Author: Ade Fahrizal

Aku Menangis, Saat Tilawah Al Qur’an Atau Mendengar Musik?

menangis quran

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata :

“Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan Al Qur’an kepada anda sementara Al Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS An Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits diatas memberikan pelajaran kepada kita, untuk memiliki rasa senang dan menikmati bacaan Al Qur’an yang dibacakan oleh orang lain. Apalagi orang tersebut memiliki kualitas bacaan Al Qur’an yang tartil dan fasih, ditambah suaranya yang merdu, tentu akan semakin membuat siapa pun yang mendengarnya hanyut dalam keagungan firman-Nya. Kini sangat mudah kita temukan, bacaan tilawah Al Qur’an dalam bentuk file mp3 atau juga di Youtube, dari para syeikh, ustadz, maupun qori’.

Mari kita jawab dengan jujur, pernahkah kita menangis tatkala mendengarkan bacaan ayat Al Qur’an? Atau menangis ketika kita membaca ayat Al Qur’an? Continue reading “Aku Menangis, Saat Tilawah Al Qur’an Atau Mendengar Musik?”

Kami Muslim dan Kami Tidak Minum Miras (Khamr)

miras_20160515_194153

Dikutip dari koran-sindo.com, Kepala Kejaksaan Negeri Bandung, Dwi Hartanta, menyatakan bahwa dari laporan tindak pidana kejahatan yang diproses, 55% diantaranya dipicu dari minuman keras (miras). Artinya para pelaku mengawali dengan meminum miras sehingga memicu terjadinya aksi kriminalitas. Pernyataan Dwi tersebut perlu menjadi perhatian serius dari masyarakat luas terkait bahaya miras. Ada indikasi kuat bahwa bahaya miras sangat erat dengan tindakan kriminal. Kita tentu juga masih ingat, kejadian yang menimpa seorang anak bernama Yuyun di Bengkulu. Ia diperkosa hingga tewas oleh 14 teman laki – lakinya setelah mereka menenggak miras sebelum melakukan perbuatan bejat itu. Maka nampaknya tidak salah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berikut ini :

“Khamr itu adalah induk keburukan. Siapa saja yang meminumnya, Allah tidak menerima shalatnya 40 hari. Jika ia mati dan khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliyah.” (HR Ath Thabrani, Ad Daraquthni, Al Qadhaiy)

Hadits diatas jelas tak terbantahkan sesuai dengan fakta yang terjadi di ranah penindakan hukum kita. Miras telah menjadi ancaman serius bagi keamanan masyarakat. Pengkonsumsi miras sangat rentan melakukan tindakan kriminal karena meminum miras adalah perbuatan setan. Benarkah Continue reading “Kami Muslim dan Kami Tidak Minum Miras (Khamr)”

Inilah Filosofi Keimanan Saya, Pak…

catur

Dalam sebuah perkuliahan, dosen saya mengajukan pertanyaan yang dimaksudkan untuk melatih cara berpikir filosofis kami sebagai mahasiswa dalam menyikapi sesuatu, khususnya yang berkaitan dengan Islam. 

“Anda pasti sudah tau semua tentang dalil Qur’an dan Sunnah mengenai keutamaan sedekah. Diantara keutamaan sedekah ialah tidak berkurangnyaharta dan justru akan Allah ganti dengan yang lebih baik dan banyak. Nah saya ingin mengajak anda untuk berpikir filosofis, seberapa besar keyakinan anda terhadap kebenaran dalil tersebut?”, tanya dosen saya kepada kami.

Sejenak keadaan kelas hening. Hingga akhirnya seorang teman saya, sebut saja Tuti, mengangkat tangan untuk menyampaikan buah pikiran dan tanggapannya terhadap pertanyaan sang dosen.

“Oh itu betul sekali pak, saya tidak ragu. Karena saya sudah mengalaminya, harta yang saya sedehkan diganti Allah dengan berlipat – lipat. Bahkan anak saya yang tadinya sedang sakit, langsung sembuh setelah saya sedekah. Alhamdulillah”, jelas Tuti dengan antusias. Continue reading “Inilah Filosofi Keimanan Saya, Pak…”

Tuma’ninah : Rukun Sholat Yang Sering Diabaikan

Pernahkah anda menyaksikan sholat secepat ini? Atau justru anda pernah melakukannya? Saya berhusnudzhon anda tidak pernah melakukannya. Kalaupun ada yang pernah melakukannya dan masih melakukannya hingga sekarang, berarti anda sedang mendapatkan hidayah dari Allah saat ini, yaitu dipertemukan dengan tulisan saya. Sengaja saya tampilkan video tersebut diawal tulisan sebagai intro dari pokok pembahasan yang ingin saya sampaikan kali ini.

