Category: Islam

Sholat Wajib Tapi Bermakmum Kepada Orang Yang Sholat Sunnah

lokasi-masjid-istiqlal-jakarta

Lagi – lagi ditulisan kali ini, saya akan berbagi ilmu tentang sholat. Beberapa hari lalu, saya jalan – jalan dengan sahabat saya (semoga Allah mencintainya) di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung. Saat tiba di pusat perbelanjaan tersebut, waktu sholat dzuhur telah tiba. Sehingga kami memutuskan untuk segera mencari mushola atau masjid, untuk meraih keutamaan sholat di awal waktu.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya: Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau ulangi dua kali, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan urutan: Berbakti kepada orang tua, kemudian berjihad fi sabilillah.”

Yang dimaksud: “Shalat pada waktunya” adalah shalat di awal waktu, sebagaimana keterangan Ibnu Hajar, dimana beliau menukil keterangan Ibnu Battal ketika menjelaskan hadis di atas: Ibnu Battal mengatakan, “Dalam hadis ini disimpulkan bahwa menyegerakan shalat di awal waktunya itu lebih afdhal (utama) dari pada menundanya.” (Fathul Bari, 2:9)

Setelah menunaikan sholat dzuhur, saya lantas menunaikan sholat sunnah ba’diyah dzuhur.

Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.” (HR Bukhari)

Namun ketika saya sedang sholat sunnah ba’diyah dzuhur, tiba – tiba ada orang yang menepuk pundak kanan saya. Tepukan tersebut adalah sebuah kode untuk saya, bahwa orang tersebut bermakmum kepada saya. Tentu sholat yang orang itu maksudkan adalah sholat dzuhur, karena mungkin dia mengira saya sedang melaksanakan sholat dzuhur pula. Maka saya pun memahami kondisi seperti ini, dan lantas saya tetap melanjut sholat sunnah ba’diyah seperti biasa hingga salam. Lalu bagaimana dengan orang yang  bermakmum dengan saya? Dia pun tetap melanjutkan sholatnya.

Setelah dari mushola, kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berbelanja. Sambil menunggu makanan pesanan kami -lotek- datang, sahabat saya bertanya kepada saya. Ia ternyata melihat kejadian tadi di mushola, yaitu saat ada orang lain yang bermakmum sholat wajib kepada saya, tetapi sebenarnya saya sedang sholat sunnah ba’diyah. Ia menanyakan, apakah sah sholat wajib orang yang bermakmum tersebut? Lantas bagaimana penjelasan dari sisi fiqihnya? Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya tersebut, saya datangkan pendapat ulama Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berikut ini :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang melaksanakan shalat fardhu dengan makmum kepada orang yang mengerjakan shalat sunat?

Jawaban
Hukumnya sah, karena telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dalam suatu perjalanan beliau shalat dengan sekelompok para sahabatnya, yaitu shalat khauf dua raka’at, kemudian beliau shalat lagi dua raka’at dengan sekelompok lainnya, shalat beliau yang kedua adalah shalat sunat. Disebutkan juga dalam Ash-Shahihain, dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika ia telah mengerjakan shalat Isya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia pergi lalu mengimami shalat fardu kaummnya, shalat mereka adalah shalat fardhu, sedangkan shalat Mu’adz saat itu adalah shalat sunnat [1].

Wallahu walyut taufiq.

[Majalah Ad-Da’wah, edisi 1033, Syaikh Ibnu Baz]

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang mendapati orang lain sedang shalat sirriyah, ia tidak tahu apakah orang tersebut sedang shalat fardhu atau shalat sunat? Dan apa yang harus dilakukan oleh seorang imam yang ketika orang ini masuk masjid ia mendapatinya sedang shalat, apakah ia perlu memberi isyarat agar orang tersebut ikut dalam shalatnya jika ia shalat fardhu, atau menjauhkannya jika ia sedang shalat sunat?

Jawaban
Yang benar adalah, tidak masalah adanya perbedaan niat antara imam dengan makmum, seseorang boleh melaksanakan shalat fardhu dengan bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu setelah melaksanakan shalat Isya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pulang kepada kaumnya lalu shalat mengimami mereka shalat itu juga. Bagi Mu’adz itu adalah shalat sunat, sedangkan bagi kaumnya itu adalah shalat fardhu.

Jika seseorang masuk masjid, sementara anda sedang shalat fardhu atau shalat sunat, lalu ia berdiri bersama anda sehingga menjadi berjama’ah, maka itu tidak mengapa, anda tidak perlu memberinya isyarat agar tidak masuk, tapi ia dibiarkan masuk shalat berjama’ah bersama anda, dan setelah anda selesai ia berdiri menyempurnakannya, baik itu shalat fardhu ataupun shalat sunat.

[Mukhtar Min Fatawa Ash-Shalah, hal. 66-67, Syaikh Ibnu Utsaimin]

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apa hukum shalat sunat bermakmum kepada yang shalat fardhu?

Jawaban
Boleh, jika imam tersebut orang yang paling mengerti tentang kitabullah dan paling mengerti tentang hukum-hukum shalat. Demikian juga jika orang tersebut adalah imam rawatib di masjid tersebut, tapi ia telah mengerjakan shalat tersebut dengan berjama’ah, lalu ketika datang ke masjidnya, ternyata mereka belum shalat, maka ia boleh shalat bersama mereka.

Dalilnya adalah kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu yang mana ia mengimami kaumnya dari golongan Anshar karena ia merupakan orang yang paling mengerti tentang kitabullah dan paling mengerti tentang hukum-hukum, saat itu, ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Isya lalu shalat bersama beliau, kemudian kembali kepada kaumnya dan mengimami mereka shalat Isya [2]. Saat iti ia shalat sunat dan mereka shalat fardhu.

Sebagian ulama memakruhkan hal ini karena perbedaan niat antara imam dengan makmum, tapi yang benar hal ini dibolehkan karena adanya dalil yang jelas.

Wallahu ‘alm.

[Al-Lu’lu Al-Makin, Ibnu Jibrin, hal. 112-113]

Footnote
[1]. Al-Bukhari, kitab Adzan (700, 701), Muslim, kitab Ash-Shalah (465)
[2]. Al-Bukhari, kitab Adzan (700, 701), Muslim, kitab Ash-Shalah (465)

sumber

Inilah sedikit ilmu tentang permasalahan fiqih yang bisa saya hadirkan. Semoga ada ilmu dan manfaat yang bisa dipetik oleh para pembaca. Dan saya doakan, semoga Allah ta’alaa senantiasa memberikan kita kemudahan dan kesempatan untuk selalu menunaikan sholat wajib berjama’ah tepat waktu. Berikut ini juga saya hadirkan sebuah video sederhana terkait jama’ah masbuk.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan invite pin BBM 7B578D8D atau hubungi telpon / SMS / WA 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Advertisements

Penyakit “Yang Penting kan…”

daun-gugur1

“Sholat di rumah aja, yang penting kan sholat….”

