Belajar Ilmu Ikhlas

Hari ini saya sholat ashar di masjid dekat kantor saya bekerja. Sebuah masjid yang bangunannya sangat sederhana. Saya menyebutnya masjid mungil, karena memang tidak besar dan tidak bisa menampung jama’ah hingga ratusan. Selesai sholat ashar, saya berdzikir dan berdoa. Dalam doa saya, saya panjatkan permohonan kepada Allah agar selalu dibimbing dan dituntun dalam hidup ini. Saya merasa diri ini butuh petunjuk dari Allah setiap saatnya. Saya takut tersesat lagi, saya khawatir hati ini ternodai kesekian kalinya. Selain itu saya juga memohon kepada Allah jika petunjuk itu tidak bisa diberikan langsung kepada saya, maka turunkanlah petunjuk itu dari orang lain.

Setelah berdoa saya pun meninggalkan masjid. Ternyata saya keluar bersama rekan kerja saya. Saya kenal dia cukup baik, saya mengenal dia sebagai orang  yang sholeh dan sederhana. Lalu kami pun jalan berdampingan menuju perjalanan. Selama di jalan menuju kantor, saya coba menanyakan tentang proses ta’arufnya. Ternyata prosesnya sudah memasuki tahapan final. Dia mengatakan bahwa sekarang sedang mencetak undangan pernikahan. “Subhanallah”, hati kecil saya berucap. Begitu cepatnya dan menurut saya sangat dimudahkan proses ta’aruf rekan saya ini. Hingga ia menceritakan suatu hal yang sangat menarik sekali.

Kata dia, sebenarnya dia sendiri pun memang merasakan banyak keajaiban dalam proses ini. Padahal dahulu ia mengalami suatu depresi yang sangat berat. Ujian itu ketika gagalnya proses ta’aruf dengan seorang wanita yang ia sukai sejak lama. Ia sempat down, bahkan jika dalam diagram cartesius, dirinya berada di koordinat -x, -y. Namun ia sadar bahwa dirinya tidak bisa selamanya terpuruk seperti ini. Ia pun mencoba bangkit dan ternyata berat. Namun ia tak patah semangat, ia terus mencoba bangkit sambil terus mendekat ke Allah. Hingga akhirnya ia mampu untuk bangkit dan mengikhlaskan segala kejadian yang telah menimpanya. 100% ikhlas kah saat itu? tidak. Tetapi seiring berjalannya waktu, Allah kuatkan diri dan hatinya. Dan akhirnya utuhlah rasa ikhlas itu.

Lalu apa yang terjadi setelah itu? Ternyata melejitnya kehidupan dia. Karier, bisnis, dan lain – lain semuanya tiba – tiba melesat. Sadar akan hal itu, ia lantas memanfaatkan untuk move on ke ta’aruf babak baru. Akhirnya ia dipertemukan dengan seorang wanita oleh ustadz. Dan hanya dalam kurun waktu minggu, jatuhlah khitbah kepada wanita tersebut. Ia pun kaget, secepat ini kah? Lalu semua proses hingga cerita tentang ia sudah mencetak undangan tadi berjalan dengan mulus. Masya Allah, manisnya…

Sahabat, ikhlaslah. Ketika kita sudah bersabar tetapi ada yang masih mengganjal, maka itu tanda kita belum ikhlas. Ketidak ikhlasan akan menghambat diri kita untuk tumbuh. Ketika masalah datang dan kita tidak ikhlas menghadapinya, maka kita seolah – olah tidak akan pernah menemukan jalan keluarnya. Ketika bisnis terpuruk dan kita tidak ikhlas menerimanya, maka akan susah buat diri kita untuk membangkitkannya lagi. “Tapi untuk ikhlas itu gak semudah membalikkan telapak tangan De”. Oke, tapi jika kita terus mencoba dan menyerahkannya segala kepada Allah, maka perlahan – lahan akan hadir. Saya doakan kepada seluruh pembaca blog ini semoga diberikan rasa ikhlas oleh Allah dalam hidupnya. Dan tolong doakan saya juga agar senantiasa ikhlas dalam setiap episode hidupnya. Aamiinn…

Mau silaturahim dan ngobrol dengan saya? :) Silahkan follow twitter @adefahrizal / HP 082116061831 / BBM 29EEE7F0 / email adefahrizal@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s