Sejujurnya saya sangat sedih melihat masih adanya kaum muslimin yang sholat dengan “kecepatan tinggi”. Di bulan ramadhan tahun lalu pun ada sebuah video shalat tarawih yang katanya tercepat di dunia, karena dengan jumlah rakaat sebanyak 23 tapi hanya dikerjakan dalam waktu 7 menit. Video ini pun lantas menjadi viral di media sosial dan menjadi bahan candaan oleh sebagian masyarakat. Ironis sekali rasanya, sholat sebagai ibadah agung yang kelak yaumul hisab akan menjadi amalan pertama akan ditanyakan kepada seorang hamba Allah, justru menjadi bahan main – main. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Continue reading “Tuma’ninah : Rukun Sholat Yang Sering Diabaikan”

Berislam Dalam Berlalu Lintas

lalu-lintas

Lembaga kesehatan dunia dibawah naungan PBB, World Health Organization (WHO) merilis The Global Report on Road Safety menampilkan angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang tahun 2015 di 180 negara. Dalam rilis tersebut, terungkap fakta bahwa Indonesia menjadi negara ketiga di Asia, di bawah Cina dan India, dengan total 38.279 total kematian akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2015.

Meskipun Indonesia secara data menduduki peringkat ketiga, namun dilihat dari presentase statistik dari jumlah populasi, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan angka kematian 0,015 persen dari jumlah populasi, sedangkan Cina dengan presentase 0,018 persen dan India 0,017 persen.

WHO juga merilis data bahwa regulasi lalu lintas di Indonesia tidak begitu tegas mengatur tentang praktik mengatur kecepatan dalam berkendara, mengemudi di saat mabuk, memakai helm, penggunaan sabuk pengaman, dan keamanan anak selama berkendara. Hal – hal itulah yang akhirnya menjadi penyebab tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Continue reading “Berislam Dalam Berlalu Lintas”

Gara – Gara Kencing Kena Siksa Kubur?

kencing

Dalam beberapa waktu, saya tak sengaja menjumpai orang yang buang air kecil (kencing) tidak pada tempat yang seharusnya. Tentulah tempat untuk kencing itu di kamar mandi; yang tertutup dan ada air untuk menyiram dan membersihkan (cebok). Tapi sayangnya ada saja yang kencing di sembarangan tempat, semisal dibalik pohon, tembok, bahkan tak jarang ditanah lapang. Pelakunya paling sering laki – laki dan saya tak terlalu paham ada alasan mereka untuk kencing di sembarangan tempat. Saya berbaik sangka, mungkin sudah tidak “tahan” lagi alias kebelet.

Tapi terbetik dalam pikiran saya, bagaimana mereka membersihkan sisa air seni (maaf) di kemaluannya? Kemudian berarti air seninya pun tak disiram dan membekas di pohon, tempok, atau tanah? Yang pasti akan menimbulkan bau tak sedap jika ada orang lain melewatinya. Mungkin ada diantara anda yang melihat juga, orang yang kencing tidak pada tempatnya ini bisa dipastikan tidak membuka celananya dengan sempurna (mungkin karena ditempat terbuka itu). Maka logikanya, ada kemungkinan air seni bisa mengenai celana dalam kadar yang sedikit maupun banyak. Tidakkah mereka mengetahui bahwa air seni itu najis?

Ketahuilah bahwasanya dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni. Diriwayatkan pula oleh Al Hakim, “Kebanyakan siksa kubur gara-gara (bekas) kencing.” Sanad hadits ini shahih.

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa dalam perkara besar. Adapun yang pertama tidak menjaga dari percikan kencing dan yang kedua berjalan di muka bumi dengan namimah.” Kemudian beliu mengambil pelepah kurma basah dan membelah menjadi dua lalu beliau menancapkan pada setiap kuburan satu pelepah kurma.” Mereka berkata “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan itu?” Beliau bersabda, “Mudah-mudahkan diringankan (siksa kubur) dari keduanya, selagi (pelepah kurma itu) belum kering.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Qatadah berkata, “Sesungguhnya (mayoritas siksa kubur berasal dari tiga perkara: ghibah, namimah dan kencing”.

