Bulan Syawal : Bulan Konsolidasi

bungaAlhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat. Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna. Salah satu kebaikan tersebut yang baru saja kita rasakan beberapa hari lalu adalah berjumpa dengan hari raya ‘Iedl Fitr 1 syawal 1435 H. Setelah satu bulan lamanya kita menunaikan shaum ramadhan, maka selanjutnya ialah merayakan hari kemenangan. Mumpung masih dalam suasana ‘Iedl Fitr, saya ingin mengucapkan taqobalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah mengarungi bulan ramadhan dan berjumpa bulan syawwal. Serta semoga kita termasuk golongan orang – orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda :

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni. (HR Bukhari dan Muslim)

****

Saudaraku seiman, momentum ‘Iedl Fitr dan bulan syawal seharusnya tidak hanya kita maknai dengan sekedar seremonial belaka; bermaaf – maafan, silaturahim, bagi – bagi angpao dan THR, baju baru, dan lainnya. Lebih dari itu semua, sesungguhnya bulan syawal ini adalah bulan yang tepat untuk melakukan konsolidasi pribadi kita. Mengapa? Karena sebelumnya kita telah menempa diri dalam sebuah madrasah iman yang bernama Ramadhan. Maka selanjutnya adalah kita harus mengaplikasikan, menkonsolidasikan, serta mensinergikan apa yang kita dapat di Bulan Ramadhan lalu. Oleh sebab itu saya ingin menyampaikan apa saja yang harus kita konsolidasikan di bulan syawal ini untuk menuju bulan – bulan selanjutnya.

1. Konsolidasi Iman dan Taqwa.

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS Al Baqarah : 103)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah : 186)

Dua firman Allah Azza wa Jalla diatas haruslah terpatri dalam qolbu kita. Dalam ayat 103 Surah Al Baqarah, betapa jelasnya bahwa iman dan taqwa adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk meraih pahala dari Allah Azza wa Jalla. Ketika seseorang telah mendapatkan pahala dari-Nya, berarti Allah Azza wa Jalla telah ridho atas keimanan dan ketakwaannya. Apalagi yang kita cari di dunia ini selain ridho dan limpahan pahala dari Allah Azza wa Jalla? Di Bulan Ramadhan lalu adalah masa terbaik untuk menumbuh suburkan keimanan dan ketakwaan. Maka merugilah mereka yang menyia – nyiakan Bulan Ramadhan lalu tanpa adanya kebertumbuhan atas keimanan dan ketakwaan mereka. Karena mereka harus sadar dan tau, bahwa tidak ada yang menjamin mereka akan berjumpa kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Padahal sudah jelas pula dalam surah yang sama di ayat 186, Allah Azza wa Jalla menjelaskan untuk meraih ketakwaan tersebut di Bulan Ramadhan adalah dengan berpuasa. Jadi beruntunglah bagi mereka yang telah berpuasa (tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus), memperbanyak ibadah dan amal sholih, serta memaksimalkan 10 hari terakhir bulan ramadhan. Lalu apa korelasinya dengan bulan syawal?

Bulan syawwal adalah ujian pertama bagi keimanan dan ketaqwaan seseorang. Apakah ia mampu menjaga Ghiroh (semangat) beribadah dan beramal sholih seperti di Bulan Ramadhan atau tidak. Bulan Syawal adalah cermin keberhasilan Ramadhan. Bagi yang berhasil, keimanan dan ketaqwaan mereka akan berada dalam lintasan keistiqomahan. Namun bagi yang setengah – setengah atau malah gagal, keimanan dan ketaqwaan mereka akan diwarnai oleh kefuturan.  Puasa sunnah enam hari di Bulan Syawal adalah salah satu tesnya. Bagi yang ghiroh ibadahnya terjaga, niscaya tak ada rasa malas untuk menunaikan amalan sunnah yang memiliki ganjaran amat luas.