“Sudah nutup rambut, yang penting kan berjilbab…”

“Seribu saja cukup, yang penting kan sedekah…”

Begitulah selentingan kata orang yang mengaku sebagai muslim. Begitu diajak sholat berjama’ah di masjid, kalimat pertama keluar dari lisannya. Dinasehati cara berjilbab yang benar sesuai syari’at, kalimat kedua terucap dari lisannya. Ketika hendak memasukkan sedekah ke dalam kotak amal, kalimat ketiga meluncur dari lisannya. Dan masih banyak lagi “yang penting kan” yang penting kan” lainnya. Jujur, saya suka gregetan ketika mendengar pernyataan – pernyataan seperti diatas. Dengan mudahnya mereka mengatakan demikian, darimana dasarnya? Apakah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam atau para sahabat radhiallahu ‘anhum pernah mencontohkannya?

Sadarilah, ini merupakan salah satu bentuk penyakit yang menjangkiti ketaqwaan seorang hamba Allah Azza wa Jalla. Seolah – olah apa yang mereka lakukan sudah benar, sudah sesuai tuntunan. Padahal hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada artinya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Maka merugilah orang – orang yang demikian itu. Sungguh inilah salah satu bentuk ujian dari Allah Azza wa Jalla kepada hamba – hamba-Nya, agar terlihat mana yang amalnya paling baik amalnya diantara mereka.

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS Al Mulk : 2)

Tentulah tidak sama, kadar pahala yang didapatkan seorang muslim (terutama laki-laki) yang sholat berjama’ah di masjid (tepat waktu) dengan yang hanya sholat sendiri di rumah (tanpa udzhur). Tidak akan sama pula, kadar pahala yang didapatkan seorang muslimah yang berjilbab secara syar’i (menutup dada, tidak ketat, tidak tembus pandang, apalagai bercadar) dengan yang berjilbab ala kadarnya (hanya menutup rambut, tidak menutupi dada, dan seterusnya). Serta tidak akan sama, kadar pahala seorang muslim atau muslimah yang bersedekah dengan sedekah yang banyak (dibarengi niat ikhlas) dengan yang bersedekah apa adanya (tidak dibarengi niat ikhlas dan terpaksa, padahal dia mampu memberi lebih).

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar Rahman : 60)

****

Saudaraku seiman, jangan sampai kita terjangkit penyakit “yang penting kan”. Penyakit ini bisa lebih parah daripada kanker, karena dapat mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Sebagian orang menyanggah dengan perkataan, “Hargailah prosesnya untuk menjadi sholih”. Ingat, proses menuju kesholihan jalannya hanya satu, yaitu yang sesuai Qur’an dan Sunnah. Tidak berlaku “Banyak jalan menuju Roma”, karena kita sedang menuju kesholihan, meraih ridho Allah Azza wa Jalla, bukan sedang ber-travelling menuju Roma. Banyak orang yang ingin mendapatkan kebaikan, namun ia ternyata sama sekali tidak mendapatkan apa – apa. Kenapa? Karena ia menempuh cara dan jalan yang salah.

“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al Furqan : 23)

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR Ad Darimi)

Semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat bagi penulis maupun pembaca. Bahwa sesungguhnya telah ada tuntunan yang benar dari Qur’an dan Sunnah mengenai segala aspek kehidupan seorang muslim, termasuk perihal amal ibadah. Jangan mudah mengucapkan “yang penting kan”, karena bisa jadi kalimat inilah yang akan menjerumuskan kita kedalam neraka.

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS Al Ghasyiyah : 1-7)

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran : 31)

Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR At Tirmidzi)

Meraih ridho Allah Azza wa Jalla itu perlu pengorbanan, kegigihan, dan semangat untuk memperbaiki kualitas ibadah. Namun yakinlah, bahwa semuanya agar terbayar kontan kelak di yaumil akhir. Serta pastikan bahwa anda sedang berada di jalan yang benar untuk menuju surga-Nya. Wallahu a’lam bishowab

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Doorprize Di Awal Bulan Dzulhijjah

door-prizesDiawal tulisan saya ingin bertanya, tanggal berapa hijriah hari ini? Tau? Jangan liat kalender hijriah atau googling ya. Alhamdulillah hari ini kita telah memasuki 29 Dzulqo’dah 1435 Hijriah. Berarti insya Allah sebentar lagi kita akan masuk bulan dzulhijjah. Salah satu bulan dari empat bulan haram (suci), sebagaimana dalil dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berikut :

Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) syahru Mudhar, terletak diantara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban.” (HR Bukhari)

Saya yakin ada beberapa dari pembaca yang bertanya – tanya, apa yang dimaksud bulan haram? Sedikit akan saya jelaskan dari pendapat seorang ulama.  Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

  1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya (Latho-if Al Ma’arif).

****

Nah kemudian beberapa hari lagi kita akan memasuki salah satu bulan haram, yakni Dzulhijjah. Lantas apakah ada keutamaan dalam bulan tersebut? Tentulah pasti ada, setidaknya anda telah mengetahui salah satunya, yaitu hari raya Idul Adha. Akan tetapi sebelum tiba hari raya Idul Adha, Allah Azza wa Jalla lebih dahulu membagikan doorprize ridho-Nya serta jalan menuju surga di awal bulan dzulhijjah? Apakah doorprize tersebut?

Ternyata pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa (selain pada hari Nahr [Idul Adha]). Karena hari Nahr tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah.

Salah satu sahabat yang gemar melakukannya adalah ‘Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

****

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, … (HR Abu Daud)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. (Kitab Latho-if Al Ma’arif). Untuk orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam (Kitab Fathul Bari) Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.

Sahabat yang dirahmati Allah Azza wa Jalla, setelah kita mengetahui secara jelas dalil – dalil tentang keutamaan puasa sunnah di awal Dzulhijjah, maka pertanyaan selanjutnya apakah kita mau mengambil doorprize itu? Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kita kemudahan, taufik dan hidayah-Nya agar mampu menunaikan salah satu amalan yang baik ini. Walhamduilllahi robbil ‘alamiini.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Jagalah Mimpi Anda Pergi Ke Baitullah

mathaf-expansionBismillah. Para pembaca yang disayangi Allah Azza wa Jalla, beberapa hari ini kita diramaikan dengan berita liputan haji, baik di TV, radio, dan koran. Mulai dari proses manasik, jelang keberangkatan, hingga kedatangan di tanah suci. Tak hanya itu saja, di beberapa berita juga diangkat kisah – kisah inspiratif tentang orang – orang yang dianggap “tidak mampu” pergi ke tanah suci, tetapi pada kenyataannya Allah Azza wa Jalla takdirkan yang berbeda. Tatkala Allah Azza wa Jalla yang berkehendak, maka segalanya bisa terjadi. Seperti yang saya pernah lihat berita tentang seorang pedagang gula aren, penjual gorengan, penjaja krupuk, dan masih banyak lagi, yang berkesempatan untuk pergi haji tahun ini. Ah Subhanallah, betapa takdir Allah Azza wa Jalla indah sekali.

