatkan untuk pergi ke baitullah (haji atau umroh, bahkan keduanya), kemudian ikhtiar dengan mencari rezeki serta menabung, lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla dengan kesabaran dan doa. Lalu jagalah niat dan mimpi anda untuk pergi ke baitullah. Penulis doakan, semoga siapapun yang membaca tulisan ini, Allah Azza wa Jalla undang dan mampukan untuk pergi ke baitullah di saat yang tepat. Tekadkan dalam hati, minimal sekali dalam seumur hidup, kita bisa pergi ke baitullah. Sholat di masjid nabawi, ziarah ke makam Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, mengunjungi Raudhoh, tawaf dan sholat di masjidil haram, Sa’i antara shofa dan warwah, melempar jumrah di mina, dan wukuf di arafah. Rasakan pengalaman spiritual yang luar biasa ketika berkunjung ke tanah suci dan tidak sedikit pula seseorang yang telah berkunjung ke baitullah mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Ta’alaa untuk menjadi muslim yang sejati. Walhamdulillah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Pentingnya Mengetahui Keutamaan Sebuah Ibadah (Studi Kasus Sholat Wajib)

berwudhu_20131120_173507Bismillah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad. Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa, beberapa hari lalu ada yang menyapa saya di BBM. Seorang pemuda sepertinya (diihat dari DP), entah berasal darimana. Dia bercerita kepada saya, bahwa  dirinya sudah lama tidak sholat wajib. Alasannya sederhana : malas. Saya terkejut membaca chat-nya, begitu mudah sekali meninggalkan ibadah yang paling agung dalam Islam dengan alasan bodoh (bagi saya, bukan sederhana) : malas.

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling afdhol?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Terus apa?” “Berbakti pada orang tua“, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  “Lalu apa lagi”, aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah“, jawab beliau. (HR Bukhari dan Muslim)

“Aku mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau ada sungai yang mengalir di pintu rumah salah seorang dari kalian kemudian dia pun mandi di sungai tersebut 5 kali dalam sehari semalam, apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat berkata, “Tidak akan tersisa sedikit pun dari kotoran di tubuhnya.” Rasulullah bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat 5 waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapuskan dosa-dosa dengan shalat 5 waktu tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah kamu tau keutamaan sholat wajib? Dia menjawab, tidak tau. Lalu saya coba bujuk dia untuk  mencari tau keutamaan sholat. Saya suruh pemuda tersebut mencari di internet saja agar mudah dan cepat, melalui mesin pencari yufid.com. Sepertinya dia menuruti saran saya, lalu menyampaikan kepada saya beberapa hadits keutamaan – keutamaan sholat wajib :

Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR Ahmad)

Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah. Karena engkau tidaklah sujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan akan menghapuskan satu kesalahan.” (HR Muslim)

Shalat adalah cahaya. (HR Muslim)

Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap bahwasanya kelak ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.” (HR Muslim)

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR Muslim)

Dan firman Allah Ta’alaa…

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat (QS Al Baqarah: 45)

*****

Lalu dia mengatakan, “Ternyata banyak yah keutamaan sholat ustadz”. Membacanya, perasaan dihati saya campur aduk. Jengkel, kesel, sedih, namun juga bahagia karena akhirnya dia mengetahui apa saja keutamaan sholat wajib. Kemudian saya katakan kembali kepadanya, “Nah sekarang kan udah tau keutamaan apa aja yang kita dapat kalo melaksanakan sholat. Sekarang coba cari lagi, keburukan apa aja yang kita dapat kalo tidak melaksanakan sholat”. Dan sekali lagi pemuda ini menurut, ia mencari tau apa yang akan didapatkan tatkala meninggalkan sholat wajib lima waktu. Tak berapa lama kemudian, dia menulis :

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”(QS Al Mudatstsir : 38-47)

(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)

Barangsiapa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja, maka janji Allah terlepas darinya. (HR Ahmad)

Dan perkataan ulama salaf…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah)

Setelah itu saya bertanya kepadanya, “Jadi gimana? Masih gak mau sholat?”. Agak lama chat BBM saya tidak dibalas, saya tidak tau mengapa. Hingga sekitar lima menit kemudian dia menjawab, “Ustadz saya baru selesai sholat Dzuhur”. Alhamdulillah… Ternyata setelah mengetahui kebaikan apa yang didapat ketika mengerjakan sholat, serta keburukan apa yang akan didapat tatkala meninggalkan sholat, dia menjadi kembali kepada kebenaran. Kini saya tengah membimbing pemuda ini, agar dirinya bisa istiqomah sholat wajib lima waktu. Agar tidak hanya ‘yang penting’ sholat, maksudnya jangan sampai caranya sholat tidak sesuai sunnah dan tidak sholat berjama’ah di masjid.

