Category: Hikmah

Penyakit “Yang Penting kan…”

daun-gugur1

“Sholat di rumah aja, yang penting kan sholat….”

“Sudah nutup rambut, yang penting kan berjilbab…”

“Seribu saja cukup, yang penting kan sedekah…”

Begitulah selentingan kata orang yang mengaku sebagai muslim. Begitu diajak sholat berjama’ah di masjid, kalimat pertama keluar dari lisannya. Dinasehati cara berjilbab yang benar sesuai syari’at, kalimat kedua terucap dari lisannya. Ketika hendak memasukkan sedekah ke dalam kotak amal, kalimat ketiga meluncur dari lisannya. Dan masih banyak lagi “yang penting kan” yang penting kan” lainnya. Jujur, saya suka gregetan ketika mendengar pernyataan – pernyataan seperti diatas. Dengan mudahnya mereka mengatakan demikian, darimana dasarnya? Apakah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam atau para sahabat radhiallahu ‘anhum pernah mencontohkannya?

Sadarilah, ini merupakan salah satu bentuk penyakit yang menjangkiti ketaqwaan seorang hamba Allah Azza wa Jalla. Seolah – olah apa yang mereka lakukan sudah benar, sudah sesuai tuntunan. Padahal hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada artinya dihadapan Allah Azza wa Jalla. Maka merugilah orang – orang yang demikian itu. Sungguh inilah salah satu bentuk ujian dari Allah Azza wa Jalla kepada hamba – hamba-Nya, agar terlihat mana yang amalnya paling baik amalnya diantara mereka.

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS Al Mulk : 2)

Tentulah tidak sama, kadar pahala yang didapatkan seorang muslim (terutama laki-laki) yang sholat berjama’ah di masjid (tepat waktu) dengan yang hanya sholat sendiri di rumah (tanpa udzhur). Tidak akan sama pula, kadar pahala yang didapatkan seorang muslimah yang berjilbab secara syar’i (menutup dada, tidak ketat, tidak tembus pandang, apalagai bercadar) dengan yang berjilbab ala kadarnya (hanya menutup rambut, tidak menutupi dada, dan seterusnya). Serta tidak akan sama, kadar pahala seorang muslim atau muslimah yang bersedekah dengan sedekah yang banyak (dibarengi niat ikhlas) dengan yang bersedekah apa adanya (tidak dibarengi niat ikhlas dan terpaksa, padahal dia mampu memberi lebih).

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar Rahman : 60)

****

Saudaraku seiman, jangan sampai kita terjangkit penyakit “yang penting kan”. Penyakit ini bisa lebih parah daripada kanker, karena dapat mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Sebagian orang menyanggah dengan perkataan, “Hargailah prosesnya untuk menjadi sholih”. Ingat, proses menuju kesholihan jalannya hanya satu, yaitu yang sesuai Qur’an dan Sunnah. Tidak berlaku “Banyak jalan menuju Roma”, karena kita sedang menuju kesholihan, meraih ridho Allah Azza wa Jalla, bukan sedang ber-travelling menuju Roma. Banyak orang yang ingin mendapatkan kebaikan, namun ia ternyata sama sekali tidak mendapatkan apa – apa. Kenapa? Karena ia menempuh cara dan jalan yang salah.

“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS Al Furqan : 23)

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR Ad Darimi)

Semoga tulisan singkat ini menjadi pengingat bagi penulis maupun pembaca. Bahwa sesungguhnya telah ada tuntunan yang benar dari Qur’an dan Sunnah mengenai segala aspek kehidupan seorang muslim, termasuk perihal amal ibadah. Jangan mudah mengucapkan “yang penting kan”, karena bisa jadi kalimat inilah yang akan menjerumuskan kita kedalam neraka.

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS Al Ghasyiyah : 1-7)

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran : 31)

Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR At Tirmidzi)

Meraih ridho Allah Azza wa Jalla itu perlu pengorbanan, kegigihan, dan semangat untuk memperbaiki kualitas ibadah. Namun yakinlah, bahwa semuanya agar terbayar kontan kelak di yaumil akhir. Serta pastikan bahwa anda sedang berada di jalan yang benar untuk menuju surga-Nya. Wallahu a’lam bishowab

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Advertisements

Jagalah Mimpi Anda Pergi Ke Baitullah

mathaf-expansionBismillah. Para pembaca yang disayangi Allah Azza wa Jalla, beberapa hari ini kita diramaikan dengan berita liputan haji, baik di TV, radio, dan koran. Mulai dari proses manasik, jelang keberangkatan, hingga kedatangan di tanah suci. Tak hanya itu saja, di beberapa berita juga diangkat kisah – kisah inspiratif tentang orang – orang yang dianggap “tidak mampu” pergi ke tanah suci, tetapi pada kenyataannya Allah Azza wa Jalla takdirkan yang berbeda. Tatkala Allah Azza wa Jalla yang berkehendak, maka segalanya bisa terjadi. Seperti yang saya pernah lihat berita tentang seorang pedagang gula aren, penjual gorengan, penjaja krupuk, dan masih banyak lagi, yang berkesempatan untuk pergi haji tahun ini. Ah Subhanallah, betapa takdir Allah Azza wa Jalla indah sekali.

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah.” (QS Al-Baqarah: 196)

Mimpi pergi ke Baitullah, baik dalam rangka haji maupun umroh, harus selalu kita pelihara dengan keikhlasan, menyiramnya dengan ikhtiar dan tawakal agar ia tumbuh besar dan menjadi kenyataan. Saya akan mulai membahas tentang haji terlebih dahulu. Seperti tulisan saya sebelumnya, penting bagi kita mengetahui keutamaan sebuah amal ibadah. Haji merupakan salah satu rukun Islam, yang wajib dilakukan bagi mereka yang mampu baik secara materi maupun non materi.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari)

Haji merupakan amalan paling afdhol, sebagaimana hadits :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Bukhari)

Bahkan jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasannya adalah surga.

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga. (HR Bukhari dan Muslim). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim)

Dengan demikian, sangat jelas bahwa setiap muslim harus memiliki niat untuk menunaikan ibadah haji. Walaupun dihadapkan dengan persoalan mahalnya biaya dan daftar tunggu haji yang lama, tapi kita tidak boleh mengubur niat pergi haji. Karena sesungguhnya pergi haji bukan tentang hitung – hitungan uang dan waktu, tetapi tentang siapa yang Allah Azza wa Jalla undang. Allah Azza wa Jalla tidak mengundang yang mampu pergi haji, namun Dia Ta’alaa mampukan siapa yang Dia Ta’alaa undang. Sering kita temui, seseorang yang kaya raya, banyak harta, sehat lahir batin, namun Allah Azza wa Jalla belum berkehendak mengundangnya ke baitullah. Namun seorang penjual krupuk keliling, tua renta, yang penghasilannya hanya 20ribu sehari, Allah Azza wa Jalla mampukan ia dan Allah Azza wa Jalla undang ia untuk pergi haji ke baitullah. Masya Allah.

Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun : “Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah” (QS Yasin : 82)

Ajaib memang, ibadah haji bisa dilaksanakan bagi mereka yg mendapat taufik dan memiliki keikhlasan. Ada yang punya harta, tetapi tidak punya waktu dan kesehatan tubuh. Ada yang sehat dan punya waktu tetapi tidak punya harta. Ada yang punya waktu, uang dan kesehatan tetapi tidak segera menunaikan haji, baik karena menunda-nunda atau atau tidak ada keinginan sama sekali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Azaa wa jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, Aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghandiri undangan-Ku (naik haji, karena yang berhaji disebut tamu Allah, pent), maka sungguh dia orang yang benar-benar terhalangi (dari kebaikan)” (HR Ibnu Hibban)Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata,

sesungguhnya saya berkeinginan bisa mengutus sekelompok orang ke daerah-daerah. Mereka mencari orang yang punya kemampuan tetapi tidak pergi haji, menjatuhkan jizyah (upeti) kpeada mereka. Mereka (Yang semacam ini) bukanlah muslim, mereka bukanlah muslim.”  (HR Said bin Mashur)

Dalam riwayat yang lain,

Hendaknya mereka mati dalam keadaan yahudi atau nashrani –dikatakan tiga kali- seorang yang mati kemudian (sengaja) tidak berhaji, (padahal) ia mendapat keluasan (rezeki) dan kemudahan jalan.” (HR Baihaqi)

****

Kemudian umrah. Ada sebagian ulama yang menyebutkan umrah adalah haji kecil. Karena tata caranya sama dengan haji, hanya saja umrah tidak ada lempar jumrah dan wukuf di Arafah. Keutamaan umrah juga banyak sekali, diantaranya :

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR Ibnu Majah)

Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasai, Tirmidzi dan Ahmad)

Umrah bisa dilakukan kapan saja, beda dengan haji yang hanya dilakukan di bulan Dzulhijah. Pergi umrah juga memerlukan kesiapan materi dan non materi seperti haji. Tetapi sekali lagi saya ingatkan, kehendak Allah Azza wa Jalla jauh diatas hitungan manusia. Ditulisan kali ini, inti yang ingin penulis sampaikan adalah jagalah mimpi anda untuk pergi ke Baitullah, apakah itu untuk haji ataupun umrah. Bermimpi adalah awal menuju kenyataan. Bermimpi adalah kemampuan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Berapa banyak orang yang baru sekedar bermimpi saja, tidak bisa. “Ah kayaknya gak mungkin deh umrah apalagi haji”, demikian kata sebagian orang yang kurang keimanannya kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka lupa ada Allah Azza wa Jalla yang menguasai dan memiliki langit bumi beserta isinya.

Atau yang lebih parah adalah seorang muslim yang menempatkan mimpinya keluar negeri bukan ke Baitullah (Arab Saudi, Makkah dan Madinah), tapi malah ke Korea ingin ketemu artis K-Pop, ke Jepang ingin ke Gunung Fuji, Amerika Serikat ingin melihat patung Liberty, atau ke Perancis ingin melihat menara Eiffel. Na’udzubillah, semoga kita dijauhkan dari hal seperti ini.

Hal perlu anda lakukan sekarang adalah meniatkan untuk pergi ke baitullah (haji atau umroh, bahkan keduanya), kemudian ikhtiar dengan mencari rezeki serta menabung, lalu tawakal kepada Allah Azza wa Jalla dengan kesabaran dan doa. Lalu jagalah niat dan mimpi anda untuk pergi ke baitullah. Penulis doakan, semoga siapapun yang membaca tulisan ini, Allah Azza wa Jalla undang dan mampukan untuk pergi ke baitullah di saat yang tepat. Tekadkan dalam hati, minimal sekali dalam seumur hidup, kita bisa pergi ke baitullah. Sholat di masjid nabawi, ziarah ke makam Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, mengunjungi Raudhoh, tawaf dan sholat di masjidil haram, Sa’i antara shofa dan warwah, melempar jumrah di mina, dan wukuf di arafah. Rasakan pengalaman spiritual yang luar biasa ketika berkunjung ke tanah suci dan tidak sedikit pula seseorang yang telah berkunjung ke baitullah mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Ta’alaa untuk menjadi muslim yang sejati. Walhamdulillah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Pentingnya Mengetahui Keutamaan Sebuah Ibadah (Studi Kasus Sholat Wajib)

berwudhu_20131120_173507Bismillah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad. Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa, beberapa hari lalu ada yang menyapa saya di BBM. Seorang pemuda sepertinya (diihat dari DP), entah berasal darimana. Dia bercerita kepada saya, bahwa  dirinya sudah lama tidak sholat wajib. Alasannya sederhana : malas. Saya terkejut membaca chat-nya, begitu mudah sekali meninggalkan ibadah yang paling agung dalam Islam dengan alasan bodoh (bagi saya, bukan sederhana) : malas.

“Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling afdhol?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Terus apa?” “Berbakti pada orang tua“, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  “Lalu apa lagi”, aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah“, jawab beliau. (HR Bukhari dan Muslim)

“Aku mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau ada sungai yang mengalir di pintu rumah salah seorang dari kalian kemudian dia pun mandi di sungai tersebut 5 kali dalam sehari semalam, apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?” Para sahabat berkata, “Tidak akan tersisa sedikit pun dari kotoran di tubuhnya.” Rasulullah bersabda, “Demikianlah perumpamaan shalat 5 waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapuskan dosa-dosa dengan shalat 5 waktu tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah kamu tau keutamaan sholat wajib? Dia menjawab, tidak tau. Lalu saya coba bujuk dia untuk  mencari tau keutamaan sholat. Saya suruh pemuda tersebut mencari di internet saja agar mudah dan cepat, melalui mesin pencari yufid.com. Sepertinya dia menuruti saran saya, lalu menyampaikan kepada saya beberapa hadits keutamaan – keutamaan sholat wajib :

Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR Ahmad)

Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah. Karena engkau tidaklah sujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan akan menghapuskan satu kesalahan.” (HR Muslim)

Shalat adalah cahaya. (HR Muslim)

Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan ke masjid dalam keadaan gelap bahwasanya kelak ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

“Tidaklah seorang muslim didatangi shalat fardlu, lalu dia membaguskan wudlunya dan khusyu’nya dan shalatnya, melainkan itu menjadi penebus dosa-dosanya terdahulu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu (berlaku) pada sepanjang zaman.” (HR Muslim)

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR Muslim)

Dan firman Allah Ta’alaa…

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat (QS Al Baqarah: 45)

*****

Lalu dia mengatakan, “Ternyata banyak yah keutamaan sholat ustadz”. Membacanya, perasaan dihati saya campur aduk. Jengkel, kesel, sedih, namun juga bahagia karena akhirnya dia mengetahui apa saja keutamaan sholat wajib. Kemudian saya katakan kembali kepadanya, “Nah sekarang kan udah tau keutamaan apa aja yang kita dapat kalo melaksanakan sholat. Sekarang coba cari lagi, keburukan apa aja yang kita dapat kalo tidak melaksanakan sholat”. Dan sekali lagi pemuda ini menurut, ia mencari tau apa yang akan didapatkan tatkala meninggalkan sholat wajib lima waktu. Tak berapa lama kemudian, dia menulis :

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian”(QS Al Mudatstsir : 38-47)

(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)

Barangsiapa meninggalkan shalat yang wajib dengan sengaja, maka janji Allah terlepas darinya. (HR Ahmad)

Dan perkataan ulama salaf…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah)

Setelah itu saya bertanya kepadanya, “Jadi gimana? Masih gak mau sholat?”. Agak lama chat BBM saya tidak dibalas, saya tidak tau mengapa. Hingga sekitar lima menit kemudian dia menjawab, “Ustadz saya baru selesai sholat Dzuhur”. Alhamdulillah… Ternyata setelah mengetahui kebaikan apa yang didapat ketika mengerjakan sholat, serta keburukan apa yang akan didapat tatkala meninggalkan sholat, dia menjadi kembali kepada kebenaran. Kini saya tengah membimbing pemuda ini, agar dirinya bisa istiqomah sholat wajib lima waktu. Agar tidak hanya ‘yang penting’ sholat, maksudnya jangan sampai caranya sholat tidak sesuai sunnah dan tidak sholat berjama’ah di masjid.