Sebagian ulama menyingkap alasan, kenapa mayoritas siksa kubur disebabkan percikan kencing, namimah atau ghibah. Karena kuburan adalah rintangan pertama kali akhirat dan di dalamnya terdapat berbagai macam kejadian sebagai rentetan peristiwa yang akan terjadi setelah Hari Kiamat, baik berupa siksa atau pahala.

Nampaknya hal sepele perkara kencing, namun jika kita tidak hati – hati maka siksa kubur menanti, Allahul musta’an. Oleh sebab itu, setelah kita membaca hadits diatas dan penjelasan ulama, sudah selayaknya untuk lebih memperhatikan cara kencing kita. Sebisa mungkin kita ikhtiarkan kencing di kamar mandi, lalu menyiram dan membersihkan. Jangan dibiasakan untuk menunggu kencing hingga kebelat.

Jika sudah terasa au kencing, maka segeralah mencari kamar mandi, jangan ditunda – tunda. Bagi yang diperjalanan, silahkan berhenti sejenak di rest area, minimarket, atau masjid untuk mencari kamar mandi. Silahkan buang air kecil dengan memastikan agar celana anda tidak kena percikan air kencing, lalu bersihkan kemaluan anda dari sisa air seni, dan siramlah air seni anda di kloset atau toilet. 

Kemudian pasti akan ada yang bertanya, bagaimana jika kencing sambil berdiri? Misalnya di hanya ada kloset berdiri. Mari kita simak penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berikut ini : 

Tidak apa-apa kencing sambil berdiri apabila hal itu memang dibutuhkan, dengan syarat, tempatnya tertutup sehingga tidak ada orang lain yang melihat auratnya serta tidak terkena percikan air seninya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan menuju ujung tempat pembuangan sampah suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri. (Disepakati keshahihannya. HR. Al-Bukhari dalam al-Wudhu’ ; Muslim dalam ath-Thaharah).

Namun demikian, lebih baik dilakukan dengan duduk atau jongkok, karena seperti itulah yang mayoritas dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dengan tetap menutup aurat dan hati-hati agar tidak terkena percikan air seni, sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan dari jalan Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata : 

“Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam buang air kecil sambil berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk.” (HR. At Tirmizi dan An Nasai)

Maka hadits ini menunjukkan bahwa di rumah Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah kencing berdiri. Maka penafian Aisyah di sini hanya sebatas pengetahuan beliau, sementara Huzaifah telah menetapkan bahwa beliau kencing dalam keadaan berdiri. Pendapat bolehnya kencing berdiri merupakan pendapat sekelompok sahabat di antaranya: Umar, Huzaifah, Zaid bin Tsabit, Ali, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Urwah.

Sebelum menutup tulisan ini, ada hikmah fundamental yang harus kita petik dari tulisan sederhana yang ditulis oleh seoarang fakir ilmu. Ketahuilah bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan tidak ada cacat sedikit pun didalamnya. Urusan kencing saja tak luput dari perhatian Rasulullah sebagai bukti bahwa segala aspek dalam kehidupan ini, telah ada contoh pada dirinya yang mulia. Kita pun harus ingat, diantara konsekuensi seorang muslim dari kalimat syahadatnya ialah menjalankan sunnah – sunnah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dengan sepenuh hati demi keselamatan di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com untuk bertanya.

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Bimbel Qur’an Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Perbanyak Berdoa di Bulan Ramadhan

stones-64429_640

Alhamdulillah hari ini tepat kita berjumpa dengan 1 Ramadhan 1437 Hijriah. Tentu kita sangat bersyukur bisa kembali bertemu dengan bulan suci ini, karena di bulan suci inilah rahmat serta keberkahan dari Allah Azza wa Jalla kepada hamba – hamba-Nya dilipatgandakan. Oleh sebab itu, kita terpacu untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita; mulai dari ibadah wajib dan sunnah.

