Sholat Wajib Tapi Bermakmum Kepada Orang Yang Sholat Sunnah

lokasi-masjid-istiqlal-jakarta

Lagi – lagi ditulisan kali ini, saya akan berbagi ilmu tentang sholat. Beberapa hari lalu, saya jalan – jalan dengan sahabat saya (semoga Allah mencintainya) di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung. Saat tiba di pusat perbelanjaan tersebut, waktu sholat dzuhur telah tiba. Sehingga kami memutuskan untuk segera mencari mushola atau masjid, untuk meraih keutamaan sholat di awal waktu.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya: Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau ulangi dua kali, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan urutan: Berbakti kepada orang tua, kemudian berjihad fi sabilillah.”

Yang dimaksud: “Shalat pada waktunya” adalah shalat di awal waktu, sebagaimana keterangan Ibnu Hajar, dimana beliau menukil keterangan Ibnu Battal ketika menjelaskan hadis di atas: Ibnu Battal mengatakan, “Dalam hadis ini disimpulkan bahwa menyegerakan shalat di awal waktunya itu lebih afdhal (utama) dari pada menundanya.” (Fathul Bari, 2:9)

Setelah menunaikan sholat dzuhur, saya lantas menunaikan sholat sunnah ba’diyah dzuhur.

Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan, “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.” (HR Bukhari)

Namun ketika saya sedang sholat sunnah ba’diyah dzuhur, tiba – tiba ada orang yang menepuk pundak kanan saya. Tepukan tersebut adalah sebuah kode untuk saya, bahwa orang tersebut bermakmum kepada saya. Tentu sholat yang orang itu maksudkan adalah sholat dzuhur, karena mungkin dia mengira saya sedang melaksanakan sholat dzuhur pula. Maka saya pun memahami kondisi seperti ini, dan lantas saya tetap melanjut sholat sunnah ba’diyah seperti biasa hingga salam. Lalu bagaimana dengan orang yang  bermakmum dengan saya? Dia pun tetap melanjutkan sholatnya.

Setelah dari mushola, kami memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berbelanja. Sambil menunggu makanan pesanan kami -lotek- datang, sahabat saya bertanya kepada saya. Ia ternyata melihat kejadian tadi di mushola, yaitu saat ada orang lain yang bermakmum sholat wajib kepada saya, tetapi sebenarnya saya sedang sholat sunnah ba’diyah. Ia menanyakan, apakah sah sholat wajib orang yang bermakmum tersebut? Lantas bagaimana penjelasan dari sisi fiqihnya? Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya tersebut, saya datangkan pendapat ulama Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berikut ini :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang melaksanakan shalat fardhu dengan makmum kepada orang yang mengerjakan shalat sunat?

Jawaban
Hukumnya sah, karena telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dalam suatu perjalanan beliau shalat dengan sekelompok para sahabatnya, yaitu shalat khauf dua raka’at, kemudian beliau shalat lagi dua raka’at dengan sekelompok lainnya, shalat beliau yang kedua adalah shalat sunat. Disebutkan juga dalam Ash-Shahihain, dari Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika ia telah mengerjakan shalat Isya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia pergi lalu mengimami shalat fardu kaummnya, shalat mereka adalah shalat fardhu, sedangkan shalat Mu’adz saat itu adalah shalat sunnat [1].

Wallahu walyut taufiq.

[Majalah Ad-Da’wah, edisi 1033, Syaikh Ibnu Baz]

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang mendapati orang lain sedang shalat sirriyah, ia tidak tahu apakah orang tersebut sedang shalat fardhu atau shalat sunat? Dan apa yang harus dilakukan oleh seorang imam yang ketika orang ini masuk masjid ia mendapatinya sedang shalat, apakah ia perlu memberi isyarat agar orang tersebut ikut dalam shalatnya jika ia shalat fardhu, atau menjauhkannya jika ia sedang shalat sunat?

Jawaban
Yang benar adalah, tidak masalah adanya perbedaan niat antara imam dengan makmum, seseorang boleh melaksanakan shalat fardhu dengan bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu setelah melaksanakan shalat Isya bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pulang kepada kaumnya lalu shalat mengimami mereka shalat itu juga. Bagi Mu’adz itu adalah shalat sunat, sedangkan bagi kaumnya itu adalah shalat fardhu.

Jika seseorang masuk masjid, sementara anda sedang shalat fardhu atau shalat sunat, lalu ia berdiri bersama anda sehingga menjadi berjama’ah, maka itu tidak mengapa, anda tidak perlu memberinya isyarat agar tidak masuk, tapi ia dibiarkan masuk shalat berjama’ah bersama anda, dan setelah anda selesai ia berdiri menyempurnakannya, baik itu shalat fardhu ataupun shalat sunat.

[Mukhtar Min Fatawa Ash-Shalah, hal. 66-67, Syaikh Ibnu Utsaimin]

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apa hukum shalat sunat bermakmum kepada yang shalat fardhu?

Jawaban
Boleh, jika imam tersebut orang yang paling mengerti tentang kitabullah dan paling mengerti tentang hukum-hukum shalat. Demikian juga jika orang tersebut adalah imam rawatib di masjid tersebut, tapi ia telah mengerjakan shalat tersebut dengan berjama’ah, lalu ketika datang ke masjidnya, ternyata mereka belum shalat, maka ia boleh shalat bersama mereka.

Dalilnya adalah kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu yang mana ia mengimami kaumnya dari golongan Anshar karena ia merupakan orang yang paling mengerti tentang kitabullah dan paling mengerti tentang hukum-hukum, saat itu, ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu Isya lalu shalat bersama beliau, kemudian kembali kepada kaumnya dan mengimami mereka shalat Isya [2]. Saat iti ia shalat sunat dan mereka shalat fardhu.

Sebagian ulama memakruhkan hal ini karena perbedaan niat antara imam dengan makmum, tapi yang benar hal ini dibolehkan karena adanya dalil yang jelas.

Wallahu ‘alm.

[Al-Lu’lu Al-Makin, Ibnu Jibrin, hal. 112-113]

Footnote
[1]. Al-Bukhari, kitab Adzan (700, 701), Muslim, kitab Ash-Shalah (465)
[2]. Al-Bukhari, kitab Adzan (700, 701), Muslim, kitab Ash-Shalah (465)

sumber

Inilah sedikit ilmu tentang permasalahan fiqih yang bisa saya hadirkan. Semoga ada ilmu dan manfaat yang bisa dipetik oleh para pembaca. Dan saya doakan, semoga Allah ta’alaa senantiasa memberikan kita kemudahan dan kesempatan untuk selalu menunaikan sholat wajib berjama’ah tepat waktu. Berikut ini juga saya hadirkan sebuah video sederhana terkait jama’ah masbuk.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, anak – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan invite pin BBM 7B578D8D atau hubungi telpon / SMS / WA 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s