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR Ad Darimi)

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR Bukhari)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku'”(QS Al Baqarah : 43)

Shalat jama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR Bukhari dan Muslim)

“Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

*****

Para pembaca yang disayangi Allah Ta’alaa, apa hikmah yang bisa kita petik dari cerita saya diatas? Bahwa betapa pentingnya mengetahui keutamaan sebuah ibadah dan amal sholih yang telah disampaikan Allah Ta’alaa melalui Rasululllah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Jangan sampai kita mengerjakan ibadah dan amal sholih tanpa mengetahui apa keutamaan yang kita dapat, atau apa keburukan yang akan kita dapat ketika meninggalkannya (seperti sholat wajib). Beribadah dan melakukan amal sholih tanpa mengetahui keutamaannya, akan menyebabkan pelakunya merasa hampa ketika mengerjakan ibadah atau amal sholih tersebut. Sebaliknya apabila dia mengetahui keutamaan – keutamaannya, akan menambahkan semangat, keseriusan, kekhusyu’annya dalam mengerjakan ibadah maupun amal sholih. Apalagi jika ditambah tentang pengetahuan keburukan apa yang akan didapat ketika meninggalkannya, insya Allah hal ini akan membuat seseorang selalu dalam semangat fastabiqul khoirot. Jadi kalau anda malas ketika hendak melakukan ibadah wajib maupun sunnah, segera ingat keutamaan apa yang anda dapat. Dan keburukan apa yang akan anda dapat ketika meninggalkannya.

Jadi marilah kita mempelajari tentang keutamaan sebuah ibadah dan amal sholih yang diajarkan dalam Islam. Maka cara satu – satunya untuk mengetahuinya adalah dengan menuntut ilmu; menghadiri majelis ilmu; membaca buku; bertanya kepada ustadz; dan lain sebagainya. Semoga kita termasuk golongan orang – orang yang selalu dalam petunjuk-Nya, diberikan hidayah oleh Allah Ta’alaa untuk mengetahui mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang baik, mana yang sunnah mana yang bid’ah.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Jika Nanti Aku Tidak Ada Di Surga…

tolong1Sebuah hadits menggetarkan hati dan tubuh saya malam ini…

Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits yang panjang, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang syafaat di hari kiamat :

Setelah orang – orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah  untuk  memperjuangkan hak saudara – saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. 

mereka memohon : “Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab : “Keluarkan (dari neraka) orang – orang yang kalian kenal”. Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. 

Kemudian orang mukmin itu menghadap kembali kepada Allah, : “Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk diazab dari neraka, sudah tidak tersisa”

Allah berfirman, “Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar”. Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. 

Kemudian mereka menghadap kembali : “Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorang pun orang yang Engkau perintahkan untuk diazab…” (HR Muslim)

Maka memahami hadits ini, Imam Hasan Al Bashri rahimahullah menaseharkan, “Perbanyaklah berteman dengan orang – orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat”

Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah rahimahullah menasehatkan pula kepada teman – temannya, “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan : “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau. Masukkanlah bersama kami di Surga-Mu”. Kemudian beliau menangis…

*****

Para pembaca yang semoga Allah Rahmati, apa yang anda rasakan setelah membaca hadits dan nasehat dari para ulama diatas? Tak mampu lagi diri ini berucap apapun selain hanya tetesan air mata yang berbicara. Hadits diatas mengingatkan kita tentang beberapa hal – hal penting, yaitu pertama, keimanan. Iman merupakan syarat seseorang masuk surga. Yakni mengakui Allah Azza wa Jalla sebagai satu – satunya sesembahan yang berhak untuk disembah serta mengakui Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Kedua, ukhuwah islamiyah. Persaudaraan diatas dinul Islam dan mencintai karena Allah, bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk menyelamatkan saudaranya seiman di akhirat kelak. Ketiga, berteman dengan orang – orang sholeh. Ini adalah kombinasi dari poin kedua sebelumnya. Maka perbanyaklah berteman, berkumpul, beribadah, bersama orang – orang sholeh. Seperti yang telah disampaikan oleh Imam Hasan Al Bashri rahimahullah diatas, mereka memiliki syafaat kelak di hari akhir.

Bayangkan, betapa beruntungnya dan bahagianya seseorang yang memiliki banyak teman orang – orang sholeh. Yang mengingatkan untuk sholat berjama’ah di masjid, mengajari tilawah Al Qur’an, mengajak menghadiri majelis ilmu, dan menasehati kita tatkala hendak berbuat maksiat. Namun… betapa ruginya dan sedihnya apabila seseorang banyak bergaul dan berteman dengan orang orang yang ahli maksiat. Mengajak ke klub malam untuk menenggak minuman – minuman haram, mengkonsumsi narkoba, mengajak zina, membuat kita sering tertawa (maka matilah hati akibat banyak tertawa), mengajak pacaran, dan aktifitas maksiat lainnya, na’udzubillah. Sekarang, pilihannya ada di tangan anda. Hendak bergaul dengan siapakah diri anda?

Terakhir, saya ingin menyampaikan pesan kepada para pembaca semua. Apabila, nantinya saya tidak berada di Surga, dan anda ada di dalam Surga bersama orang – orang sholeh lainnya, maka datanglah kepada Allah. Sampaikan kebaikan – kebaikan yang pernah saya lakukan kepada anda, atau anda mengetahui kebaikan- kebaikan yang saya lakukan selama hidup di dunia. Semoga Allah Azza wa Jalla lantas mengizinkan anda untuk mengeluarkan saya dari neraka. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Ujian adalah Sahabat Kehidupan

ujian hidupAda selentingan komentar seperti ini, “Kalo gak mau dapat ujian, ya gak usah hidup aja”. Apakah anda setuju dengan statement itu? Apa pun jawaban anda, sadarilah bahwa sudah bagian dari takdir manusia akan  bertemu ujian dalam hidupnya. Inilah bagian dari ketetapan Allah Azza wa Jalla bagi tiap hamba-Nya. Tak ada yang bisa menghindar tatkala Allah Azza wa Jalla memutuskan sebuah ketetapan. Termasuk menetapkan bahwa memang dunia ini adalah medan ujian serta medan perjuangan untuk menghadapi ujian tersebut.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan” (QS Al-Anbiyaa’ : 35)

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup,supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk : 1-2)

Anda perlu tau, selain karena sudah bagian dari  ketetapan Allah Azza wa Jalla, sebenarnya kita manusia adalah makhluk yang selalu mencari ujian. Karena kita ingin mencapai derajat yang lebih tinggi dari manusia biasa, yaitu menjadi manusia yang lebih baik dihadapan-Nya. Mau masuk SMP, harus ujian kelulusan tingkat SD dahulu. Mau menjadi PNS, harus ikut ujian seleksi CPNS, dan contoh – contoh lainnya. “Tapi kan itu ujian yang sudah kita rencanakan untuk dihadapi”. Betul, nah jika demikian permasalahannya adalah cara pandang dan cara kita menyikapi setiap permasalahan yang ada dihadapan kita, apakah itu terencana ataupun datang dengan tiba – tiba.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-‘Ankabuut : 2)