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh. (HR Muslim)

Mari kita jadikan Bulan Syawal ini sebagai masa konsolidasi iman dan taqwa dengan cara terus mengasah keikhlasan dan sikap ittiba’. Insya Allah dengan ikhlas dan ittiba’, ghiroh ibadah dan amal sholih kita akan terus terjaga. Apalagi jika dibarengi dengan menghadiri majelis – majelis ilmu serta berkumpul bersama orang – orang sholih. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

****

2. Konsolidasi Ukhuwah Islamiyah

Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya. (HR Muslim)

Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Mulim)

Penulis yakin saat ‘Iedl Fitr lalu, para pembaca banyak bersilaturahim ke rumah – rumah tetangga, keluarga, kerabat, dan lainnya. Mengunjungi rumah – rumah atau bersilaturahim sudah menjadi tradisi di negera kita tatkala ‘Iedl Fitr. Padahal silaturahim mengunjungi rumah tetangga, saudara, kerabat bisa kita lakukan kapan pun, tidak harus kita khususkan hanya pada saat ‘Iedl Fitr. Sebab silaturahim merupakan amal sholih yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam kepada umatnya.

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi. (HR Bukhari dan Muslim)

Kesempatan untuk bersilaturahim ini harus kita manfaatkan pula sebagai bentuk konsolidasi ukhuwah islamiyah. Mempererat rasa mencintai sesama muslim dan saling tolong menolong. Dengan mengunjungi rumah tetangga, saudara, atau kerabat, kita dapat mengetahui keadaan mereka, keadaan keluarga mereka, keadaan ekonomoi mereka. Sangat berbeda tatkala kita tak pernah bersilaturahim, kita hanya akan berpikir semuanya baik – baik saja, padahal kenyataannya mungkin berbeda. Semoga amal sholih silaturahim ini mampu menyambung tali ukhuwah islamiyah yang mengendur atau bahkan terputus antara kita dengan saudara – saudara seiman lainnya. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

****

3. Konsolidasi Cinta

…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…” (QS Al Maidah : 54)

Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah (seperti perhiasan) dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS Al Hujuraat : 7)

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah Rahimahullah berkata: “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kebaikan bagi hati manusia kecuali (setelah) dia menjadikan Allah (sebagai) sembahannya satu-satunya, puncak dari tujuannya dan Zat yang paling dicintainya melebihi segala sesuatu (yang ada di dunia ini).” (Kitab Igaatsatul lahfaan min masha-yidisy syaithaan). Bulan Syawal ini adalah saatnya kita memusabah diri, siapakah yang sebenarnya kita cintai dalam hidup ini? Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauziah Rahimahullah diatas, Allah Azza wa Jalla adalah Dzat yang patut kita cintai melebihi apa pun. Inilah puncak tertinggi dalam cinta. Momentum ‘Iedl Fitr dan Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk mengkonsolidasikan cinta kita, bahwa cinta kita hanya pantas untuk diberikan kepada Allah Azza wa Jalla. Berapa banyak orang yang kecewa tatkala cintanya ia berikan kepada makhluk atau harta? Berapa banyak seorang akhwat menangis sedih tatkala cintanya bertepuk sebelah tangan kepada seorang ikhwan? Berapa banyak ikhwan yang berputus asa ketika cintanya ditolak oleh seorang akhwat yang ia idam – idamkan? Berapa banyak manusia yang menjadi stres bahkan gila ketika hartanya hilang? Kita harus menyadari, saat cinta kita berikan selain kepada Allah Azza wa Jalla, maka pilihannya hanya satu, yaitu kecewa. Maka me-reset ulang tatanan mahabbah harus kita lakukan ketika ada rasa kecewa menghampiri. Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan bagi kita untuk mencintai-Nya dan Dia mencintai kita juga. Aamiin yaa Robbal ‘alamiin.

Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…

Dapatkan tausyiah harian di pin BBM 7B578D8D. Silahkan follow twitter @adefahrizal / SMS & WA 082116061831 / email adefahrizal@gmail.com  

Ingin memiliki buku Islam berkualitas yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah? Temukan di Toko Buku Islam ZK Mart. Segera invite pin BBM 7B578D8D dan follow twitter & Instagram @zk_mart

Ziyadatul Khoir menerima layanan les privat mengaji Iqro dan Al Qur’an di rumah anda. Terbuka untuk semua usia dan kalangan, ana – anak, dewasa, orang tua. Serta melayani untuk individu, keluarga, kelompok, dan perkantoran. Pengajar oleh Ustadz Abu Fawwaz Ade Fahrizal. Silahkan hubungi 082116061831 (hanya untuk Kota Bandung).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s