Satu diantara banyak amal ibadah tersebut, adalah doa. Doa termasuk ibadah, sebagaimana hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Doa adalah ibadah” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ahmad)

Sehingga apabila kita melakukannya dengan ikhlas dan ittiba’ (sebagai dua syarat diterimanya sebuah ibadah oleh Allah Azza wa Jalla), maka sudah barang tentu kita akan mendapatkan rahmat dan pahala dari Allah Azza wa Jalla.

Sudah terlalu banyak ayat – ayat Al Qur’an yang berisi perintah Allah Azza wa Jalla kepada kita, untuk berdoa kepada-Nya. Diantaranya :

“Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu’. (QS Al Mukmin : 60)

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. (QS Al A’raf: 55

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah : 186)

Sahabatku, tahukah kamu bahwa ada tiga waktu utama terkabulnya doa di bulan Ramadhan? Kapan sajakah?

1- Waktu sahur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

2- Saat berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273)

3- Ketika berbuka puasa

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa doa mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Dari penjelasan diatas, maka jangan sampai kita terlalaikan dari waktu – waktu mustajab tersebut di bulan ramadhan ini. Optimalkan di tiga waktu itu untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla, menyampaikan segala keluh kesah, permohonan, keingingan, harapan, cita – cita yang kita inginkan. Sejarah emas Islam mencatat bahwasanya kemenangan terbesar umat ini pada Perang Badr terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya 2 tahun setelah hijrah. Dan itu tentu saja tidak lepas dari sebab munajat dan doa kepada Rabbul ‘Aalamiin. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mengisahkan :

 

“Sungguh aku melihat kami pada malam (perang) Badr, di mana tidak ada satu pun di antara kami melainkan ia tertidur, kecuali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau sholat menghadap pohon dan berdoaa (kepada Allah) sampai subuh…” [Hadist Shahih, riwayat Ahmad no. 1161]

Dan kita tahu bahwa keeseokan harinya, Allah menjawab doa tersebut dengan menurunkan ribuan bala tentara Malaikat untuk menolong kaum muslimin yang berjumlah sedikit dan lemah waktu itu. Ini adalah salah satu bukti, betapa dahsyatnya doa di bulan yang suci ini.

Mereka yang dekat dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, sangat memahami betapa Ramadhan adalah waktu yang istimewa untuk memanjatkan do’a tanpa rasa takut akan ditolak. Sambutlah waktu – waktu tersebut dengan sukacita, karena Allah Azza wa Jalla sedang membuka ‘line telephone’ bagi hamba – hamba-Nya untuk berkomunikasi. Sempatkanlah berdoa walaupun hanya satu kalimat, karena bisa jadi saat itulah doa kita akan dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla.

 

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Merindukan Waktu Diantara Adzan & Iqomah

menunggu qomat

Sering kali saya menyaksikan, banyak dari kaum muslimin menyia – nyiakan waktu ini; waktu diantara adzan dan iqomah. Mereka mengobrol dengan rekannya sembari ketawa – ketiwi (bahkan tak jarang menjurus ghibah) atau malah disibukkan ber-chatting ria dengan smartphone di genggaman tangannya. Entahlah, mengapa mereka melakukan hal – hal demikian yang tidak membawa faidah apapun. Apakah mereka tidak tau bahwa ada keutamaan di waktu antara adzan dan iqomah?

Melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepada kita semua kaum muslimin, jangan pernah menyia – nyiakan waktu diantara adzan dan iqomah. Malah seharusnya menjadi waktu yang kita rindukan dan kita kejar agar menjumpainya. Dalam sebuah hadits, Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu). (HR. Ahmad 3/155. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Inilah waktu yang bisa kita gunakan untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla. Seorang hamba, seberapapun mulia kedudukannya, ia tetaplah seorang hamba, maka hanya kepada Allah Azza wa Jalla ia mengiba, memohon pertolongan, memohon petunjuk dan memohon segalanya kepada Allah Azza wa Jalla. Bukankah kita mempunyai banyak keinginan dalam hidup ini? Lantas mengapa kita sia – siakan kesempatan terbaik untuk memohon kepada-Nya?

