Kami Muslim dan Kami Tidak Minum Miras (Khamr)

miras_20160515_194153

Dikutip dari koran-sindo.com, Kepala Kejaksaan Negeri Bandung, Dwi Hartanta, menyatakan bahwa dari laporan tindak pidana kejahatan yang diproses, 55% diantaranya dipicu dari minuman keras (miras). Artinya para pelaku mengawali dengan meminum miras sehingga memicu terjadinya aksi kriminalitas. Pernyataan Dwi tersebut perlu menjadi perhatian serius dari masyarakat luas terkait bahaya miras. Ada indikasi kuat bahwa bahaya miras sangat erat dengan tindakan kriminal. Kita tentu juga masih ingat, kejadian yang menimpa seorang anak bernama Yuyun di Bengkulu. Ia diperkosa hingga tewas oleh 14 teman laki – lakinya setelah mereka menenggak miras sebelum melakukan perbuatan bejat itu. Maka nampaknya tidak salah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam berikut ini :

“Khamr itu adalah induk keburukan. Siapa saja yang meminumnya, Allah tidak menerima shalatnya 40 hari. Jika ia mati dan khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliyah.” (HR Ath Thabrani, Ad Daraquthni, Al Qadhaiy)

Hadits diatas jelas tak terbantahkan sesuai dengan fakta yang terjadi di ranah penindakan hukum kita. Miras telah menjadi ancaman serius bagi keamanan masyarakat. Pengkonsumsi miras sangat rentan melakukan tindakan kriminal karena meminum miras adalah perbuatan setan. Benarkah

Miras atau yang dikenal dalam Islam sebagai khamr, merupakan jenis minuman yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla untuk dikonsumsi oleh seorang muslim. Saya ingin menceritakan terlebih dahulu dalam proses pengharaman khamr oleh Allah Azza wa Jalla karena ada hal menarik yang patut kita ketahui.  Dalam QS An Nahl ayat 67, Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS An Nahl : 67)

Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla hanya memberi sinyal bahwa Dia telah memberi karunia kepada manusia berupa dua jenis pohon, yaitu kurma dan anggur. Dari kedua pohon tersebut, bisa menghasilkan khamr yang memabukkan dan dapat menghilangkan akal serta rezeki yang baik bagi kehidupan manusia. Dari sini belum ada hukum mengharamkan khamr, baru ‘kode’ Illahi bahwa dari tumbuhan anggur bisa dijadikan bahan untuk mabuk, tapi bisa juga dijadikan bahan yang bermanfaat.

wine

Dalam kitab Asbabun Nuzul menyatakan suatu riwayat bahwa ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam datang ke Madinah, beliau mendapati kaumnya suka minum arak dan makan dari hasil judi. Mereka bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam tentang hal itu (minum arak), maka turunlah QS Al-Baqarah ayat 219 :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS Al Baqarah : 219)

Disini mulai mengarah kepada khamr, bahwa khamr itu kerugiannya lebih besar dan ayat ini Allah Azza wa Jalla baru menunjukkan kerugiannya. Dilanjutkan pada QS An Nisaa ayat 43, Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS An Nisaa : 43)

Masih dalam kitab Asbabun Nuzul, ada suatu riwayat bahwa sahabat Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu pernah mengundang makan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan sahabat lainnya. Dalam jamuan tersebut, dihidangkan pula khamr  dan mereka meminumnya sehingga terganggu akal pikiran mereka. Ketika tiba waktu sholat, orang-orang menyuruh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjadi imam, dan ia membaca dengan keliru, “Qulyaa ayyuhal kaafiruun, laa a’budu maa ta’buduun, wa nahnu na’budu maa ta’budun” (katakanlah: “Hai orang-orang kafir; aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah).