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR Ad Darimi)

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR Bukhari)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku'”(QS Al Baqarah : 43)

Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR Bukhari dan Muslim)

“Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

*****

Para pembaca yang disayangi Allah Ta’alaa, apa hikmah yang bisa kita petik dari cerita saya diatas? Bahwa betapa pentingnya mengetahui keutamaan sebuah ibadah dan amal sholih yang telah disampaikan Allah Ta’alaa melalui Rasululllah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Jangan sampai kita mengerjakan ibadah dan amal sholih tanpa mengetahui apa keutamaan yang kita dapat, atau apa keburukan yang akan kita dapat ketika meninggalkannya (seperti sholat wajib). Beribadah dan melakukan amal sholih tanpa mengetahui keutamaannya, akan menyebabkan pelakunya merasa hampa ketika mengerjakan ibadah atau amal sholih tersebut. Sebaliknya apabila dia mengetahui keutamaan – keutamaannya, akan menambahkan semangat, keseriusan, kekhusyu’annya dalam mengerjakan ibadah maupun amal sholih. Apalagi jika ditambah tentang pengetahuan keburukan apa yang akan didapat ketika meninggalkannya, insya Allah hal ini akan membuat seseorang selalu dalam semangat fastabiqul khoirot. Jadi kalau anda malas ketika hendak melakukan ibadah wajib maupun sunnah, segera ingat keutamaan apa yang anda dapat. Dan keburukan apa yang akan anda dapat ketika meninggalkannya.

Jadi marilah kita mempelajari tentang keutamaan sebuah ibadah dan amal sholih yang diajarkan dalam Islam. Maka cara satu – satunya untuk mengetahuinya adalah dengan menuntut ilmu; menghadiri majelis ilmu; membaca buku; bertanya kepada ustadz; dan lain sebagainya. Semoga kita termasuk golongan orang – orang yang selalu dalam petunjuk-Nya, diberikan hidayah oleh Allah Ta’alaa untuk mengetahui mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang baik, mana yang sunnah mana yang bid’ah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Kalender Orang Islam Itu Hijriah

hilalBismillah. Mengharap agar tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulisnya serta menjadi amal shalih bagi pembacanya, aamiin yaa Robbal ‘alamiin. Para pembaca yang dirahmati Allah, hari ini tanggal berapa hijriah ya? Ada yang bisa jawab tanpa harus melihat kalender hijriah di atas meja atau dinding rumah? Atau jangan melihat ke aplikasi kalender hijriah di smartphone anda? Insya Allah ada sebagian yang bisa jawab, namun tak sedikit pula yang kebingungan tidak tau tanggal berapa hijriah hari ini. Sebuah pertanyaan sederhana yang sepele banget. Namun dari pertanyaan tersebut, bisa jadi ke-islam-an kita diuji. Sudah benarkah menjadi orang islam?

Prihatin sebenarnya diri ini, tatkala mengisi majelis ta’lim di sebuah masjid. Masjidnya megah, besar, dan nyaman. Tetapi begitu saya melihat jadwal sholat di dinding masjid menggunakan penanggalan masehi, bahkan tidak ada penganggalan hijriahnya sama sekali. Masya Allah. Ini masjid lho, tempatnya orang Islam menegakkan ibadah yang agung (sholat), tempatnya orang Islam berkumpul; belajar menuntut ilmu agama, dan merupakan sebaik – baiknya tempat diatas muka bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika pernah ditanya, “Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab: Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (Shohih Ibnu Hibban)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”. Tapi kok ya penanggalan yang digunakan kalender masehi? Padahal kalender masehi bukan ajaran atau bagian dari agama Islam. Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan rahimahullah berkata mengenai kalender masehi ini, “kalender masehi merupakan simbol agama mereka (nashoro), sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashoro (dalam agama mereka)”.