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mu’min : 60)

Merugilah mereka yang tidak memanfaatkan waktu diantara adzan dan iqomah! Karena mereka baru saja melewatkan sebuah waktu yang padanya terdapat keutamaan yang sangat luar biasa; waktu mustajab untuk berdoa. Seharusnya patut kita renungkan, disaat yang lapang saat adzan dan iqomah itu, justru kita harus optimalkan untuk berdoa; memohon ampun, memohon petunjuk, memohon kecukupan rezeki dan lainnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Jangan sampai ketika tiba sebuah hari yang tidak diperkenankan lagi untuk berdoa, bertaubat dan memohon ampun, kita baru akan berdoa. Inilah sebenarnya yang dinamakan kesia – siaan.

Selain berdoa, masih ada beberapa amalan yang bisa kita lakukan disaat waktu antara adzan dan iqomah, seperti shalat sunnah qobliyah, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lainnya. Sebenarnya point penting yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini bukan memilih amalan apa, namun jangan lewatkan waktu antara adzan dan iqomah dengan hal – hal yang tidak bermanfaat, yaitu yang tidak bernilai ibadah. Bukankah pekerjaan utama kita di dunia ini adalah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla? Sebagai wujud ketaqwaan kita, bekal di akhirat kelak, agar kita mendapatkan balasan terbaik yakni surga.

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat : 56)

“Berbekal-lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal.” (QS Al Baqarah : 197)

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan (QS As Sajdah : 19)

Dan bagi saya, berdoa adalah kebutuhan. Sehingga apabila datang waktu dimana saat tersebut adalah waktu mustajab untuk berdoa, maka jangan pernah menyia – nyiakannya. Karena kita tidak pernah tau, saat kapan doa kita akan didengar dan dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Bisa jadi saat tersebut adalah ketika waktu diantara adzan dan iqomah…

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Kabar Gembira Untukmu Yang Sedang Sakit

orang sakit

Saat ini di Indonesia (khususnya di Kota Bandung) sudah mulai memasuki musim penghujan. Setelah dilanda kemarau yang panjang, kini tanah di nusantara kembali merasakan guyuran rahmat Allah ta’alaa yaitu hujan. Sungai yang sempat surut, kini kembali berarus deras. Sawah yang sempat kering, kini kembali dialiri air. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tathimush sholihat (Segala puji bagi Allah ta’alaa, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna).

Namun ditengah nikmat Allah berupa hujan tersebut, kita harus bersiap atas segala kemungkinan yang bisa terjadi atas izin Allah ta’alaa. Musibah berupa banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan lainnya, kerap hadir saat musim penghujan tiba. Termasuk sakit yang bisa menyerang kita, seperti flu, demam, alergi, bahkan hingga demam berdarah, adalah penyakit – penyakit yang akrab di musim penghujan. Untuk itu kita harus selalu siap, siaga, dan waspada, baik terhadap lingkungan kita maupun diri sendiri.

Saya yakin, tidak ada seorang pun yang ingin sakit (termasuk saya). Namun apakah kita bisa menolak, ketika Allah ta’alaa menakdirkan kita untuk sakit?. Ketika sakit menyapa diri kita, sebagian besar manusia akan merasa tidak senang. Tubuh menjadi lemas dan pikiran  pun tak karuan. Makan tak nyaman, pikiran pun melayang. Namun bagi sebagian orang lainnya, sakit justru menjadi sebuah kabar gembira. Mengapa demikian? Karena dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata: “Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang berkunjung ke rumah Ummu Sa`ib atau Ummu Musayyab, maka beliau bertanya: “Ada apa denganmu wahai Ummu Sa`ib -atau Ummu Musayyab- sampai menggigil begitu?” Dia menjawab, “Demam! Semoga Allah tidak memberkahinya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu mencela penyakit demam, karena dia dapat menghilangkan kesalahan (dosa-dosa) anak Adam, seperti halnya kir (alat peniup atau penyala api) membersihkan karat-karat besi.” (HR Muslim)

Inilah kabar bahagia untukmu yang sedang sakit. Sebuah kabar yang datang dari manusia paling sempurna yang pernah ada di muka bumi ini, Rasulullah Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata sakit yang kita alami, adalah sebuah cara Allah ta’alaa menunjukkan kasih sayang-Nya, yaitu untuk menggugurkan dosa – dosa kita yang menumpuk. Bahkan sekedar tertusuk duri pun (duri mawar misalnya), sudah bisa menjadi jalan menggugurkan dosa kita. Allahu Akbar