Namun kita tidak bisa memungkiri, manusia selalu punya batas kapasitas. Termasuk kapasitas dalam menerima, menghadapi, dan memperjuangkan ujian serta bersabar. Karena sesungguhnya kapasitas diri kita yang terbatas dalam memasukkan besaran dari kesabaran dalam hati, sedangkan kesabaran itu sesungguhnya tak bertepi. Bagi anda yang merasa dalam hidup ini terus menerus mendapati ujian, maka itulah yang pernah dirasakan oleh seorang Imam besar sekelas Imam Syafii. Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

مِحَنُ الزَّمَانِ كَثِيْرةٌ لاَ تَنْقَضِي … وَسُرُوْرُهَا يَأْتِيْكَ كَالْأَعْيَادِ

“Cobaan zaman banyak tidak habis-habisnya…
Dan kegembiraan zaman mendatangimu (sesekali) seperti sesekalinya hari raya”
Bahkan terkadang ujian datang bertubi-tubi dan bertumpuk-tumpuk. Imam Syafi’i rahimahullah juga berkata :

تَأْتِي الْمَكَارِهُ حِيْنَ تَأْتِي جُمْلَةً … وَأَرَى السُّرُوْرَ يَجِيْءُ فِي الْفَلَتَاتِ

“Hal-hal yang dibenci tatkala datang bertumpuk-tumpuk…
Dan aku melihat kegembiraan datang sesekali”

Di tulisan kali ini, saya akan mencoba menyampaikan firman dan janji Allah Azza wa Jalla, sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam, serta nasihat para ulama dalam menghadapi ujian kehidupan.

  • Sabar adalah jawaban dari setiap soal ujian kehidupan

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqoroh : 155)

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga). (QS. Az Zumar: 10)

  • Ujian adalah cara Allah Azza wa Jalla untuk menghadiahkan surga. Dan pertolongan Allah Azza wa Jalla dalam tiap ujian itu sangat dekat.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS Al-Baqoroh : 214)

  • Semakin tinggi iman dan ilmu seseorang, maka semakin banyak ujian yang akan ia hadapi. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang paling sholeh dan seterusnya. Seseorang diuji berdasarkan agamanya, jika agamanya kuat maka semakin keras ujiannya, dan jika agamanya lemah maka ia diuji berdasarkan agamanya. Dan ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga meninggalkan sang hamba berjalan di atas bumi tanpa ada sebuah dosapun” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 143)

  • Hadirnya ujian akan disertai dengan kecintaan dari Allah Azza wa Jalla.

“Jika Allah mencintai sebuah kaum maka Allah akan menguji mereka” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 146)

  • Berprasangka baiklah kepada Allah Azza wa Jalla terhadap ujian yang Dia berikan.

“Dan boleh jadi kalian membeci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian” (QS Al-Baqoroh : 216)

  • Ujian meninggikan derajat seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.” (Al Istiqomah)

  • Ujian adalah salah satu tanda dari kesempurnaan iman seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap orang mukmin yang sempurna imannya.” (Qo’idah fil Mahabbah)

Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.” (Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir)

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir)

Semoga apa yang saya hadirkan di tulisan kali ini mampu menjadi oase bagi anda yang sedang menghadapi gersangnya ujian kehidupan. Saya hadirkan kebenaran dari Al Qur’an dan Al Hadits semata – mata ingin menunjukkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya agama kita tidak akan memberi ujian tanpa jawaban. Mudah – mudahan ini semua menjadi pengingat bagi diri penulis pribadi dan anda semua yang membaca tulisan ini. Serta menambah keimanan dan ketaqwaan kita dalam mempersiapkan bekal menuju akhirat kelak. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?

maharAda suatu hal yang lagi nge-trend ditengah – tengah kaum muslimin di Indonesia. Apakah hal tersebut? Yaitu dijadikannya hafalan Al Qur’an sebagai mahar. Salah satu surah dalam Al Qur’an yang favorit dijadikan mahar itu adalah surah Ar Rahman. Entahlah mengapa, hingga saat ini saya belum ada menemukan dalil baik dari Al Qur’an dan Sunnah yang mengkhususkan mahar hafalan Al Qur’an berupa surah Ar Rahman. Namun dari beberapa orang yang saya tanya, surah Ar Rahman menjadi favorit dijadikan mahar karena keunikannya, yaitu ada satu kalimat yang diulang – ulang beberapa kali, yaitu :

Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukadziban : Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?”

Secara arti serta makna, ayat diatas sangat indah dan memang sangat unik karena diulang sebanyak 31 kali dalam surah Ar Rahman (mohon koreksi jika salah). Namun sebenarnya tidak ada kaitannya langsung kepada pernikahan. Terlepas ada yang mengatakan bahwa pernikahan adalah salah satu bentuk nikmat yang Allah Ta’alaa berikan kepada hmba – hamba-Nya. Wallahu a’lam bishowab. Namun saya ingin memfokuskan kepada pertanyaan, bolehkah hafalan Al Qur’an dijadikan mahar?

Memang ada hadits yang menyebutkan bahwa hafalan Al Qur’an dijadikan mahar.  Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa teks hadits itu secara ekplisit memang menyebutkan bahwa mahar itu berupa hafalan Al-Quran. Sehingga wajar kalau tidak sedikit orang yang memahami bahwa mahar itu boleh berupa hafalan Al-Quran. Lengkapnya hadits itu sebagai berikut :


عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: ياَرَسُولَ اللهِ إِنّيِ وَهَبْتُ نَفْسِي لَكَ. فَقَامَتْ قِيَامًا طَوِيْلاً. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَارَسُولَ اللهِ زَوِّجْنِيْهَا إِنْ لَـمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَة. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ تُصْدِقُهَا اِيَّاهُ؟ فَقَالَ: مَا عِنْدِيْ اِلاَّ اِزَارِيْ هذَا. فَقَالَ النَّبِيُّ اِنْ اَعْطَيْتَهَا اِزَارَكَ جَلَسْتَ لاَ اِزَارَ لَكَ فَالْتَمِسْ شَيْئًا. فَقَالَ: مَا اَجِدُ شَيْئًا. فَقَالَ: اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ. فَالْتَمَسَ فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ : هَلْ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ شَيْئٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. سُوْرَةُ كَذَا وَسُوْرَةُ كَذَا لِسُوَرٍ يُسَمِّيْهَا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ : قَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ

Dari Sahal bin Sa’ad bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam didatangi seorang wanita yang berkata,”Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu”, Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata,” Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya”. Rasulullah berkata,” Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? dia berkata, “Tidak kecuali hanya sarungku ini” Nabi menjawab,”bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu”. Dia berkata,” aku tidak mendapatkan sesuatupun”. Rasulullah berkata, ” Carilah walau cincin dari besi”. Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi,” Apakah kamu menghafal qur’an?”. Dia menjawab,”Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi,”Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur’anmu” (HR Bukhari Muslim).

