Kalender Orang Islam Itu Hijriah

hilalBismillah. Mengharap agar tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulisnya serta menjadi amal shalih bagi pembacanya, aamiin yaa Robbal ‘alamiin. Para pembaca yang dirahmati Allah, hari ini tanggal berapa hijriah ya? Ada yang bisa jawab tanpa harus melihat kalender hijriah di atas meja atau dinding rumah? Atau jangan melihat ke aplikasi kalender hijriah di smartphone anda? Insya Allah ada sebagian yang bisa jawab, namun tak sedikit pula yang kebingungan tidak tau tanggal berapa hijriah hari ini. Sebuah pertanyaan sederhana yang sepele banget. Namun dari pertanyaan tersebut, bisa jadi ke-islam-an kita diuji. Sudah benarkah menjadi orang islam?

Prihatin sebenarnya diri ini, tatkala mengisi majelis ta’lim di sebuah masjid. Masjidnya megah, besar, dan nyaman. Tetapi begitu saya melihat jadwal sholat di dinding masjid menggunakan penanggalan masehi, bahkan tidak ada penganggalan hijriahnya sama sekali. Masya Allah. Ini masjid lho, tempatnya orang Islam menegakkan ibadah yang agung (sholat), tempatnya orang Islam berkumpul; belajar menuntut ilmu agama, dan merupakan sebaik – baiknya tempat diatas muka bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika pernah ditanya, “Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab: Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (Shohih Ibnu Hibban)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”. Tapi kok ya penanggalan yang digunakan kalender masehi? Padahal kalender masehi bukan ajaran atau bagian dari agama Islam. Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan rahimahullah berkata mengenai kalender masehi ini, “kalender masehi merupakan simbol agama mereka (nashoro), sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashoro (dalam agama mereka)”.

“Ah apaan sih tadz, cuma penanggalan doank ribet amat!” begitu celetuk seorang jama’ah pengajian kepada saya. Saya jawab dengan sedikit ilmu yang saya punya, “Sesungguhnya Islam melalui Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan penanggalan sendiri kepada ummatnya, yaitu hijriah, yang ditentukan dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat. Maka, kalo mengaku ummat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, kudu mengetahui penanggalan hijriah donk.” Bagi sebagian kaum muslimin hal ini dianggap sepele dan remeh temeh, namun bagi saya tidak.

Saudaraku, ingatlah. Agama kita, Islam, adalah agama yang sempurna. Tidak perlu ada penambahan ataupun pengurangan dari ajarannya yang disampaikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam.

Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS Al-Mâ`idah: 3)

Maka berpegang-teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurusDan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar merupakan suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, serta kelak kamu akan dimintai pertanggungajawaban.” (QS Az-Zukhruf: 43-44)

Termasuk dalam masalah penanggalan atau kalender. Islam telah mempunyai cara perhitungan tersendiri, yaitu hijriah yang berdasarkan peredaran bulan.Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu.” (QS At-Taubah: 36)

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Hilal (bulan sabit) sebagai tanda berawal dan dan berakhirnya bulan, maka dengan munculnya Hilal dimulaialah bulan baru dan berakhirlah bulan yang telah lalu. Maka jadilah Hilal-hilal itu sebagai patokan waktu, dan ini menunjukkan bahwa hitungan bulan adalah Qomari karena keterkaitannya dengan peredaran bulan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Maka Dia (Allah) mengabarkan bahwa Hilal-hilal itu adalah patokan waktu bagi manusia, dan ini umum dalam setiap urusan mereka, lalu Allah menjadikan Hilal-hilal itu sebagai patokan waktu bagi manusia dalam hukum-hukum yang ditetapkan oleh syari’at, baik sebagai tanda permulaan ibadah maupun sebagai sebab diwajibkannya sebuah ibadah, dan juga sebagai patokan waktu bagi hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan syarat yang dipersyaratkan oleh seorang hamba. Maka hukum-hukum yang ditetapkan dengan syari’at atau dengan syarat maka patokan waktunya berdasarkan Hilal, dan masuk ke dalam hal ini puasa, haji, ilaa’ (sumpah dari seorang suami untuk tidak menjima’ (berhubungan badan) istrinya dalam waktu kurang dari 40 hari), dan ‘iddah (masa menunggu setelah dicerai).”

Dan ada kekhawatiran, ketika kita menjadikan masehi sebagai kalender utama kita, akan nampak bahwa kita menyerupai suatu kaum, yaitu nashoro. Sedangkan mereka (nashoro) sama sekali tidak pernah mengakui dan memakai kalender hijriah. Lalu mengapa kita ummat Islam, ummat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, ummat yang terbaik dan terselamatkan, memakai sesuatu yang tidak datang dari Islam itu sendiri?

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” [HR. Ahmad II/50 dan Abû Dâwud no. 4031. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni dalam Al-Irwâ` no. 1269]

Nah pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah kita kan hidup di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya (padahal penduduk paling besar tersebut beragama Islam) lebih mengenal kalender masehi, lantas bagaimana kita menyikapinya? Untuk pertanyaan ini, saya sampaikan fatwa ulama Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan rahimahullah yang sangat panjang, semoga anda bersabar membacanya demi mendapatkan kebenaran. Sekaligus menutup tulisan saya kali ini, semoga ada kebaikan dan manfaat yang bisa dipetik. Serta membuat kita semangat dalam menampakkan identitas ke-islam-an kita. Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum.

****

FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN SHÂLIH AL-’UTSAIMÎN
Pertanyaan : Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal. Yang pertama bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk menyelisihi mereka.

Jawaban : Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala :

Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; [Al Baqarah: 189]

Ini berlaku untuk semua manusia

Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [At Taubah: 36]

Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilâl. Oleh karena itu NabiShalallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.

Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas langit dan waktu-waktunya. Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu tidak ada dasarnya sama sekali. Akan tetapi apabila kita dihadapkan pada dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidak memiliki dasar tersebut?! Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi kita untuk menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian. Karena melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan mereka.

Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian.

Kemudian si penanya tadi mengatakan bahwa sisi yang kedua dari pertanyaan tersebut bahwa beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka apa hukum permasalahan ini?

Jawabanya: Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya, yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin tidak?

Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin.

(Liqâ`âtul Bâbil Maftûh)

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s