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah.” (QS Al-Baqarah: 196)

Mimpi pergi ke Baitullah, baik dalam rangka haji maupun umroh, harus selalu kita pelihara dengan keikhlasan, menyiramnya dengan ikhtiar dan tawakal agar ia tumbuh besar dan menjadi kenyataan. Saya akan mulai membahas tentang haji terlebih dahulu. Seperti tulisan saya sebelumnya, penting bagi kita mengetahui keutamaan sebuah amal ibadah. Haji merupakan salah satu rukun Islam, yang wajib dilakukan bagi mereka yang mampu baik secara materi maupun non materi.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari)

Haji merupakan amalan paling afdhol, sebagaimana hadits :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Bukhari)

Bahkan jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga.

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga. (HR Bukhari dan Muslim). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim)

Dengan demikian, sangat jelas bahwa setiap muslim harus memiliki niat untuk menunaikan ibadah haji. Walaupun dihadapkan dengan persoalan mahalnya biaya dan daftar tunggu haji yang lama, tapi kita tidak boleh mengubur niat pergi haji. Karena sesungguhnya pergi haji bukan tentang hitung – hitungan uang dan waktu, tetapi tentang siapa yang Allah Azza wa Jalla undang. Allah Azza wa Jalla tidak mengundang yang mampu pergi haji, namun Dia Ta’alaa mampukan siapa yang Dia Ta’alaa undang. Sering kita temui, seseorang yang kaya raya, banyak harta, sehat lahir batin, namun Allah Azza wa Jalla belum berkehendak mengundangnya ke baitullah. Namun seorang penjual krupuk keliling, tua renta, yang penghasilannya hanya 20ribu sehari, Allah Azza wa Jalla mampukan ia dan Allah Azza wa Jalla undang ia untuk pergi haji ke baitullah. Masya Allah.

Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun : “Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah” (QS Yasin : 82)

Ajaib memang, ibadah haji bisa dilaksanakan bagi mereka yg mendapat taufik dan memiliki keikhlasan. Ada yang punya harta, tetapi tidak punya waktu dan kesehatan tubuh. Ada yang sehat dan punya waktu tetapi tidak punya harta. Ada yang punya waktu, uang dan kesehatan tetapi tidak segera menunaikan haji, baik karena menunda-nunda atau atau tidak ada keinginan sama sekali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Azaa wa jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, Aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghandiri undangan-Ku (naik haji, karena yang berhaji disebut tamu Allah, pent), maka sungguh dia orang yang benar-benar terhalangi (dari kebaikan)” (HR Ibnu Hibban)Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata,

sesungguhnya saya berkeinginan bisa mengutus sekelompok orang ke daerah-daerah. Mereka mencari orang yang punya kemampuan tetapi tidak pergi haji, menjatuhkan jizyah (upeti) kpeada mereka. Mereka (Yang semacam ini) bukanlah muslim, mereka bukanlah muslim.”  (HR Said bin Mashur)

Dalam riwayat yang lain,

Hendaknya mereka mati dalam keadaan yahudi atau nashrani –dikatakan tiga kali- seorang yang mati kemudian (sengaja) tidak berhaji, (padahal) ia mendapat keluasan (rezeki) dan kemudahan jalan.” (HR Baihaqi)

****

Kemudian umrah. Ada sebagian ulama yang menyebutkan umrah adalah haji kecil. Karena tata caranya sama dengan haji, hanya saja umrah tidak ada lempar jumrah dan wukuf di Arafah. Keutamaan umrah juga banyak sekali, diantaranya :

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR Ibnu Majah)

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasai, Tirmidzi dan Ahmad)

Umrah bisa dilakukan kapan saja, beda dengan haji yang hanya dilakukan di bulan Dzulhijah. Pergi umrah juga memerlukan kesiapan materi dan non materi seperti haji. Tetapi sekali lagi saya ingatkan, kehendak Allah Azza wa Jalla jauh diatas hitungan manusia. Ditulisan kali ini, inti yang ingin penulis sampaikan adalah jagalah mimpi anda untuk pergi ke Baitullah, apakah itu untuk haji ataupun umrah. Bermimpi adalah awal menuju kenyataan. Bermimpi adalah kemampuan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Berapa banyak orang yang baru sekedar bermimpi saja, tidak bisa. “Ah kayaknya gak mungkin deh umrah apalagi haji”, demikian kata sebagian orang yang kurang keimanannya kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka lupa ada Allah Azza wa Jalla yang menguasai dan memiliki langit bumi beserta isinya.

Atau yang lebih parah adalah seorang muslim yang menempatkan mimpinya keluar negeri bukan ke Baitullah (Arab Saudi, Makkah dan Madinah), tapi malah ke Korea ingin ketemu artis K-Pop, ke Jepang ingin ke Gunung Fuji, Amerika Serikat ingin melihat patung Liberty, atau ke Perancis ingin melihat menara Eiffel. Na’udzubillah, semoga kita dijauhkan dari hal seperti ini.

Hal perlu anda lakukan sekarang adalah meniatkan untuk pergi ke baitullah (haji atau umroh, bahkan keduanya), kemudian ikhtiar dengan mencari rezeki serta menabung, lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla dengan kesabaran dan doa. Lalu jagalah niat dan mimpi anda untuk pergi ke baitullah. Penulis doakan, semoga siapapun yang membaca tulisan ini, Allah Azza wa Jalla undang dan mampukan untuk pergi ke baitullah di saat yang tepat. Tekadkan dalam hati, minimal sekali dalam seumur hidup, kita bisa pergi ke baitullah. Sholat di masjid nabawi, ziarah ke makam Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, mengunjungi Raudhoh, tawaf dan sholat di masjidil haram, Sa’i antara shofa dan warwah, melempar jumrah di mina, dan wukuf di arafah. Rasakan pengalaman spiritual yang luar biasa ketika berkunjung ke tanah suci dan tidak sedikit pula seseorang yang telah berkunjung ke baitullah mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Ta’alaa untuk menjadi muslim yang sejati. Walhamdulillah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Pentingnya Mengetahui Keutamaan Sebuah Ibadah (Studi Kasus Sholat Wajib)

berwudhu_20131120_173507Bismillah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad. Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa, beberapa hari lalu ada yang menyapa saya di BBM. Seorang pemuda sepertinya (diihat dari DP), entah berasal darimana. Dia bercerita kepada saya, bahwa  dirinya sudah lama tidak sholat wajib. Alasannya sederhana : malas. Saya terkejut membaca chat-nya, begitu mudah sekali meninggalkan ibadah yang paling agung dalam Islam dengan alasan bodoh (bagi saya, bukan sederhana) : malas.

