Belajar Dari Seorang Guru (bagian 1)

Hari senin lalu saya ada janji meeting dengan seorang guru sekaligus wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMPIT Islam Salman Al Farisi, Bandung. Pak Edi, begitu saya memanggil beliau. Kami sudah beberapa kali kontak via sms sebelum bertemu hari itu. Kami membuat janji untuk bertemu jam 1 siang di SMPIT Salman Al Farisi. Dalam meeting tersebut, saya mempunyai agenda untuk mengajak beliau berkerjasama dengan kantor saya. Sebelumnya kami tidak pernah bertemu, jadi ini baru pertama kalinya untuk bertemu. Dan akhirnya kami bertemu di ruang guru sekolah beliau mengabdi.

Di awal pembicaraan, kami lebih banyak basa – basi. Menanyakan seputar aktifitas keseharian, latar belakang pendidikan, dan lain – lain. Setelah itu saya coba fokuskan pembicaraan ke agenda yang sudah saya usung. Kira – kira 45 menit saya membicarakan agenda saya ke Pak Edi. Alhamdulillah respon beliau positif namun memberikan beberapa syarat. Bagi saya tak masalah, yang penting agenda saya sudah direspon baik dengan beliau. Setelah itu kami mengobral ngalor ngidul sembari menunggu waktu sholat ashar. Kebetulan saat itu beliau sedang tidak ada jadwal mengajar, sehingga bisa melayani saya cukup lama. Nah saya lupa bagaimana jalan ceritanya, hingga beliau menceritakan aktifitas beliau diluar sekolah.

Saya baru tau ternyata beliau adalah guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Beliau bercerita selain mengajar di sekolah, beliau juga aktif berdakwah. “Subhanallah”, ucap saya dalam hati. Beliau berdakwah di daerah Cigadung atas (saya lupa nama daerahnya). Mengapa beliau memilih berdakwah disana? Karena beliau dapat info dan bahkan melihat langsung di daerah tersebut rawan permurtadan (keluar dari agam Islam). Astaghfirullahal adzhim, di Bandung yang termasuk kota metropolitan dan  masyarakat cukup berpendidikan baik ternyata aktifitas pemurtadan masih ada terjadi. Beliau menuturkan ketika diawal kedatangan beliau berdakwah di daerah tersebut, kondisinya masyarakatnya sangat memprihatinkan. Ada satu keluarga yang sedang mabuk minuman keras, anak – anak kecil berkata yang kasar dan kotor, dan banyak yang siap menggadaikan agama mereka (Islam) hanya demi se-dus mie atau 10kg beras. Melihat keadaan tersebut, beliau terus berjuang berdakwah. Bersama beberapa temann seperjuangannya, beliau mencoba berdakwah melalui pendekatan langsung ke masyarakat. Singkat cerita, kini kondisi masyarakat disana sudah jauh lebih baik. Tidak ada lagi yang mabuk – mabukan, malahan kini mereka sudah mau ke masjid untuk sholat berjama’ah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sahabat, setelah mendengar cerita Pak Edi diatas saya tidak bisa banyak menanggapi. Saya lebih banyak diam saja. Ternyata masih ada (dan saya yakin masih banyak) orang yang berhati mulia dan emas seperti Pak Edi. Orang – orang yang peduli kepada kebaikan, orang – orang yang gelisah jika ada keburukan terjadi. Yang saya bingungkan, beliau berprofesi sebagai pengajar, namun memiliki jiwa dan semangat setangguh petarung sejati. Sudah selayaknya kita patut meniru Pak guru Edi. Kita tidak boleh diam melihat keburukan, kita harus terjun untuk memperbaikinya. Semampu kita, itu sudah sangat berarti di hadapan Allah. Seperti Pak Edi, beliau tidak punya cukup uang untuk membelikan mie dan beras kepada warga tersebut. Tapi beliau punya hati yang peduli, itulah sesungguhnya harta terbaik beliau. Sahabat, ayo kita menjadi bagian dari perubahan menuju kebaikan. Ayo kita asah hati dan jiwa kita untuk lebih peduli. Buka mata, hati, dan telinga, ternyata masih banyak kebobrokan di negara ini. Ayo kita berkontribusi…

Mau silaturahim dan ngobrol dengan saya? :) Silahkan follow twitter @adefahrizal / HP 082116061831 / BBM 29EEE7F0 / email adefahrizal@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s