Tersenyumlah wahai anak adam yang saat ini sedang sakit, tersenyumlah. Seberat apapun penyakit anda saat ini, separah apapun vonis menurut dokter, selalu ada kebaikan yang diselipkan oleh Allah ta’alaa melalui sakitmu. Bukankan pahala yang besar akan diraih melalui cobaan yang besar pula. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Imam Al Albani  dalam Shahih Sunan At Tirmidzi)

Kita akan bisa tersenyum dan tetap memilih untuk bahagia ketika sakit, tatkala kita mau untuk bersabar atas apa yang terjadi. Hanya dengan kesabaranlah, seberat apapun ujian, cobaan, penyakit yang kita hadapi, akan mampu kita hadapi dengan penuh keimanan. Allah ta’alaa berfirman di dalam Al Qur’an :

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar, diberikan pahala bagi mereka tanpa batas.” (QS Az Zumar : 10)

Serta yakinlah, bahwa setelah kesulitan yang kita hadapi tersebut, akan ada kebaikan – kebaikan yang hadir. Sebagaimana firman-Nya :

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah : 5-6)

Setelah hujan yang deras, akan muncul pelangi yang indah. Setelah malam yang gelap gulita, akan terbit mentari pagi yang cerah. Jangan pernah berburuk sangka atas segala takdir Allah ta’alaa yang terjadi, karena yang menurut kita buruk, belum tentu buruk juga dihadapan-Nya, namun sebaliknya yang menurut kita baik, belum tentu baik juga dihadapan-Nya.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah : 216)

Sakitmu adalah cinta-Nya untukmu. Sakitmu adalah cara-Nya agar dirimu lebih dekat dengan-Nya…

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan invite pin BBM 7B578D8D atau hubungi telpon / SMS / WA 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Sholat Wajib Tapi Bermakmum Kepada Orang Yang Sholat Sunnah

lokasi-masjid-istiqlal-jakarta

Lagi – lagi ditulisan kali ini, saya akan berbagi ilmu tentang sholat. Beberapa hari lalu, saya jalan – jalan dengan sahabat saya (semoga Allah mencintainya) di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung. Saat tiba di pusat perbelanjaan tersebut, waktu sholat dzuhur telah tiba. Sehingga kami memutuskan untuk segera mencari mushola atau masjid, untuk meraih keutamaan sholat di awal waktu.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya: Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau ulangi dua kali, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan urutan: Berbakti kepada orang tua, kemudian berjihad fi sabilillah.”

Yang dimaksud: “Shalat pada waktunya” adalah shalat di awal waktu, sebagaimana keterangan Ibnu Hajar, dimana beliau menukil keterangan Ibnu Battal ketika menjelaskan hadis di atas: Ibnu Battal mengatakan, “Dalam hadis ini disimpulkan bahwa menyegerakan shalat di awal waktunya itu lebih afdhal (utama) dari pada menundanya.” (Fathul Bari, 2:9)

Setelah menunaikan sholat dzuhur, saya lantas menunaikan sholat sunnah ba’diyah dzuhur.

Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.” (HR Bukhari)

Namun ketika saya sedang sholat sunnah ba’diyah dzuhur, tiba – tiba ada orang yang menepuk pundak kanan saya. Tepukan tersebut adalah sebuah kode untuk saya, bahwa orang tersebut bermakmum kepada saya. Tentu sholat yang orang itu maksudkan adalah sholat dzuhur, karena mungkin dia mengira saya sedang melaksanakan sholat dzuhur pula. Maka saya pun memahami kondisi seperti ini, dan lantas saya tetap melanjut sholat sunnah ba’diyah seperti biasa hingga salam. Lalu bagaimana dengan orang yang  bermakmum dengan saya? Dia pun tetap melanjutkan sholatnya.

Setelah dari mushola, kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berbelanja. Sambil menunggu makanan pesanan kami -lotek- datang, sahabat saya bertanya kepada saya. Ia ternyata melihat kejadian tadi di mushola, yaitu saat ada orang lain yang bermakmum sholat wajib kepada saya, tetapi sebenarnya saya sedang sholat sunnah ba’diyah. Ia menanyakan, apakah sah sholat wajib orang yang bermakmum tersebut? Lantas bagaimana penjelasan dari sisi fiqihnya? Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya tersebut, saya datangkan pendapat ulama Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berikut ini :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang melaksanakan shalat fardhu dengan makmum kepada orang yang mengerjakan shalat sunat?