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling afdhol?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Terus apa?” “Berbakti pada orang tua“, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  “Lalu apa lagi”, aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah“, jawab beliau. (HR Bukhari dan Muslim)

“Aku mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau ada sungai yang mengalir di pintu rumah salah seorang dari kalian kemudian dia pun mandi di sungai tersebut 5 kali dalam sehari semalam, apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat berkata, “Tidak akan tersisa sedikit pun dari kotoran di tubuhnya.” Rasulullah bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat 5 waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapuskan dosa-dosa dengan shalat 5 waktu tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah kamu tau keutamaan sholat wajib? Dia menjawab, tidak tau. Lalu saya coba bujuk dia untuk  mencari tau keutamaan sholat. Saya suruh pemuda tersebut mencari di internet saja agar mudah dan cepat, melalui mesin pencari yufid.com. Sepertinya dia menuruti saran saya, lalu menyampaikan kepada saya beberapa hadits keutamaan – keutamaan sholat wajib :

Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR Ahmad)

Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah. Karena engkau tidaklah sujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan akan menghapuskan satu kesalahan.” (HR Muslim)

Shalat adalah cahaya. (HR Muslim)

Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap bahwasanya kelak ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.” (HR Muslim)

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR Muslim)

Dan firman Allah Ta’alaa…

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat (QS Al Baqarah: 45)

*****

Lalu dia mengatakan, “Ternyata banyak yah keutamaan sholat ustadz”. Membacanya, perasaan dihati saya campur aduk. Jengkel, kesel, sedih, namun juga bahagia karena akhirnya dia mengetahui apa saja keutamaan sholat wajib. Kemudian saya katakan kembali kepadanya, “Nah sekarang kan udah tau keutamaan apa aja yang kita dapat kalo melaksanakan sholat. Sekarang coba cari lagi, keburukan apa aja yang kita dapat kalo tidak melaksanakan sholat”. Dan sekali lagi pemuda ini menurut, ia mencari tau apa yang akan didapatkan tatkala meninggalkan sholat wajib lima waktu. Tak berapa lama kemudian, dia menulis :

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”(QS Al Mudatstsir : 38-47)

(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)

Barangsiapa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja, maka janji Allah terlepas darinya. (HR Ahmad)

Dan perkataan ulama salaf…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah)

Setelah itu saya bertanya kepadanya, “Jadi gimana? Masih gak mau sholat?”. Agak lama chat BBM saya tidak dibalas, saya tidak tau mengapa. Hingga sekitar lima menit kemudian dia menjawab, “Ustadz saya baru selesai sholat Dzuhur”. Alhamdulillah… Ternyata setelah mengetahui kebaikan apa yang didapat ketika mengerjakan sholat, serta keburukan apa yang akan didapat tatkala meninggalkan sholat, dia menjadi kembali kepada kebenaran. Kini saya tengah membimbing pemuda ini, agar dirinya bisa istiqomah sholat wajib lima waktu. Agar tidak hanya ‘yang penting’ sholat, maksudnya jangan sampai caranya sholat tidak sesuai sunnah dan tidak sholat berjama’ah di masjid.

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR Ad Darimi)

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR Bukhari)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku'”(QS Al Baqarah : 43)

Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR Bukhari dan Muslim)

“Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

*****

Para pembaca yang disayangi Allah Ta’alaa, apa hikmah yang bisa kita petik dari cerita saya diatas? Bahwa betapa pentingnya mengetahui keutamaan sebuah ibadah dan amal sholih yang telah disampaikan Allah Ta’alaa melalui Rasululllah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Jangan sampai kita mengerjakan ibadah dan amal sholih tanpa mengetahui apa keutamaan yang kita dapat, atau apa keburukan yang akan kita dapat ketika meninggalkannya (seperti sholat wajib). Beribadah dan melakukan amal sholih tanpa mengetahui keutamaannya, akan menyebabkan pelakunya merasa hampa ketika mengerjakan ibadah atau amal sholih tersebut. Sebaliknya apabila dia mengetahui keutamaan – keutamaannya, akan menambahkan semangat, keseriusan, kekhusyu’annya dalam mengerjakan ibadah maupun amal sholih. Apalagi jika ditambah tentang pengetahuan keburukan apa yang akan didapat ketika meninggalkannya, insya Allah hal ini akan membuat seseorang selalu dalam semangat fastabiqul khoirot. Jadi kalau anda malas ketika hendak melakukan ibadah wajib maupun sunnah, segera ingat keutamaan apa yang anda dapat. Dan keburukan apa yang akan anda dapat ketika meninggalkannya.

Jadi marilah kita mempelajari tentang keutamaan sebuah ibadah dan amal sholih yang diajarkan dalam Islam. Maka cara satu – satunya untuk mengetahuinya adalah dengan menuntut ilmu; menghadiri majelis ilmu; membaca buku; bertanya kepada ustadz; dan lain sebagainya. Semoga kita termasuk golongan orang – orang yang selalu dalam petunjuk-Nya, diberikan hidayah oleh Allah Ta’alaa untuk mengetahui mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang baik, mana yang sunnah mana yang bid’ah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Kalender Orang Islam Itu Hijriah

hilalBismillah. Mengharap agar tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulisnya serta menjadi amal shalih bagi pembacanya, aamiin yaa Robbal ‘alamiin. Para pembaca yang dirahmati Allah, hari ini tanggal berapa hijriah ya? Ada yang bisa jawab tanpa harus melihat kalender hijriah di atas meja atau dinding rumah? Atau jangan melihat ke aplikasi kalender hijriah di smartphone anda? Insya Allah ada sebagian yang bisa jawab, namun tak sedikit pula yang kebingungan tidak tau tanggal berapa hijriah hari ini. Sebuah pertanyaan sederhana yang sepele banget. Namun dari pertanyaan tersebut, bisa jadi ke-islam-an kita diuji. Sudah benarkah menjadi orang islam?

Prihatin sebenarnya diri ini, tatkala mengisi majelis ta’lim di sebuah masjid. Masjidnya megah, besar, dan nyaman. Tetapi begitu saya melihat jadwal sholat di dinding masjid menggunakan penanggalan masehi, bahkan tidak ada penganggalan hijriahnya sama sekali. Masya Allah. Ini masjid lho, tempatnya orang Islam menegakkan ibadah yang agung (sholat), tempatnya orang Islam berkumpul; belajar menuntut ilmu agama, dan merupakan sebaik – baiknya tempat diatas muka bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika pernah ditanya, “Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab: Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (Shohih Ibnu Hibban)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”. Tapi kok ya penanggalan yang digunakan kalender masehi? Padahal kalender masehi bukan ajaran atau bagian dari agama Islam. Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan rahimahullah berkata mengenai kalender masehi ini, “kalender masehi merupakan simbol agama mereka (nashoro), sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashoro (dalam agama mereka)”.