Maka turunlah ayat QS An-Nisaa ayat 43 sebagai larangan sholat dalam keadaan mabuk. Disini sudah mulai terlihat bahwa minum khamr dilarang, tetapi hanya pada saat mau melakukan sholat. Sehingga dapat dikatakan dari ayat ini mulai ada pelarangan, tetapi masih dalam “uji coba” saja.

Hingga pada akhirnya, larangan meminum khamr pun turun. Dalam QS Al Maidah ayat 90 – 91 tercantum dengan jelas pernyataan larangan meminum khamr dengan alasan apapun karena termasuk dalam perbuatan setan yang pastilah buruk. Selain itu Allah Azza wa Jalla juga menyatakan jika dapat menjauhi khamr, maka akan mendapatkan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sholat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS Al Maidah 90 – 91)

Demikianlah proses Allah Azza wa Jalla mengharamkan khamr bagi seorang muslim, melalui sebuah proses yang panjang namun penuh dengan hikmah. Saya berpendapat, berdasarkan dari tahapan – tahapan pelarangan khamr oleh Allah Azza wa Jalla diatas, menunjukkan kesan bahwa manusia dan khamr dari zaman dahulu memang selalu dalam jarak yang dekat. Hingga pada akhirnya dengan proses yang bijaksana oleh Allah untuk memisahkan keduanya, walaupun pada faktanya tak semua manusia (termasuk muslim) dapat memisahkan dirinya dari khamr hingga saat ini.

miras di pati

Selain dari sisi agama bahwa khamr alias miras jelas dilarang oleh Allah, dapat dilihat juga dari sisi psikososial masyarakat. Peminum miras dapat menimbulkan ketidakkondusifan dalam masyarakat. Sering kita jumpai mereka biasanya cepat tersinggung, omongannya rancu, dan sering memaksakan kehendak. Sifat – sifat tersebut akhirnya membuat masyarakat menjauhi dan tidak mau bergaul dengan mereka untuk menghindari  hal – hal yang tidak diinginkan.

Kemudian jika kita berbicara hukum positif di Indonesia, dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP) menyatakan bahwa tindak pidana minuman keras diatur dalam Pasal 300 dan Pasal 536 antara lain bahwa :

Pasal 300 KUHP.

Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun atau denda sebanyak banyaknya Rp. 4.500 di hukum :
Barang siapa dengan sengaja menjual atau menyuruh minum-minuman yang memabukkan kepada seseorang yang telah kelihatan nyata mabuk; Barang siapa dengan sengaja membuat mabuk seorang anak yang umurnya di bawah 16 tahun; dan Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan dengan sengaja memaksa orang akan minum-minuman yang memabukkan.

2. Kalau perbuatan itu menyebabkan luka berat pada tubuh, sitersalah di hukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.

3. Kalau si tersalah melakukan kejahatan itu dalam jabatannya ia dapat dipecat dari pekerjaannya itu.

Dari sisi kesehatan pun miras tak ada manfaatnya. Dilansir dari beberapa sumber, miras bisa menyebabkan kecanduan yang luar biasa karena di dalam miras terkandung zat aditif. Apabila dikonsumsi secara kontinu, akan memicu kerusakan saraf otak yang mengakibatkan pengonsumsinya mudah hilang akalnya, kesetimbangan, dan indera perabanya akan semakin berkurang sensitivitasnya.

Tak hanya itu miras juga mampu memberikan efek yang buruk untuk kesehatan mental. Salah satunya adalah menurunnya fungsi dari otak, menurunkan kemampuan indera, meningkatkan resiko depresi dan frustasi, serta menyebabkan perubahan pola perilaku menjadi cenderung negatif.

Maka dapat kita simpulkan bahwa miras tidak mendapatkan tempat dalam agama, masyarakat, dan negara. Miras adalah musuh semua elemen masyarakat yang harus dilawan kehadirannya karena sama sekali tidak memberikan manfaat apapun. Kami muslim dan kami tidak minum miras.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian hanya di pin BBM 7B578D8D

Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com untuk bertanya.

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Bimbel Qur’an Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s