Secara zahir kalau ada orang berpendapat bolehnya mahar berupa hafalan Al-Quran, memang tidak bisa dipungkiri dan wajar. Namun bukan rahasia lagi bahwa dalam menarik kesimpulan hukum kita menemukan pendapat-pendapat yang berbeda, meski tetap mengacu kepada dalil yang sama. Sebagian ulama memandang bahwa hakikat mahar itu adalah pemberian yang berupa harta, berapa pun nilainya. Sedangkan kalau hanya berupa hafalan ayat Al-Quran, meski zahir nashnya demikian, namun tetap harus dipahami dengan benar sebagaimana maksudnya.

a. Mahar Adalah Pemberian

Seorang calon suami boleh saja merasa dirinya sudah menjadi hafidz (penghafal) Al-Quran. Tetapi hafalan yang ada di kepalanya bukanlah sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain.

Bila mahar berupa hafalan Al-Quran, justru melanggar pengertian mahar itu sendiri. Karena mahar itu pemberian dan hafalan Al-Quran tidak bisa diberikan. Sebab otak kita tidak bisa dicopykan hafalan Al-Quran seperti komputer.

b. Memahami Dalil Dengan Benar

Kalau harus berupa harta, lantas bagaimana dengan hadits di atas yang tegas menyebutkan mahar dengan hafalan Al-Quran?

Jawabnya bahwa hadits di atas harus dibaca dengan utuh dan tidak boleh dipakai sepotong-sepotong. Hadits di atas memang menceritakan bagaimana Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan atau membolehkan laki-laki itu memberi mahar berupa hafalan Al-Quran. Tetapi kalau dilihat secara seksama, sebenarnya ada proses sebelumnya. Tidak ujug-ujug beliau bilang begitu.

Awalnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar mahar berupa harta, tetapi karena laki-laki itu terlalu miskin, beliau Sholallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan harta dengan nilai yang amat kecil, hanya berupa cincin dari besi. Namun sudah dicari dan diupayakan, ternyata tetap tidak didapat juga, akhirnya apaboleh buat, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilahkan maharnya berupa hafalan ayat Al-Quran.

Kesimpulannya, kalaupun mau bayar mahar dengan hafalan Al-Quran, maka posisinya harus diletakkan pada pilihan terakhir, setelah mengupayakan memberi harta meski cuma sedikit pun tidak punya. Jangan ujug-ujung langsung mahar berupa hafalan Al-Quran.

c. Memahami Hadits Dengan Mengaitkan Kepada Hadits Lain

Menarik kesimpulan hukum secara terburu-buru dengan menggunakan sepotong dalil adalah sebuah keteledoran. Seorang faqih dan mujtahid wajib menggunakan semua hadits dan tidak boleh hanya berdalil dengan sepotong hadits.

Sebab bila kita hanya menggunakan hadits ini saja, tanpa melihat dan membandingkan dengan sekian banyak hadits dan dalil-dalil syar’i lainnya, kita jadi orang yang memakai dalil sepotong-sepotong. Dan memakai dalil sepotong-sepotong itu bukan perbuatan terpuji. Bahkan para ahli kitab di masa lalu dilaknat Allah karena salah satunya karena mereka menggunakan kitab secara sepotong-sepotong. Dan Al-Quran sendiri mempertanyakan tindakan ini sebagai tindakan yang keliru.

Maka selain hadit di atas, kita juga harus melihat hadits lainnya tentang mahar dan nilainya di masa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam. Rasululah Sholallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah bayar mahar pakai bacaan atau hafalan Al-Quran. Padahal beliau adalah oran yang paling tinggi derajatnya dalam hafalan Al-Quran.

Tetapi mahar beliau kepada para istrinya tetap berupa harta. Kepada Khadijah radhiyallahuanha diriwayatkan maharnya berupa 10 atau 100 ekor unta. Kepada Aisyah dan lainnya berupa uang sebanyak 500 dirham perak.

كَانَ صِدَاقُهُ لأَزْوَاجِهِ ثِنْتَى عَشْرَةَ أوْقِيَةً وَنَشًّا قَالَ: قَالَتْ: أتَدْرِى مَا النَّشُّ ؟. قَالَ: قُلْتُ: لاَ! قَالَتْ: نِصْفُ أوْقِيَةٍ ؛ فَتِلْكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ. فَهَذَا صِدَاقُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَزْوَاجِهِ.

Aisyah berkata,”Mahar Rasulullah kepada para isteri beliau adalah 12 Uqiyah dan satu nasy”. Aisyah berkata,”Tahukah engkau apakah nash itu?”. Abdur Rahman berkata,”Tidak”. Aisyah berkata,”Setengah Uuqiyah”. Jadi semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah saw kepada para isteri beliau. (HR Muslim)

Di masa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam, uang 1 dinar emas bisa untuk membeli seekor kambing sebagaimana hadits Urwah Al-Bariqi. Dan perbandingan nilai dirham dengan dinar berkisar antara 1 : 10 hingga 1 : 12. Maksudnya, satu dinar di masa itu setara dengan 10 hingga 12 dihram.

Jadi kalau mahar Rasululah Sholallahu ‘alaihi wa sallam itu 500 dirham, berarti dengan uang itu kira-kira bisa untuk membeli kurang lebih 41 ekor kambing. Tinggal kita hitung saja berapa harga kambing saat ini. Anggaplah misalnya sejuta rupiah per-ekor, maka kurang lebih nilai 500 dirham itu 40-an juta rupiah.

d. Bukan Memamerkan Hafalan Tetapi Mengajarkan

Dan hadits di atas juga harus disesuaikan dengan hadits lainnya yang menjelaskan. Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِنْطَلِقْ لَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ اْلقُرْآنِ

Dan dalam riwyat lain oleh Muslim : Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah, sungguh aku telah menikahkan kamu dengannya, maka ajarilah dia dengan Al-Qur’an”.

Maka yang dijadikan mahar bukan pameran hafalan Al-Quran di majelis akad nikah, melainkan berupa ‘jasa’ untuk mengajarkan Al-Quran berikut dengan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.

Dan kita dapati dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa jumlah ayat yang diajarkannya itu adalah 20 ayat.

Kesimpulan

Kalau yang dimaksud bahwa mahar hafalan Al-Quran itu sekedar memamerkan hafalan Al-Quran, nampaknya masih agak jauh dari makna dan maksud mahar yang sesungguhnya. Namun kalau yang dimaksud adalah dengan hafalannya itu seorang suami mengajarkan Al-Quran, maka jasa mengajar itu adalah salah satu wujud harta juga. Dan bukankah mahar Nabi Musa ‘alaihissalam kepada istrinya berupa jasa juga. Jasa yang dimaksud adalah jasa menggembala kambing selama 10 tahun lamanya. Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat dan pencerahan kepada siapa pun yang membaca.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Bulan Syawal : Bulan Konsolidasi

bungaAlhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat. Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna. Salah satu kebaikan tersebut yang baru saja kita rasakan beberapa hari lalu adalah berjumpa dengan hari raya ‘Iedl Fitr 1 syawal 1435 H. Setelah satu bulan lamanya kita menunaikan shaum ramadhan, maka selanjutnya ialah merayakan hari kemenangan. Mumpung masih dalam suasana ‘Iedl Fitr, saya ingin mengucapkan taqobalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah mengarungi bulan ramadhan dan berjumpa bulan syawwal. Serta semoga kita termasuk golongan orang – orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda :

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni. (HR Bukhari dan Muslim)

****

Saudaraku seiman, momentum ‘Iedl Fitr dan bulan syawal seharusnya tidak hanya kita maknai dengan sekedar seremonial belaka; bermaaf – maafan, silaturahim, bagi – bagi angpao dan THR, baju baru, dan lainnya. Lebih dari itu semua, sesungguhnya bulan syawal ini adalah bulan yang tepat untuk melakukan konsolidasi pribadi kita. Mengapa? Karena sebelumnya kita telah menempa diri dalam sebuah madrasah iman yang bernama Ramadhan. Maka selanjutnya adalah kita harus mengaplikasikan, menkonsolidasikan, serta mensinergikan apa yang kita dapat di Bulan Ramadhan lalu. Oleh sebab itu saya ingin menyampaikan apa saja yang harus kita konsolidasikan di bulan syawal ini untuk menuju bulan – bulan selanjutnya.