“Ah apaan sih tadz, cuma penanggalan doank ribet amat!” begitu celetuk seorang jama’ah pengajian kepada saya. Saya jawab dengan sedikit ilmu yang saya punya, “Sesungguhnya Islam melalui Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan penanggalan sendiri kepada ummatnya, yaitu hijriah, yang ditentukan dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat. Maka, kalo mengaku ummat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, kudu mengetahui penanggalan hijriah donk.” Bagi sebagian kaum muslimin hal ini dianggap sepele dan remeh temeh, namun bagi saya tidak.

Saudaraku, ingatlah. Agama kita, Islam, adalah agama yang sempurna. Tidak perlu ada penambahan ataupun pengurangan dari ajarannya yang disampaikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS Al-Mâ`idah: 3)

Maka berpegang-teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurusDan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar merupakan suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, serta kelak kamu akan dimintai pertanggungajawaban.” (QS Az-Zukhruf: 43-44)

Termasuk dalam masalah penanggalan atau kalender. Islam telah mempunyai cara perhitungan tersendiri, yaitu hijriah yang berdasarkan peredaran bulan.Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” (QS At-Taubah: 36)

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Hilal (bulan sabit) sebagai tanda berawal dan dan berakhirnya bulan, maka dengan munculnya Hilal dimulaialah bulan baru dan berakhirlah bulan yang telah lalu. Maka jadilah Hilal-hilal itu sebagai patokan waktu, dan ini menunjukkan bahwa hitungan bulan adalah Qomari karena keterkaitannya dengan peredaran bulan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Maka Dia (Allah) mengabarkan bahwa Hilal-hilal itu adalah patokan waktu bagi manusia, dan ini umum dalam setiap urusan mereka, lalu Allah menjadikan Hilal-hilal itu sebagai patokan waktu bagi manusia dalam hukum-hukum yang ditetapkan oleh syari’at, baik sebagai tanda permulaan ibadah maupun sebagai sebab diwajibkannya sebuah ibadah, dan juga sebagai patokan waktu bagi hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan syarat yang dipersyaratkan oleh seorang hamba. Maka hukum-hukum yang ditetapkan dengan syari’at atau dengan syarat maka patokan waktunya berdasarkan Hilal, dan masuk ke dalam hal ini puasa, haji, ilaa’ (sumpah dari seorang suami untuk tidak menjima’ (berhubungan badan) istrinya dalam waktu kurang dari 40 hari), dan ‘iddah (masa menunggu setelah dicerai).”

Dan ada kekhawatiran, ketika kita menjadikan masehi sebagai kalender utama kita, akan nampak bahwa kita menyerupai suatu kaum, yaitu nashoro. Sedangkan mereka (nashoro) sama sekali tidak pernah mengakui dan memakai kalender hijriah. Lalu mengapa kita ummat Islam, ummat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, ummat yang terbaik dan terselamatkan, memakai sesuatu yang tidak datang dari Islam itu sendiri?

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” [HR. Ahmad II/50 dan Abû Dâwud no. 4031. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni dalam Al-Irwâ` no. 1269]

Nah pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah kita kan hidup di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya (padahal penduduk paling besar tersebut beragama Islam) lebih mengenal kalender masehi, lantas bagaimana kita menyikapinya? Untuk pertanyaan ini, saya sampaikan fatwa ulama Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan rahimahullah yang sangat panjang, semoga anda bersabar membacanya demi mendapatkan kebenaran. Sekaligus menutup tulisan saya kali ini, semoga ada kebaikan dan manfaat yang bisa dipetik. Serta membuat kita semangat dalam menampakkan identitas ke-islam-an kita. Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum.

****

FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN SHÂLIH AL-’UTSAIMÎN
Pertanyaan : Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal. Yang pertama bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk menyelisihi mereka.

Jawaban : Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala :

Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; [Al Baqarah: 189]

Ini berlaku untuk semua manusia

Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At Taubah: 36]

Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilâl. Oleh karena itu NabiShalallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.

Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas langit dan waktu-waktunya. Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu tidak ada dasarnya sama sekali. Akan tetapi apabila kita dihadapkan pada dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidak memiliki dasar tersebut?! Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi kita untuk menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian. Karena melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan mereka.

Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian.

Kemudian si penanya tadi mengatakan bahwa sisi yang kedua dari pertanyaan tersebut bahwa beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka apa hukum permasalahan ini?

Jawabanya: Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya, yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin tidak?

Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin.

(Liqâ`âtul Bâbil Maftûh)

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Jika Nanti Aku Tidak Ada Di Surga…

tolong1Sebuah hadits menggetarkan hati dan tubuh saya malam ini…

Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits yang panjang, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang syafaat di hari kiamat :

Setelah orang – orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah  untuk  memperjuangkan hak saudara – saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. 

mereka memohon : “Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab : “Keluarkan (dari neraka) orang – orang yang kalian kenal”. Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. 

Kemudian orang mukmin itu menghadap kembali kepada Allah, : “Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk diazab dari neraka, sudah tidak tersisa”

Allah berfirman, “Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar”. Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. 

Kemudian mereka menghadap kembali : “Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorang pun orang yang Engkau perintahkan untuk diazab…” (HR Muslim)

Maka memahami hadits ini, Imam Hasan Al Bashri rahimahullah menaseharkan, “Perbanyaklah berteman dengan orang – orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat”

Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah rahimahullah menasehatkan pula kepada teman – temannya, “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan : “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau. Masukkanlah bersama kami di Surga-Mu”. Kemudian beliau menangis…

*****

Para pembaca yang semoga Allah Rahmati, apa yang anda rasakan setelah membaca hadits dan nasehat dari para ulama diatas? Tak mampu lagi diri ini berucap apapun selain hanya tetesan air mata yang berbicara. Hadits diatas mengingatkan kita tentang beberapa hal – hal penting, yaitu pertama, keimanan. Iman merupakan syarat seseorang masuk surga. Yakni mengakui Allah Azza wa Jalla sebagai satu – satunya sesembahan yang berhak untuk disembah serta mengakui Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Kedua, ukhuwah islamiyah. Persaudaraan diatas dinul Islam dan mencintai karena Allah, bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk menyelamatkan saudaranya seiman di akhirat kelak. Ketiga, berteman dengan orang – orang sholeh. Ini adalah kombinasi dari poin kedua sebelumnya. Maka perbanyaklah berteman, berkumpul, beribadah, bersama orang – orang sholeh. Seperti yang telah disampaikan oleh Imam Hasan Al Bashri rahimahullah diatas, mereka memiliki syafaat kelak di hari akhir.