Jawaban
Hukumnya sah, karena telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dalam suatu perjalanan beliau shalat dengan sekelompok para sahabatnya, yaitu shalat khauf dua raka’at, kemudian beliau shalat lagi dua raka’at dengan sekelompok lainnya, shalat beliau yang kedua adalah shalat sunat. Disebutkan juga dalam Ash-Shahihain, dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika ia telah mengerjakan shalat Isya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia pergi lalu mengimami shalat fardu kaummnya, shalat mereka adalah shalat fardhu, sedangkan shalat Mu’adz saat itu adalah shalat sunnat [1].

Wallahu walyut taufiq.

[Majalah Ad-Da’wah, edisi 1033, Syaikh Ibnu Baz]

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang mendapati orang lain sedang shalat sirriyah, ia tidak tahu apakah orang tersebut sedang shalat fardhu atau shalat sunat? Dan apa yang harus dilakukan oleh seorang imam yang ketika orang ini masuk masjid ia mendapatinya sedang shalat, apakah ia perlu memberi isyarat agar orang tersebut ikut dalam shalatnya jika ia shalat fardhu, atau menjauhkannya jika ia sedang shalat sunat?

Jawaban
Yang benar adalah, tidak masalah adanya perbedaan niat antara imam dengan makmum, seseorang boleh melaksanakan shalat fardhu dengan bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu setelah melaksanakan shalat Isya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pulang kepada kaumnya lalu shalat mengimami mereka shalat itu juga. Bagi Mu’adz itu adalah shalat sunat, sedangkan bagi kaumnya itu adalah shalat fardhu.

Jika seseorang masuk masjid, sementara anda sedang shalat fardhu atau shalat sunat, lalu ia berdiri bersama anda sehingga menjadi berjama’ah, maka itu tidak mengapa, anda tidak perlu memberinya isyarat agar tidak masuk, tapi ia dibiarkan masuk shalat berjama’ah bersama anda, dan setelah anda selesai ia berdiri menyempurnakannya, baik itu shalat fardhu ataupun shalat sunat.

[Mukhtar Min Fatawa Ash-Shalah, hal. 66-67, Syaikh Ibnu Utsaimin]

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apa hukum shalat sunat bermakmum kepada yang shalat fardhu?

Jawaban
Boleh, jika imam tersebut orang yang paling mengerti tentang kitabullah dan paling mengerti tentang hukum-hukum shalat. Demikian juga jika orang tersebut adalah imam rawatib di masjid tersebut, tapi ia telah mengerjakan shalat tersebut dengan berjama’ah, lalu ketika datang ke masjidnya, ternyata mereka belum shalat, maka ia boleh shalat bersama mereka.

Dalilnya adalah kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu yang mana ia mengimami kaumnya dari golongan Anshar karena ia merupakan orang yang paling mengerti tentang kitabullah dan paling mengerti tentang hukum-hukum, saat itu, ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Isya lalu shalat bersama beliau, kemudian kembali kepada kaumnya dan mengimami mereka shalat Isya [2]. Saat iti ia shalat sunat dan mereka shalat fardhu.

Sebagian ulama memakruhkan hal ini karena perbedaan niat antara imam dengan makmum, tapi yang benar hal ini dibolehkan karena adanya dalil yang jelas.

Wallahu ‘alm.

[Al-Lu’lu Al-Makin, Ibnu Jibrin, hal. 112-113]

Footnote
[1]. Al-Bukhari, kitab Adzan (700, 701), Muslim, kitab Ash-Shalah (465)
[2]. Al-Bukhari, kitab Adzan (700, 701), Muslim, kitab Ash-Shalah (465)

sumber

Inilah sedikit ilmu tentang permasalahan fiqih yang bisa saya hadirkan. Semoga ada ilmu dan manfaat yang bisa dipetik oleh para pembaca. Dan saya doakan, semoga Allah ta’alaa senantiasa memberikan kita kemudahan dan kesempatan untuk selalu menunaikan sholat wajib berjama’ah tepat waktu. Berikut ini juga saya hadirkan sebuah video sederhana terkait jama’ah masbuk.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan invite pin BBM 7B578D8D atau hubungi telpon / SMS / WA 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).