Inilah Filosofi Keimanan Saya, Pak…

catur

Dalam sebuah perkuliahan, dosen saya mengajukan pertanyaan yang dimaksudkan untuk melatih cara berpikir filosofis kami sebagai mahasiswa dalam menyikapi sesuatu, khususnya yang berkaitan dengan Islam. 

“Anda pasti sudah tau semua tentang dalil Qur’an dan Sunnah mengenai keutamaan sedekah. Diantara keutamaan sedekah ialah tidak berkurangnyaharta dan justru akan Allah ganti dengan yang lebih baik dan banyak. Nah saya ingin mengajak anda untuk berpikir filosofis, seberapa besar keyakinan anda terhadap kebenaran dalil tersebut?”, tanya dosen saya kepada kami.

Sejenak keadaan kelas hening. Hingga akhirnya seorang teman saya, sebut saja Tuti, mengangkat tangan untuk menyampaikan buah pikiran dan tanggapannya terhadap pertanyaan sang dosen.

“Oh itu betul sekali pak, saya tidak ragu. Karena saya sudah mengalaminya, harta yang saya sedehkan diganti Allah dengan berlipat – lipat. Bahkan anak saya yang tadinya sedang sakit, langsung sembuh setelah saya sedekah. Alhamdulillah”, jelas Tuti dengan antusias.

Dosen pun mengapresiasi jawaban Tuti, seraya memberikan kesempatan bagi mahasiswa lain yang ingin menyampaikan penjelasan juga. Seorang mahasiswa, sebut saja Doni, mengangkat tangan dan dosen pun memberikannya kesempatan untuk berargumen.

“Bagi saya pak, seberapa besar keyakinan saya kepada dalil tentang keutamaan sedekah adalah sebesar keyakinan saya kepada kebenaran setiap firman Allah dan hadits Rasulullah. Maksud saya, sebagai seorang muslim sudah barang tentu akan meyakini  setinggi – tingginya bahwa firman Allah itu benar dan hadits Rasulullah itu benar, karena hal tersebut merupakan bagian dari keimanan seorang muslim dan konsekuensi atas syahadat kita. Saya yakin, seluruh mahasiswa disini akan mengakui bahwa Allah itu ada, Rasulullah itu ada, Allah itu Maha Benar, dan Rasulullah pun juga benar. Tak perlu diragukan lagi sedikitpun. Maka ketika ada dalil tentang keutamaan sedekah, maka saya sangat yakin bahwa itu pasti benar”, jelas Doni.

“Sedikit mengaitkan dengan penjelasan Saudari Tuti tadi pak, bahkan walaupun saya dalam keadaan miskin, saya akan tetap bersedekah sekemampuan saya. Atau walaupun saya telah bersedekah tetapi harta saya tidak bertambah atau setelah bersedekah anak saya yang sakit tidak sembuh, bagi saya itu tidak masalah dan saya akan terus bersedekah. Mengapa? Karena inilah filosofi keimanan saya”, tegas Doni.

Penjelasan panjang lebar Doni ini mendapatkan sambutan tepuk tangan dari para mahasiswa lainnya, termasuk Tuti. Dosen pun tersenyum dan menunjukkan kekagumannya kepada Doni.

justice

Menurut anda, mana jawaban yang benar? Mungkin akan banyak yang berpihak kepada Doni sebagai jawaban yang benar. Tetapi bagi saya, keduanya sama – sama benar karena mempunyai filosofinya masing – masing jika kita kaitkan dengan pertanyaan awal dari dosen tadi. Sudut pandangnya pun berbeda, sehingga penjelasan dari Tuti dan Doni tidak bisa disalahkan.

Saya ingin  mendalami lagi dari diskusi yang terjadi di kelas pada saat itu. Namun sebelumnya, mari kita simak beberapa dalil Qur’an dan Sunnah tentang keutamaan sedekah :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. (QS Al Baqarah : 261)

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, nescaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS Al Hadid : 18)

Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut (HR Bukhari) . Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Saya sepakat dengan Doni, bahwa konsekuensi dari syahadat yaitu mengakui segala yang datang dari Allah dan Rasulullah adalah benar. Ini tidak bisa ditawar dan digugat lagi bagi seorang muslim, harga mati. Walaupun tanpa perlu pembuktian atau mengalami terlebih dahulu apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya di dunia ini, ia akan tetap menjalankan apa yang telah diperintahkan.

Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS An Nuur : 51)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Ketika turun ayat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Milik Allah lah segala sesuatu yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan apabila kalian menampakkan apa yang ada di dalam jiwa kalian ataupun menyembunyikannya niscaya Allah akan menghisabnya.” (QS. Al Baqarah : 283)

Hal itu terasa sulit bagi para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian mereka pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersimpuh di atas lutut-lutut mereka. Mereka mengatakan, “Duhai Rasulullah, kami telah diberi beban amal yang sanggup kami kerjakan: shalat, jihad, puasa, sedekah. Dan kemudian ayat ini turun kepadamu sedangkan kami tidak mampu melaksanakannya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Apakah kalian mau mengatakan sebagaimana yang diucapkan oleh kaum pengikut dua Kitab (Taurat dan Injil) sebelum kalian, “Sami’naa wa ‘ashainaa’? (Janganlah seperti itu) Akan tetapi ucapkanlah, “Kami dengar dan kami taati. Kami mohon ampunan-Mu wahai Rabb kami. Dan kepada-Mu lah tempat kembali.” Maka mereka pun mengucapkan, “Kami dengar dan kami taati. Kami mohon ampunan-Mu wahai Rabb kami. Dan kepada-Mu lah tempat kembali”…” (HR. Muslim) 

Ini juga bukan doktrin, tetapi adalah masalah keimanan seorang muslim sebagai pondasi beragama yang akan menentukan kekokohan keislamannya dalam kehidupan. Tapi semuanya akan berbeda, ketika seorang muslim menggunakan filosofi keislamannya dengan sekehendak nafsunya saja. Sehingga jika ada seorang muslim yang masih mengkritisi, meragukan, atau bahkan menolak firman-Nya dan hadits Rasulullah karena tidak sejalan dengan apa yang ia pikirkan misalnya, maka status keislamannya lebih baik ia letakkan saja daripada menimbulkan fitnah. Tipe muslim seperti ini akan menjadi teman baik bagi muslim munafik dan orang kafir.

Namun apa yang disampaikan Tuti juga tidak salah. Dia mengalami sebuah fenomena dari sedekah yang ia lakukan. Namun ada beberapa catatan tentunya, bahwa semua yang dialami Tuti tentu atas izin dan kehendak Allah, jadi bukan karena sedekahnya semata. 

“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS At Takwiir : 28-29)

jabat-tangan

Kemudian perlu kita ingat, bahwa amal ibadah yang kita kerjakan bukanlah sebuah beribadah transaksional. Memang sangat dibolehkan kita berharap pahala dan keutamaan dari amal ibadah yang kita lakukan. Karena jika kita mendapatkannya, berarti Allah telah ridho atas amal ibadah yang kita kerjakan. Sedangkan maksud dari transaksional adalah kita hanya mengerjakan amal ibadah tertentu disaat membutuhkannya saja. Misalnya ingin agar ditambah harta, maka kita rajin bersedekah. Namun tatkala hartanya telah cukup atau bahkan berlimpah, berhentilah sedekah yang tadinya rajin dikerjakan. Nanti ketika harta mulai berkurang, mulai lagi rutin bersedekah. Inilah yang dimaksud beribadah transaksional dan perlu kita hindari.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa berpikir filosofis dalam berislam itu perlu. Adanya filosofi yang mendasari setiap perbuatan dan amal ibdah yang kita lakukan, akan memberikan energi tersendiri saat mengerjakannya. Menjadi muslim yang filosofis jauh lebih baik daripada sekedar menjadi seorang muslim yang ikut – ikutan (ngikutin kata ustadz, kata orang tua, kata kakek, dan lainnya). Berfilosofi akan membuat adanya perbedaan yang terlihat dan terasa saat kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak kosong dan hampa. Dengan berfilosofis dalam berislam, kita akan menemukan pengalaman keimanan yang luar biasa dan dianggap orang lain ‘tidak masuk akal’. Tapi bagi kita hal itu justru  akan meng-upgrade ketaqwaan serta meneguhkan syahadat yang kita agungkan. Jika bagi muslim lain sedekah disaat sempit itu sulit, namun bagi muslim filosofis hal itu adalah mudah. Percaya?

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com untuk bertanya.

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Bimbel Qur’an Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s