Bayangkan, betapa beruntungnya dan bahagianya seseorang yang memiliki banyak teman orang – orang sholeh. Yang mengingatkan untuk sholat berjama’ah di masjid, mengajari tilawah Al Qur’an, mengajak menghadiri majelis ilmu, dan menasehati kita tatkala hendak berbuat maksiat. Namun… betapa ruginya dan sedihnya apabila seseorang banyak bergaul dan berteman dengan orang orang yang ahli maksiat. Mengajak ke klub malam untuk menenggak minuman – minuman haram, mengkonsumsi narkoba, mengajak zina, membuat kita sering tertawa (maka matilah hati akibat banyak tertawa), mengajak pacaran, dan aktifitas maksiat lainnya, na’udzubillah. Sekarang, pilihannya ada di tangan anda. Hendak bergaul dengan siapakah diri anda?

Terakhir, saya ingin menyampaikan pesan kepada para pembaca semua. Apabila, nantinya saya tidak berada di Surga, dan anda ada di dalam Surga bersama orang – orang sholeh lainnya, maka datanglah kepada Allah. Sampaikan kebaikan – kebaikan yang pernah saya lakukan kepada anda, atau anda mengetahui kebaikan- kebaikan yang saya lakukan selama hidup di dunia. Semoga Allah Azza wa Jalla lantas mengizinkan anda untuk mengeluarkan saya dari neraka. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Bergeserlah Dari Tempat Shalat Wajib Untuk Shalat Sunah

Shalat (1)Suatu ketika Rizal menunaikan sholat dzuhur berjama’ah di masjid dekat rumahnya. Kemudian setelah selesai sholat wajib dan dzikir setelah sholat, Rizal hendak menunaikan sholat sunnah ba’diyah dzuhur. Namun sayangnya jama’ah di shaf depan, dimana posisi sholat Rizal berada, tidak ada yang kosong. Para jama’ah masih khusyuk berdzikir dan berdoa. Kondisi yang sama terlihat juga di posisi shaf kedua, dibelakang Rizal. Melihat keadaan ini, Rizal lantas meminta izin kepada seorang bapak yang tepat ada disampingnya, “Pak, mohon maaf. Boleh tukeran tempat duduk? Saya ingin sholat sunnah ba’diyah”. Lantas sang bapak menjawab, “Lho ngapain tuker – tukeran, sholat saja disitu. Bikin repot saja”. Reza kemudian menjawab dengan santun, “Bapak, sekali lagi mohon maaf apabila saya merepotkan bapak, namun sunnahnya seperti itu pak. Jika hendak menunaikan sholat sunnah setelah sholat wajib, sebaiknya jangan ditempat atau posisi yang sama dengan sholat wajib. Tapi tidak apa – apa, jika bapak tidak berkenan saya akan tukeran dengan jama’ah yang lain. Barakallahu fiik bapak”. Akhirnya Rizal bertukar posisi dengan seorang jama;ah disamping kirinya yang ternyata mau dan paham dengan masalah posisi sholat wajib dan sholat sunnah.

****

Saudaraku seiman yang semoga Allah Azza wa Jalla Rahmati, pernahkah anda mengalami hal yang sama seperti Rizal? Atau justru anda malah seperti bapak yang menolak bertukar posisi sholat dengan Rizal? Jika saya pribadi, saya sering bernasib sama dengan Rizal. Apalagi jika saya melaksanakan sholat wajib di masjid – masjid “kampung” (maksudnya terletak di perkampungan warga). Sebenernya apakah memang disyariatkan untuk berpindah tempat dari posisi sholat wajib untuk menunaikan sholat sunnah? Maka dengan tegas adalah disyari’atkan untuk bergeser atau pindah posisi dari posisi sholat wajib ketika hendak melaksanakan sholat sunnah. Sebagaimana hadits berikut :

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang imam tidak boleh shalat di tempat di mana ia shalat sehingga ia berpindah tempat” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

“Hendaknya tidak melakukan sholat sunnah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.” (HR Ibnu Abi Syaibah)

Selain itu juga ada hadits lainnya yang menguatkan :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Apakah kamu merasa lemah (keberatan) apabila kamu shalat untuk maju sedikit atau mundur, atau pindah ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri?” (HR Ibnu Majah)

Dari hadits – hadits di atas menunjukan bahwa berpindah tempat ketika melaksanakan shalat sunnah setelah sholat wajib memang ada dasar masyru’iyahnya. Bukan sekedar mengada-ada atau iseng-iseng belaka. Imam Al-Bukhari dan Al-Baghawi menyebutkan bahwa di antara hikmah mengapa kita berpindah tempat, antara lain disebutkan untuk memperbanyak tempat sujud atau ibadah. Karena tempat-tempat ibadah tersebut akan memberi kesaksian di hari akhir nanti sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Pada hari itu bumi menceritakan khabarnya” (QS. Al-Zalzalah : 4)

Pada saat bumi menceritakan kabarnya, saat itu bumi atau tanah menjadi saksi di hari kiamat bahwa kita pernah shalat dan bersujud di atas posisinya. Semakin banyak posisi shalat yang pernah kita ambil, maka akan semakin banyak tanah atau bumi yang akan memberikan kesaksian. Nah demikianlah hikmah dibalik mengapa kita disyari’atkan untuk berpindah posisi untuk menunaikan sholat sunnah setelah sholat wajib. Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan manfaat, kebaikan, serta menambah ilmu kita tentang agama. Mohon doakan penulis, agar senantiasa diberikan kesempatan untuk menyampaikan kebenaran yang berlandaskan Qur’an dan sunnah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Ujian adalah Sahabat Kehidupan

ujian hidupAda selentingan komentar seperti ini, “Kalo gak mau dapat ujian, ya gak usah hidup aja”. Apakah anda setuju dengan statement itu? Apa pun jawaban anda, sadarilah bahwa sudah bagian dari takdir manusia akan  bertemu ujian dalam hidupnya. Inilah bagian dari ketetapan Allah Azza wa Jalla bagi tiap hamba-Nya. Tak ada yang bisa menghindar tatkala Allah Azza wa Jalla memutuskan sebuah ketetapan. Termasuk menetapkan bahwa memang dunia ini adalah medan ujian serta medan perjuangan untuk menghadapi ujian tersebut.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan” (QS Al-Anbiyaa’ : 35)

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup,supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk : 1-2)

Anda perlu tau, selain karena sudah bagian dari  ketetapan Allah Azza wa Jalla, sebenarnya kita manusia adalah makhluk yang selalu mencari ujian. Karena kita ingin mencapai derajat yang lebih tinggi dari manusia biasa, yaitu menjadi manusia yang lebih baik dihadapan-Nya. Mau masuk SMP, harus ujian kelulusan tingkat SD dahulu. Mau menjadi PNS, harus ikut ujian seleksi CPNS, dan contoh – contoh lainnya. “Tapi kan itu ujian yang sudah kita rencanakan untuk dihadapi”. Betul, nah jika demikian permasalahannya adalah cara pandang dan cara kita menyikapi setiap permasalahan yang ada dihadapan kita, apakah itu terencana ataupun datang dengan tiba – tiba.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-‘Ankabuut : 2)