1. Konsolidasi Iman dan Taqwa.

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS Al Baqarah : 103)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah : 186)

Dua firman Allah Azza wa Jalla diatas haruslah terpatri dalam qolbu kita. Dalam ayat 103 Surah Al Baqarah, betapa jelasnya bahwa iman dan taqwa adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk meraih pahala dari Allah Azza wa Jalla. Ketika seseorang telah mendapatkan pahala dari-Nya, berarti Allah Azza wa Jalla telah ridho atas keimanan dan ketakwaannya. Apalagi yang kita cari di dunia ini selain ridho dan limpahan pahala dari Allah Azza wa Jalla? Di Bulan Ramadhan lalu adalah masa terbaik untuk menumbuh suburkan keimanan dan ketakwaan. Maka merugilah mereka yang menyia – nyiakan Bulan Ramadhan lalu tanpa adanya kebertumbuhan atas keimanan dan ketakwaan mereka. Karena mereka harus sadar dan tau, bahwa tidak ada yang menjamin mereka akan berjumpa kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Padahal sudah jelas pula dalam surah yang sama di ayat 186, Allah Azza wa Jalla menjelaskan untuk meraih ketakwaan tersebut di Bulan Ramadhan adalah dengan berpuasa. Jadi beruntunglah bagi mereka yang telah berpuasa (tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus), memperbanyak ibadah dan amal sholih, serta memaksimalkan 10 hari terakhir bulan ramadhan. Lalu apa korelasinya dengan bulan syawal?

Bulan syawwal adalah ujian pertama bagi keimanan dan ketaqwaan seseorang. Apakah ia mampu menjaga Ghiroh (semangat) beribadah dan beramal sholih seperti di Bulan Ramadhan atau tidak. Bulan Syawal adalah cermin keberhasilan Ramadhan. Bagi yang berhasil, keimanan dan ketaqwaan mereka akan berada dalam lintasan keistiqomahan. Namun bagi yang setengah – setengah atau malah gagal, keimanan dan ketaqwaan mereka akan diwarnai oleh kefuturan.  Puasa sunnah enam hari di Bulan Syawal adalah salah satu tesnya. Bagi yang ghiroh ibadahnya terjaga, niscaya tak ada rasa malas untuk menunaikan amalan sunnah yang memiliki ganjaran amat luas.

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh. (HR Muslim)

Mari kita jadikan Bulan Syawal ini sebagai masa konsolidasi iman dan taqwa dengan cara terus mengasah keikhlasan dan sikap ittiba’. Insya Allah dengan ikhlas dan ittiba’, ghiroh ibadah dan amal sholih kita akan terus terjaga. Apalagi jika dibarengi dengan menghadiri majelis – majelis ilmu serta berkumpul bersama orang – orang sholih. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

****

2. Konsolidasi Ukhuwah Islamiyah

Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya. (HR Muslim)

Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Mulim)

Penulis yakin saat ‘Iedl Fitr lalu, para pembaca banyak bersilaturahim ke rumah – rumah tetangga, keluarga, kerabat, dan lainnya. Mengunjungi rumah – rumah atau bersilaturahim sudah menjadi tradisi di negera kita tatkala ‘Iedl Fitr. Padahal silaturahim mengunjungi rumah tetangga, saudara, kerabat bisa kita lakukan kapan pun, tidak harus kita khususkan hanya pada saat ‘Iedl Fitr. Sebab silaturahim merupakan amal sholih yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam kepada umatnya.

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi. (HR Bukhari dan Muslim)

Kesempatan untuk bersilaturahim ini harus kita manfaatkan pula sebagai bentuk konsolidasi ukhuwah islamiyah. Mempererat rasa mencintai sesama muslim dan saling tolong menolong. Dengan mengunjungi rumah tetangga, saudara, atau kerabat, kita dapat mengetahui keadaan mereka, keadaan keluarga mereka, keadaan ekonomoi mereka. Sangat berbeda tatkala kita tak pernah bersilaturahim, kita hanya akan berpikir semuanya baik – baik saja, padahal kenyataannya mungkin berbeda. Semoga amal sholih silaturahim ini mampu menyambung tali ukhuwah islamiyah yang mengendur atau bahkan terputus antara kita dengan saudara – saudara seiman lainnya. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

****

3. Konsolidasi Cinta

…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…” (QS Al Maidah : 54)

Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah (seperti perhiasan) dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS Al Hujuraat : 7)

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah Rahimahullah berkata: “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kebaikan bagi hati manusia kecuali (setelah) dia menjadikan Allah (sebagai) sembahannya satu-satunya, puncak dari tujuannya dan Zat yang paling dicintainya melebihi segala sesuatu (yang ada di dunia ini).” (Kitab Igaatsatul lahfaan min masha-yidisy syaithaan). Bulan Syawal ini adalah saatnya kita memusabah diri, siapakah yang sebenarnya kita cintai dalam hidup ini? Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah Rahimahullah diatas, Allah Azza wa Jalla adalah Dzat yang patut kita cintai melebihi apa pun. Inilah puncak tertinggi dalam cinta. Momentum ‘Iedl Fitr dan Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk mengkonsolidasikan cinta kita, bahwa cinta kita hanya pantas untuk diberikan kepada Allah Azza wa Jalla. Berapa banyak orang yang kecewa tatkala cintanya ia berikan kepada makhluk atau harta? Berapa banyak seorang akhwat menangis sedih tatkala cintanya bertepuk sebelah tangan kepada seorang ikhwan? Berapa banyak ikhwan yang berputus asa ketika cintanya ditolak oleh seorang akhwat yang ia idam – idamkan? Berapa banyak manusia yang menjadi stres bahkan gila ketika hartanya hilang? Kita harus menyadari, saat cinta kita berikan selain kepada Allah Azza wa Jalla, maka pilihannya hanya satu, yaitu kecewa. Maka me-reset ulang tatanan mahabbah harus kita lakukan ketika ada rasa kecewa menghampiri. Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan bagi kita untuk mencintai-Nya dan Dia mencintai kita juga. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Celanaku Diatas Mata Kaki

tipe-model-jenis-celana-jogger-pria
Lihatlah gambar diatas. Bagaimana pendapat anda terhadap seseorang (khusus laki – laki) yang memakai celana diatas mata kakinya alias ‘cingkrang’? Jika mengacu pada gambar diatas, tentulah akan terlihat keren. Celana jogger pada tahun lalu sempat booming di dunia, termasuk di Indonesia. Mulai kalangan masyarakat bawah hingga atas, banyak menggunakan celana jogger sebagai pilihan fashion pada saat itu. Namun bagaimana kesan anda jika gambarnya seperti dibawah ini?

anti-isbal1

Kesannya kuno dan tidak gaul. Bahkan terkadang langsung dicap sebagai ekstrimis atau Muslim radikal. Ya begitulah yang terjadi tatkala saya memutuskan untuk memakai celana diatas mata kaki. Ada yang menertawakan bahkan mengejek, namun tak sedikit pula menjabat tangan saya seraya mengucapkan, “Barokallahu fiikum yaa akhi, semoga istiqomah”. Mungkin sebagian besar dari anda bertanya – tanya, memangnya ada apa sih sama celana diatas mata kaki? Emangnya salah kalo pake celana sampe melebihi mata kaki? Mari kita bahas dalam tulisan ini. Namun sebelumnya, saya ingin mengingatkan kembali sebuah firman Allah Azza wa Jalla berikut ini. Agar anda tidak beralasan dengan logika ketika mengetahui pembahasan di tulisan kali ini.

