Gara – Gara Kencing Kena Siksa Kubur?

kencing

Dalam beberapa waktu, saya tak sengaja menjumpai orang yang buang air kecil (kencing) tidak pada tempat yang seharusnya. Tentulah tempat untuk kencing itu di kamar mandi; yang tertutup dan ada air untuk menyiram dan membersihkan (cebok). Tapi sayangnya ada saja yang kencing di sembarangan tempat, semisal dibalik pohon, tembok, bahkan tak jarang ditanah lapang. Pelakunya paling sering laki – laki dan saya tak terlalu paham ada alasan mereka untuk kencing di sembarangan tempat. Saya berbaik sangka, mungkin sudah tidak “tahan” lagi alias kebelet.

Tapi terbetik dalam pikiran saya, bagaimana mereka membersihkan sisa air seni (maaf) di kemaluannya? Kemudian berarti air seninya pun tak disiram dan membekas di pohon, tempok, atau tanah? Yang pasti akan menimbulkan bau tak sedap jika ada orang lain melewatinya. Mungkin ada diantara anda yang melihat juga, orang yang kencing tidak pada tempatnya ini bisa dipastikan tidak membuka celananya dengan sempurna (mungkin karena ditempat terbuka itu). Maka logikanya, ada kemungkinan air seni bisa mengenai celana dalam kadar yang sedikit maupun banyak. Tidakkah mereka mengetahui bahwa air seni itu najis?

Ketahuilah bahwasanya dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni. Diriwayatkan pula oleh Al Hakim, “Kebanyakan siksa kubur gara-gara (bekas) kencing.” Sanad hadits ini shahih.

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa dalam perkara besar. Adapun yang pertama tidak menjaga dari percikan kencing dan yang kedua berjalan di muka bumi dengan namimah.” Kemudian beliu mengambil pelepah kurma basah dan membelah menjadi dua lalu beliau menancapkan pada setiap kuburan satu pelepah kurma.” Mereka berkata “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan itu?” Beliau bersabda, “Mudah-mudahkan diringankan (siksa kubur) dari keduanya, selagi (pelepah kurma itu) belum kering.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Qatadah berkata, “Sesungguhnya (mayoritas siksa kubur berasal dari tiga perkara: ghibah, namimah dan kencing”.

Sebagian ulama menyingkap alasan, kenapa mayoritas siksa kubur disebabkan percikan kencing, namimah atau ghibah. Karena kuburan adalah rintangan pertama kali akhirat dan di dalamnya terdapat berbagai macam kejadian sebagai rentetan peristiwa yang akan terjadi setelah Hari Kiamat, baik berupa siksa atau pahala.

Nampaknya hal sepele perkara kencing, namun jika kita tidak hati – hati maka siksa kubur menanti, Allahul musta’an. Oleh sebab itu, setelah kita membaca hadits diatas dan penjelasan ulama, sudah selayaknya untuk lebih memperhatikan cara kencing kita. Sebisa mungkin kita ikhtiarkan kencing di kamar mandi, lalu menyiram dan membersihkan. Jangan dibiasakan untuk menunggu kencing hingga kebelat.

Jika sudah terasa au kencing, maka segeralah mencari kamar mandi, jangan ditunda – tunda. Bagi yang diperjalanan, silahkan berhenti sejenak di rest area, minimarket, atau masjid untuk mencari kamar mandi. Silahkan buang air kecil dengan memastikan agar celana anda tidak kena percikan air kencing, lalu bersihkan kemaluan anda dari sisa air seni, dan siramlah air seni anda di kloset atau toilet. 

Kemudian pasti akan ada yang bertanya, bagaimana jika kencing sambil berdiri? Misalnya di hanya ada kloset berdiri. Mari kita simak penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berikut ini : 

Tidak apa-apa kencing sambil berdiri apabila hal itu memang dibutuhkan, dengan syarat, tempatnya tertutup sehingga tidak ada orang lain yang melihat auratnya serta tidak terkena percikan air seninya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan menuju ujung tempat pembuangan sampah suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri. (Disepakati keshahihannya. HR. Al-Bukhari dalam al-Wudhu’ ; Muslim dalam ath-Thaharah).

Namun demikian, lebih baik dilakukan dengan duduk atau jongkok, karena seperti itulah yang mayoritas dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dengan tetap menutup aurat dan hati-hati agar tidak terkena percikan air seni, sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan dari jalan Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata : 

“Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wasallam buang air kecil sambil berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk.” (HR. At Tirmizi dan An Nasai)

Maka hadits ini menunjukkan bahwa di rumah Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah kencing berdiri. Maka penafian Aisyah di sini hanya sebatas pengetahuan beliau, sementara Huzaifah telah menetapkan bahwa beliau kencing dalam keadaan berdiri. Pendapat bolehnya kencing berdiri merupakan pendapat sekelompok sahabat di antaranya: Umar, Huzaifah, Zaid bin Tsabit, Ali, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Umar, dan Urwah.

Sebelum menutup tulisan ini, ada hikmah fundamental yang harus kita petik dari tulisan sederhana yang ditulis oleh seoarang fakir ilmu. Ketahuilah bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan tidak ada cacat sedikit pun didalamnya. Urusan kencing saja tak luput dari perhatian Rasulullah sebagai bukti bahwa segala aspek dalam kehidupan ini, telah ada contoh pada dirinya yang mulia. Kita pun harus ingat, diantara konsekuensi seorang muslim dari kalimat syahadatnya ialah menjalankan sunnah – sunnah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam dengan sepenuh hati demi keselamatan di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com untuk bertanya.

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Bimbel Qur’an Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s