Namun kita tidak bisa memungkiri, manusia selalu punya batas kapasitas. Termasuk kapasitas dalam menerima, menghadapi, dan memperjuangkan ujian serta bersabar. Karena sesungguhnya kapasitas diri kita yang terbatas dalam memasukkan besaran dari kesabaran dalam hati, sedangkan kesabaran itu sesungguhnya tak bertepi. Bagi anda yang merasa dalam hidup ini terus menerus mendapati ujian, maka itulah yang pernah dirasakan oleh seorang Imam besar sekelas Imam Syafii. Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

مِحَنُ الزَّمَانِ كَثِيْرةٌ لاَ تَنْقَضِي … وَسُرُوْرُهَا يَأْتِيْكَ كَالْأَعْيَادِ

“Cobaan zaman banyak tidak habis-habisnya…
Dan kegembiraan zaman mendatangimu (sesekali) seperti sesekalinya hari raya”
Bahkan terkadang ujian datang bertubi-tubi dan bertumpuk-tumpuk. Imam Syafi’i rahimahullah juga berkata :

تَأْتِي الْمَكَارِهُ حِيْنَ تَأْتِي جُمْلَةً … وَأَرَى السُّرُوْرَ يَجِيْءُ فِي الْفَلَتَاتِ

“Hal-hal yang dibenci tatkala datang bertumpuk-tumpuk…
Dan aku melihat kegembiraan datang sesekali”

Di tulisan kali ini, saya akan mencoba menyampaikan firman dan janji Allah Azza wa Jalla, sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam, serta nasihat para ulama dalam menghadapi ujian kehidupan.

  • Sabar adalah jawaban dari setiap soal ujian kehidupan

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqoroh : 155)

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga). (QS. Az Zumar: 10)

  • Ujian adalah cara Allah Azza wa Jalla untuk menghadiahkan surga. Dan pertolongan Allah Azza wa Jalla dalam tiap ujian itu sangat dekat.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS Al-Baqoroh : 214)

  • Semakin tinggi iman dan ilmu seseorang, maka semakin banyak ujian yang akan ia hadapi. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang paling sholeh dan seterusnya. Seseorang diuji berdasarkan agamanya, jika agamanya kuat maka semakin keras ujiannya, dan jika agamanya lemah maka ia diuji berdasarkan agamanya. Dan ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga meninggalkan sang hamba berjalan di atas bumi tanpa ada sebuah dosapun” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 143)

  • Hadirnya ujian akan disertai dengan kecintaan dari Allah Azza wa Jalla.

“Jika Allah mencintai sebuah kaum maka Allah akan menguji mereka” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 146)

  • Berprasangka baiklah kepada Allah Azza wa Jalla terhadap ujian yang Dia berikan.

“Dan boleh jadi kalian membeci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian” (QS Al-Baqoroh : 216)

  • Ujian meninggikan derajat seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.” (Al Istiqomah)

  • Ujian adalah salah satu tanda dari kesempurnaan iman seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap orang mukmin yang sempurna imannya.” (Qo’idah fil Mahabbah)

Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.” (Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir)

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir)

Semoga apa yang saya hadirkan di tulisan kali ini mampu menjadi oase bagi anda yang sedang menghadapi gersangnya ujian kehidupan. Saya hadirkan kebenaran dari Al Qur’an dan Al Hadits semata – mata ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya agama kita tidak akan memberi ujian tanpa jawaban. Mudah – mudahan ini semua menjadi pengingat bagi diri penulis pribadi dan anda semua yang membaca tulisan ini. Serta menambah keimanan dan ketaqwaan kita dalam mempersiapkan bekal menuju akhirat kelak. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?

maharAda suatu hal yang lagi nge-trend ditengah – tengah kaum muslimin di Indonesia. Apakah hal tersebut? Yaitu dijadikannya hafalan Al Qur’an sebagai mahar. Salah satu surah dalam Al Qur’an yang favorit dijadikan mahar itu adalah surah Ar Rahman. Entahlah mengapa, hingga saat ini saya belum ada menemukan dalil baik dari Al Qur’an dan Sunnah yang mengkhususkan mahar hafalan Al Qur’an berupa surah Ar Rahman. Namun dari beberapa orang yang saya tanya, surah Ar Rahman menjadi favorit dijadikan mahar karena keunikannya, yaitu ada satu kalimat yang diulang – ulang beberapa kali, yaitu :

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukadziban : Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?”

Secara arti serta makna, ayat diatas sangat indah dan memang sangat unik karena diulang sebanyak 31 kali dalam surah Ar Rahman (mohon koreksi jika salah). Namun sebenarnya tidak ada kaitannya langsung kepada pernikahan. Terlepas ada yang mengatakan bahwa pernikahan adalah salah satu bentuk nikmat yang Allah Ta’alaa berikan kepada hmba – hamba-Nya. Wallahu a’lam bishowab. Namun saya ingin memfokuskan kepada pertanyaan, bolehkah hafalan Al Qur’an dijadikan mahar?

Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa hafalan Al Qur’an dijadikan mahar.  Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa teks hadits itu secara ekplisit memang menyebutkan bahwa mahar itu berupa hafalan Al-Quran. Sehingga wajar kalau tidak sedikit orang yang memahami bahwa mahar itu boleh berupa hafalan Al-Quran. Lengkapnya hadits itu sebagai berikut :


عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: ياَرَسُولَ اللهِ إِنّيِ وَهَبْتُ نَفْسِي لَكَ. فَقَامَتْ قِيَامًا طَوِيْلاً. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَارَسُولَ اللهِ زَوِّجْنِيْهَا إِنْ لَـمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَة. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ تُصْدِقُهَا اِيَّاهُ؟ فَقَالَ: مَا عِنْدِيْ اِلاَّ اِزَارِيْ هذَا. فَقَالَ النَّبِيُّ اِنْ اَعْطَيْتَهَا اِزَارَكَ جَلَسْتَ لاَ اِزَارَ لَكَ فَالْتَمِسْ شَيْئًا. فَقَالَ: مَا اَجِدُ شَيْئًا. فَقَالَ: اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ. فَالْتَمَسَ فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ : هَلْ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ شَيْئٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. سُوْرَةُ كَذَا وَسُوْرَةُ كَذَا لِسُوَرٍ يُسَمِّيْهَا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ : قَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ

Dari Sahal bin Sa’ad bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam didatangi seorang wanita yang berkata,”Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu”, Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata,” Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya”. Rasulullah berkata,” Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? dia berkata, “Tidak kecuali hanya sarungku ini” Nabi menjawab,”bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu”. Dia berkata,” aku tidak mendapatkan sesuatupun”. Rasulullah berkata, ” Carilah walau cincin dari besi”. Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi,” Apakah kamu menghafal qur’an?”. Dia menjawab,”Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi,”Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur’anmu” (HR Bukhari Muslim).