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan : “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa) : “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”  (QS Al Baqarah : 285)

Memanjangkan kain hingga melebihi mata kaki dalam Islam disebut Isbal. Perkara ini ditujukan untuk laki – laki saat menggunakan celana, sarung, atau kain lainnya. Islam membuktikan kesempurnaannya, hingga mengatur tentang tata cara berpakaian. Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang hukum isbal, diantaranya :

Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR Bukhari)

Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’. Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya’. ”. (HR Bukhari Muslim)

Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena sombong. Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta-ronta karena tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi”. (HR Bukhari)

Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR Bukhari)

Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR Muslim)

Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’” (HR Ibnu Majah)

Hadits – hadits shohih diatas menjelaskan tentang dilarangnya menggunakan celana hingga melebihi mata kaki apalagi hingga menyentuh tanah bagi laki – laki (untuk wanita tidak apa – apa). Bagi saya, idak perlu penafsiran apa pun, apalagi menggunakan logika dalam memahami hadits – hadits diatas, karena sudah jelas dari sisi konteks kata – kata.

Walaupun ada juga yang mengatakan bahwa tidak apa – apa memakai celana hingga dibawah mata kaki, asal tidak sombong dan ingin dipuji. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip kehati – hatian dalam Islam, karena apakah kita bisa menjamin diri kita sendiri tidak sombong setiap saat?

Sebenarnya permasalahan laki – laki muslim saat ini adalah bukan masalah menolak hadits – hadits tentang isbal, namun lebih kepada masalah gaya dan kepantasan. Pastilah akan terlihat aneh bahkan lucu menggunakan celana diatas mata kaki. Apalagi jika tidak ditunjang dengan baju dan alas kaki yang matching. Selain itu juga tentu akan terlihat asing diantara orang – orang lain yang mengenakan celana (mayoritas) dibawah mata kaki alias isbal, rerutama saat berada di kantor dan pusat perbelanjaan.

Tak perlu malu atau gengsi untuk mengenakan celana diatas mata kaki. Apalah arti ejekan, hinaan, cacian manusia dibandingkan dengan kebaikan yang akan kita raih disebabkan mentaati Allah dan Rasul-Nya? Berat memang untuk dilakukan, tapi beginilah yang telah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam. Maka janganlah diabaikan, lakukanlah sekarang juga. Demi Allah, ini bukan ajaran teroris, tetapi ini adalah ajaran agama kita, Islam, dan Islam bukan agama teroris, melainkan agama yang penuh dengan kasih sayang. Kemudian jangan takut pula untuk terlihat asing. Perhatikan hadits berikut ini :

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR Muslim)

Jangan pikirkan orang lain suka atau tidak, tetapi pikirkanlah apakah Allah dan Rasul-Nya suka atau tidak. Itu jauh lebih penting dan lebih mulia. Namun pada akhirnya, hidayah adalah milik Allah Azza wa Jalla. Jikalau anda saat ini belum bisa untuk anti isbal, saya mendoakan semoga Allah segera melunakkan hati anda, membuka mata hati anda untuk menerima kebenaran yang telah disampaikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com untuk bertanya.

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Bimbel Qur’an Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Kisah Cinta Salman Al Farisi

daun_keringBa’da maghrib tadi saya disapa oleh salah satu murid tahsin saya (semoga Allah Ta’ala mencintainya) melalui Whatsapp. Ternyata dia baru saja membaca salah satu tulisan di blog saya, yaitu Cinta Dalam Diam . Dalam tulisan tersebut, ada kalimat “…tapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi…?”. Ternyata kalimat ini membuat dirinya penasaran, memangnya seperti apakah kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu? Karena selama ini cerita yang banyak disampaikan adalah tentang kisah cinta Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu berserta dengan Fatimah Az Zahra Radhiallahu’anha. Sedangkan kisah cinta tentang Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu jarang sekali diangkat. Oleh karena ini, insya Allahu Ta’ala ditulisan kali ini saya akan menceritakan kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu.

***

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah seorang pemuda dari Persia. Dia adalah mantan budak di Isfahan, sebuah daerah di Persia. Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang spesial. Dia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekkah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin dalam perang Khandaq. Dua puluh empat ribu pasukan musuh dibuat porak – poranda. Berkat parit yang diusulkan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu disertai pertolongan Allah Ta’alaa yang mendatangkan angin topan. Musuh – musuh agama Allah Ta’alaa itu pulang dengan tangan hampa. Hati mereka kecewa karena kalah. Sejak itu nama Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu makin bersinar di kalangan sahabat.

Kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu terjadi ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin hijrah menuju kota Madinah. Di kota inilah Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu berniat untuk menggenapkan separuh agamanya. Diam – diam Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu menaruh perasaan cinta kepada seorang wanita muslimah Madinah nan sholihah (dari kalangan Anshar). Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita tersebut. Hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hati Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu ketika hendak melamar, yaitu dia merasa “asing”. Artinya dia tidak mengetahui bagaimanakah adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah? Bagaimana tradisi Anshar saat mengkhitbah wanita? Demikian yang dipikirkan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu. Dia tak tahu menahu mengenai budaya di kota yang baru ini. Tentu saja tak bisa sembarangan tiba – tiba datang mengkhitbah wanita tanpa persiapan matang.

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu pun kemudian mendatangi seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah, yaitu Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya. Mendengar cerita sahabatnya tersebut, Abu Darda’ Radhiallahu’anhu pun begitu girang. “Subhanallah wa Alhamdulillah”, ujarnya begitu senang mendengar sahabatnya berencana untuk menikah. Ia pun memeluk Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu dan bersedia membantu dan mendukungnya. Tak ada perasaan ragu, canggung, atau bahkan menolak dalam diri seorang Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Inilah kesempatan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu untuk membantu saudara seimannya. Betapa indahnya ukhuwah islamiyah.

Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR Muslim)

Drama dimulai…

Setelah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu, Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Keduanya begitu gembira selama perjalanan. Setiba di rumah wanita sholihah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah, dalam hal ini adalah orang tua wanita Anshar tersebut. Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman Al Farisi dari Persia yang telah berhijrah ke Madinah karena Allah dan Rasul-Nya. Allah telah memuliakan Salman Al Farisi dengan Islam. Salman Al Farisi juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai ahlul bait (keluarga) nya”, ujar Abu Darda’ Radhiallahu’anhu menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih. “Saya datang mewakili saudara saya, Salman Al Farisi, untuk melamar putri anda”, lanjut Abu Darda’ Radhiallahu’anhu kepada wali si wanita, menjelaskan maksud kedatangan mereka. 

Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat”, ujar ayah si wanita. Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putri. “Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami”, ujarnya kepada Abu Darda’ Radhiallahu’anhu dan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu.

***

Sang ayah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada dibalik hijab. Rupanya, putrinya telah mendengar percakapan ayahya dengan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Wanita muslimah tersebut ternyata juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya, Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu. Berdebar jantung Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu menunggu jawaban dari balik hijab, gelisah Abu Darda’ Radhiallahu’anhu menatap wajah ayah si gadis. Maka segalanya menjadi jelas dan terang ketika terdengar suara lemah lembut keibuan, ternyata sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu. Mewakili sang putri, ibundanya pun berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang”, ujarnya membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda’ Radhiallahu’anhum tegang menanti jawaban. Merupakan sifat yang manusiawi, karena Salman Al Farisi dan Abu Darda’ Radhiallahu’anhum hanyalah manusia biasa juga seperti kita. Maka perasaan tegang, deg – degan dan gelisah pun menyeruak dalam diri mereka.

Sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya, “Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama seperti Salman” kata ibu si wanita sholihah idaman Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu. Wanita yang dia idam – idamkan untuk menjadi istrinya, wanita yang karenanya ia meminta bantuan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu untuk membantu pinangannya, namun justru wanita itu memilih Abu Darda’ Radhiallahu’anhu, untuk menjadi calon suaminya. Padahal Abu Darda’ Radhiallahu’anhu hanya sekedar menemani dan membantu Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu untuk mengkhitbah. Namun ternyata takdir Allah Ta’ala berkehendak lain. Cinta bertepuk sebelah tangan, bunga – bunga cinta yang selama ini dijaga dan akan diberikan kepada sang wanita idaman pun layu. Tetapi itulah ketetapan Allah menjadi rahasia-Nya, yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah Ta’alaa; mati kita, rizki kita, dan jodoh kita. Semuanya penuh tanda tanya besar bagi manusia.

Jika seperti pria pada umumnya, maka hati Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu pasti hancur berkeping – keping. Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun bagaimanakah dengan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu? Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu merupakan pria sholih, taat, dan seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru menjawab, “Allahu Akbar!”, seru Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu girang. Tak hanya itu, Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan akan aku berikan kepada Abu Darda’. Aku juga akan menjadi saksi pernikahan kalian”, ujar Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu dengan kelapangan hati yang begitu hebat. 

***

Allahu Akbar…

Inilah sebuah contoh kisah cinta sejati karena Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sebuah kisah yang pantas untuk dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya. Sebuah kisah yang memperlihatkan kepada kita betapa ukhuwah islamiyah serta kecintaan kepada saudara seiman dan se-aqidah, akan mengalahkan ego diri sendiri. Tentunya apa yang diperlihatkan oleh Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah bentuk pengamalan sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam :

Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR Bukhari)

Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah sosok lelaki sholih, pejuang Islam, yang ketika masa kejayaan Islam, ketika banyak timbunan harta negara di baitul maal yang berlimpah ruah, ketika peluang jabatan – jabatan pemerintahan terbuka lebar, dia memilih menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang untuk dijualnya, padahal dia diberikan tunjangan oleh negara empat sampai enam ribu dirham setahun, tetapi semuanya disumbangkan habis, satu dirhampun tidak diambil untuk dirinya dan keluarganya

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu. Ia begitu faham bahwa cinta, betapa pun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ Radhiallahu’anhu telah dipersaudarakan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya. Semoga kita bisa meneladani sosok Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu dan berdoa agar kelak berjumpa dengannya beserta Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga-Nya yang tertinggi. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Kiat – Kiat Menuntut Ilmu Dari Imam Syafi’i

teruslah-menuntut-ilmu

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Luqman : 27)

Ikhwah Fillah,

Imam As-Syafi’i menyampaikan nasihat kepada muridnya. “Akhi, kalian tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara ini, akan aku kabarkan kepadamu secara terperinci yaitu dzakaa-un (kecerdasan), hirsun (semangat), ijtihaadun (cita-cita yang tinggi), bulghatun (bekal), mulazamatul ustadzi (duduk dalam majelis bersama ustadz), tuuluzzamani (waktu yang panjang).”

Berikut keterangan masing-masing:

  • Dzakaa-un (kecerdasan). Ulama membagi kecerdasan menjadi dua yaitu : yang pertama, muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Seseorang meskipun dalam majelis tidak mencatat tetapi dia bisa mengingat dan menghafalnya dengan baik dan bisa menyampaikan kepada orang lain dengan baik. Jenis kecerdasan ini harus diasah agar dapat bermanfaat lebih banyak untuk dirinya dan orang lain. Yang kedua adalah kecerdasan yang didapat dengan usaha (muktasab) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dan lain – lain.

 

  • Hirsun yaitu perhatian dan semangat dengan apa yang disampaikan gurunya. Sekaligus berupaya mengulang pelajarannya.

 

  • Ijtihaadun. Ulama menafsirkan ijtihaadun adalah al himmatul ‘aliyah yaitu semangat atau cita-cita yang tinggi. Seseorang hendaknya memaksa diri untuk mencari ilmu dengan semangat mewujudkan cita-cita demi agamanya.

 

  • Bulghatun / dzat / bekal. Dalam menuntut ilmu tentu butuh bekal, tidak mungkin menuntut ilmu tanpa bekal. Contoh para imam, Imam Malik menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu. Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh ke berbagai negara untuk mencari ilmu. Beliau janji kepada Imam Syafi’i untuk bertemu di Mesir akan tetapi beliau tidak bisa ke Mesir karena tidak ada bekal. Seseorang untuk mendapat ilmu harus berkorban waktu, harta bahkan terkadang nyawa.

 

  • Mulazamatul ustadzi. Seseorang harus duduk dalam majelis ilmu bersama ustadz. Tidak menjadikan buku sebagai satu-satunya guru. Dalam mempelajari sebuah buku kita membutuhkan bimbingan guru. Hendaknya menggabungkan antara bermajelis ilmu dengan guru, juga banyak membaca buku.

 

  • Tuuluz-zamani, dalam menuntut ilmu butuh waktu yang lama. Tidak mungkin didapatkan seorang da’i / ulama hanya karena daurah beberapa bulan saja. Al-Baihaqi berkata : ”Ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengan kita meluangkan waktu”Al Qadhi iyadh ditanya : sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu? Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

 

Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS Al Mujadalah : 11)

Sesungguhnya keutaman orang yang berilmu diatas orang yang beribadah bagaikan pancaran sinar bulan purnama di atas pancaran sinar bintang-bintang (HR Ahmad)

 “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu sebagai bentuk ridho atas yang telah dilakukan dan seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan memintakan ampunan kepada seorang penuntut ilmu, begitu juga ikan yang ada di tengah-tengah laut” 

(HR Ahmad)

Mau silaturahim dan ngobrol dengan saya? Silahkan follow twitter @adefahrizal / HP dan WhatsApp 082116061831 / BBM 29EEE7F0 / email adefahrizal@gmail.com

Bergabunglah menjadi donatur tetap #SedekahMakanSantri Penghafal Qur’an : https://adefahrizal24.wordpress.com/gerakan-sedekah-makansiangberkah/