“Ah apaan sih tadz, cuma penanggalan doank ribet amat!” begitu celetuk seorang jama’ah pengajian kepada saya. Saya jawab dengan sedikit ilmu yang saya punya, “Sesungguhnya Islam melalui Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan penanggalan sendiri kepada ummatnya, yaitu hijriah, yang ditentukan dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat. Maka, kalo mengaku ummat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, kudu mengetahui penanggalan hijriah donk.” Bagi sebagian kaum muslimin hal ini dianggap sepele dan remeh temeh, namun bagi saya tidak.

Saudaraku, ingatlah. Agama kita, Islam, adalah agama yang sempurna. Tidak perlu ada penambahan ataupun pengurangan dari ajarannya yang disampaikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS Al-Mâ`idah: 3)

Maka berpegang-teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurusDan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar merupakan suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, serta kelak kamu akan dimintai pertanggungajawaban.” (QS Az-Zukhruf: 43-44)

Termasuk dalam masalah penanggalan atau kalender. Islam telah mempunyai cara perhitungan tersendiri, yaitu hijriah yang berdasarkan peredaran bulan.Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” (QS At-Taubah: 36)

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Hilal (bulan sabit) sebagai tanda berawal dan dan berakhirnya bulan, maka dengan munculnya Hilal dimulaialah bulan baru dan berakhirlah bulan yang telah lalu. Maka jadilah Hilal-hilal itu sebagai patokan waktu, dan ini menunjukkan bahwa hitungan bulan adalah Qomari karena keterkaitannya dengan peredaran bulan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Maka Dia (Allah) mengabarkan bahwa Hilal-hilal itu adalah patokan waktu bagi manusia, dan ini umum dalam setiap urusan mereka, lalu Allah menjadikan Hilal-hilal itu sebagai patokan waktu bagi manusia dalam hukum-hukum yang ditetapkan oleh syari’at, baik sebagai tanda permulaan ibadah maupun sebagai sebab diwajibkannya sebuah ibadah, dan juga sebagai patokan waktu bagi hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan syarat yang dipersyaratkan oleh seorang hamba. Maka hukum-hukum yang ditetapkan dengan syari’at atau dengan syarat maka patokan waktunya berdasarkan Hilal, dan masuk ke dalam hal ini puasa, haji, ilaa’ (sumpah dari seorang suami untuk tidak menjima’ (berhubungan badan) istrinya dalam waktu kurang dari 40 hari), dan ‘iddah (masa menunggu setelah dicerai).”

Dan ada kekhawatiran, ketika kita menjadikan masehi sebagai kalender utama kita, akan nampak bahwa kita menyerupai suatu kaum, yaitu nashoro. Sedangkan mereka (nashoro) sama sekali tidak pernah mengakui dan memakai kalender hijriah. Lalu mengapa kita ummat Islam, ummat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, ummat yang terbaik dan terselamatkan, memakai sesuatu yang tidak datang dari Islam itu sendiri?

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” [HR. Ahmad II/50 dan Abû Dâwud no. 4031. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni dalam Al-Irwâ` no. 1269]

Nah pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah kita kan hidup di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya (padahal penduduk paling besar tersebut beragama Islam) lebih mengenal kalender masehi, lantas bagaimana kita menyikapinya? Untuk pertanyaan ini, saya sampaikan fatwa ulama Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan rahimahullah yang sangat panjang, semoga anda bersabar membacanya demi mendapatkan kebenaran. Sekaligus menutup tulisan saya kali ini, semoga ada kebaikan dan manfaat yang bisa dipetik. Serta membuat kita semangat dalam menampakkan identitas ke-islam-an kita. Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum.

****

FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN SHÂLIH AL-’UTSAIMÎN
Pertanyaan : Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal. Yang pertama bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk menyelisihi mereka.

Jawaban : Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala :

Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; [Al Baqarah: 189]

Ini berlaku untuk semua manusia

Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At Taubah: 36]

Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilâl. Oleh karena itu NabiShalallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.

Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas langit dan waktu-waktunya. Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu tidak ada dasarnya sama sekali. Akan tetapi apabila kita dihadapkan pada dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidak memiliki dasar tersebut?! Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi kita untuk menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian. Karena melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan mereka.

Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian.

Kemudian si penanya tadi mengatakan bahwa sisi yang kedua dari pertanyaan tersebut bahwa beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka apa hukum permasalahan ini?

Jawabanya: Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya, yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin tidak?

Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin.

(Liqâ`âtul Bâbil Maftûh)

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).