Secara zahir kalau ada orang berpendapat bolehnya mahar berupa hafalan Al-Quran, memang tidak bisa dipungkiri dan wajar. Namun bukan rahasia lagi bahwa dalam menarik kesimpulan hukum kita menemukan pendapat-pendapat yang berbeda, meski tetap mengacu kepada dalil yang sama. Sebagian ulama memandang bahwa hakikat mahar itu adalah pemberian yang berupa harta, berapa pun nilainya. Sedangkan kalau hanya berupa hafalan ayat Al-Quran, meski zahir nashnya demikian, namun tetap harus dipahami dengan benar sebagaimana maksudnya.

a. Mahar Adalah Pemberian

Seorang calon suami boleh saja merasa dirinya sudah menjadi hafidz (penghafal) Al-Quran. Tetapi hafalan yang ada di kepalanya bukanlah sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain.

Bila mahar berupa hafalan Al-Quran, justru melanggar pengertian mahar itu sendiri. Karena mahar itu pemberian dan hafalan Al-Quran tidak bisa diberikan. Sebab otak kita tidak bisa dicopykan hafalan Al-Quran seperti komputer.

b. Memahami Dalil Dengan Benar

Kalau harus berupa harta, lantas bagaimana dengan hadits di atas yang tegas menyebutkan mahar dengan hafalan Al-Quran?

Jawabnya bahwa hadits di atas harus dibaca dengan utuh dan tidak boleh dipakai sepotong-sepotong. Hadits di atas memang menceritakan bagaimana Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan atau membolehkan laki-laki itu memberi mahar berupa hafalan Al-Quran. Tetapi kalau dilihat secara seksama, sebenarnya ada proses sebelumnya. Tidak ujug-ujug beliau bilang begitu.

Awalnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar mahar berupa harta, tetapi karena laki-laki itu terlalu miskin, beliau Sholallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan harta dengan nilai yang amat kecil, hanya berupa cincin dari besi. Namun sudah dicari dan diupayakan, ternyata tetap tidak didapat juga, akhirnya apaboleh buat, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilahkan maharnya berupa hafalan ayat Al-Quran.

Kesimpulannya, kalaupun mau bayar mahar dengan hafalan Al-Quran, maka posisinya harus diletakkan pada pilihan terakhir, setelah mengupayakan memberi harta meski cuma sedikit pun tidak punya. Jangan ujug-ujung langsung mahar berupa hafalan Al-Quran.

c. Memahami Hadits Dengan Mengaitkan Kepada Hadits Lain

Menarik kesimpulan hukum secara terburu-buru dengan menggunakan sepotong dalil adalah sebuah keteledoran. Seorang faqih dan mujtahid wajib menggunakan semua hadits dan tidak boleh hanya berdalil dengan sepotong hadits.

Sebab bila kita hanya menggunakan hadits ini saja, tanpa melihat dan membandingkan dengan sekian banyak hadits dan dalil-dalil syar’i lainnya, kita jadi orang yang memakai dalil sepotong-sepotong. Dan memakai dalil sepotong-sepotong itu bukan perbuatan terpuji. Bahkan para ahli kitab di masa lalu dilaknat Allah karena salah satunya karena mereka menggunakan kitab secara sepotong-sepotong. Dan Al-Quran sendiri mempertanyakan tindakan ini sebagai tindakan yang keliru.

Maka selain hadit di atas, kita juga harus melihat hadits lainnya tentang mahar dan nilainya di masa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam. Rasululah Sholallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah bayar mahar pakai bacaan atau hafalan Al-Quran. Padahal beliau adalah oran yang paling tinggi derajatnya dalam hafalan Al-Quran.

Tetapi mahar beliau kepada para istrinya tetap berupa harta. Kepada Khadijah radhiyallahuanha diriwayatkan maharnya berupa 10 atau 100 ekor unta. Kepada Aisyah dan lainnya berupa uang sebanyak 500 dirham perak.

كَانَ صِدَاقُهُ لأَزْوَاجِهِ ثِنْتَى عَشْرَةَ أوْقِيَةً وَنَشًّا قَالَ: قَالَتْ: أتَدْرِى مَا النَّشُّ ؟. قَالَ: قُلْتُ: لاَ! قَالَتْ: نِصْفُ أوْقِيَةٍ ؛ فَتِلْكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ. فَهَذَا صِدَاقُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَزْوَاجِهِ.

Aisyah berkata,”Mahar Rasulullah kepada para isteri beliau adalah 12 Uqiyah dan satu nasy”. Aisyah berkata,”Tahukah engkau apakah nash itu?”. Abdur Rahman berkata,”Tidak”. Aisyah berkata,”Setengah Uuqiyah”. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah saw kepada para isteri beliau. (HR Muslim)

Di masa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam, uang 1 dinar emas bisa untuk membeli seekor kambing sebagaimana hadits Urwah Al-Bariqi. Dan perbandingan nilai dirham dengan dinar berkisar antara 1 : 10 hingga 1 : 12. Maksudnya, satu dinar di masa itu setara dengan 10 hingga 12 dihram.

Jadi kalau mahar Rasululah Sholallahu ‘alaihi wa sallam itu 500 dirham, berarti dengan uang itu kira-kira bisa untuk membeli kurang lebih 41 ekor kambing. Tinggal kita hitung saja berapa harga kambing saat ini. Anggaplah misalnya sejuta rupiah per-ekor, maka kurang lebih nilai 500 dirham itu 40-an juta rupiah.

d. Bukan Memamerkan Hafalan Tetapi Mengajarkan

Dan hadits di atas juga harus disesuaikan dengan hadits lainnya yang menjelaskan. Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِنْطَلِقْ لَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ اْلقُرْآنِ

Dan dalam riwyat lain oleh Muslim : Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah, sungguh aku telah menikahkan kamu dengannya, maka ajarilah dia dengan Al-Qur’an”.

Maka yang dijadikan mahar bukan pameran hafalan Al-Quran di majelis akad nikah, melainkan berupa ‘jasa’ untuk mengajarkan Al-Quran berikut dengan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.

Dan kita dapati dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa jumlah ayat yang diajarkannya itu adalah 20 ayat.

Kesimpulan

Kalau yang dimaksud bahwa mahar hafalan Al-Quran itu sekedar memamerkan hafalan Al-Quran, nampaknya masih agak jauh dari makna dan maksud mahar yang sesungguhnya. Namun kalau yang dimaksud adalah dengan hafalannya itu seorang suami mengajarkan Al-Quran, maka jasa mengajar itu adalah salah satu wujud harta juga. Dan bukankah mahar Nabi Musa ‘alaihissalam kepada istrinya berupa jasa juga. Jasa yang dimaksud adalah jasa menggembala kambing selama 10 tahun lamanya. Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat dan pencerahan kepada siapa pun yang membaca.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).