The Power of Kepepet

Hari minggu sore saya ada agenda rutin main bulutangkis juga. Tidak seperti di tulisan saya sebelumnya, hari minggu ini mood saya lebih baik dari hari sabtu. Begitulah yang saya rasakan kala itu. Di pagi hari saya sarapan sebuah roti bakar yang saya buat sendiri dengan segelas susu vanilla hangat sebagai pelengkapnya. Saya pilih balkon kosan saya untuk menikmati sarapan sambil disinari cahaya mentari yang sangat menyegarkan tubuh saya. Setelah selesai sarapan saya lanjutkan membersihkan dan merapikan kamar kosan saya. Sudah beberapa hari saya menelantarkan kamar kosan saya. Walaupun ada jasa membersihkan kosan dari bibi kosan saya, namun saya lebih memilih untuk membersihkan kamar kosan saya sendiri. Karena ini adalah kamar saya, saya yang tau dimana ada debu yang harus dibersihkan. Saya yang tau seperti apa susunan buku di rak buku saya. Saya yang tau dimana seharusnya saya menaruh tas di kamar. Dan saya senang membersihkan kamar kosan saya, karena pasti setelah dibersihkan dan dirapikan kamar saya akan terlihat lebih enak dipandang. Lantainya bersih, buku – bukunya tersusun rapi di rak, tas – tas ada di tempatnya.

Sekitar jam 11 siang, ada siaran langsung bulutangkis di salah satu Indosiar. Wah saya senang sekali, soalnya jarang – jarang ada event internasional bulutangkis disiarkan di tv lokal seperti ini. Apalagi saat itu yang disiarkan adalah partai final dan Indonesia menempatkan empat wakilnya di partai final tersebut, wow!. Walaupun pada akhirnya hanya dua wakil Indonesia saja yang bisa menyabet gelar, tetapi saya senang bisa menonton siaran langsung bulutangkis. Jadi memang pagi – siang saya habiskan waktu saya di kosan. Tapi saya senang, saya gembira walau hanya di kosan. Padahal biasanya banyak anak kosan yang merasa boring, suntuk, atau bete jika dikosan terus. Atau karena saya sering keluar dan jarang dikosan sehingga ketika ada waktu banyak dikosan saya jadi senang?🙂

Oke waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, sholat ashar sudah beres, berarti saatnya saya bersiap menuju gor untuk agenda rutin saya main bulutangkis. Sesampai di gor dan menuggu beberapa menit, saya akhirnya dapat giliran main. Wah kali ini saya main lebih bagus daripada hari sabtu. Apakah ini pengaruh mood saya? Mungkin. Atau karena lawan main kemampuannya dibawah saya? Hehehe maaf bercanda. Yang jelas saya sangat menikmati dan semangat ketika main. Bahkan saya main hingga empat kali game (tidak kalah semua lho ya). Tak terasa sudah jam 7 malam, berarti waktu sewa lapangan telah usai. Saya dan teman – teman bergegas untuk pulang ke rumah masing – masing. Namun begitu keluar dari gor, ternyata cuaca hujan cukup deras. Teman – teman saya yang menggunakan sepeda motor lantas mengenakan jas hujan, sehingga mereka bisa tetap pulang. Sedangkan saya saat itu tidak membawa jas hujan, alhasil saya memilih untuk berdiam diri di gor untuk menunggu hujan reda.

Satu setengah jam berlalu, hujan masih sama derasnya. Saya tidak tau kapan hujan ini berhenti. Yang saya tau saat itu saya sangat lapar, perut keroncongan layaknya sebuah orkestra. Dan di gor tidak ada menjual makanan berat, hanya snack dan minuman saja. Saat itu saya benar – benar merasa terjepit, apalagi saya ingat ada amanah yang harus saya selesaikan malam itu juga. Untuk selanjutnya amanah tersebut harus saya serahkan kepada teman saya. Saya coba liat lagi keadaan diluar, hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda – tanda reda apalagi berhenti. “Ya sudahlah, hajar saja!” ucap saya di dalam hati. Akhirnya saya beranikan diri untuk menembus guyuran hujan supaya bisa sampai kosan. Tentu saja basah kuyup, sakit, kecelakaan mengintai saya saat itu. Bismillah, kalo memang kehendak Allah, saya ikhlas. Ternyata perjuangannya memang berat selama perjalanan. Macet panjang dan banjir dimana – mana. Tapi alhamdulillah Allah melindungi saya dan akhirnya saya tiba di kosan setelah menpuh perjalanan selama 45 menit. Padahal biasanya hanya sekitar 20 menit. Tak apalah walaupun basah kuyup, alhamdulillah bisa sampai kosan dengan selamat. Dan saya pun bisa makan dengan nikmat dan menyelesaikan amanah saya malam itu.

Sahabat, ada kendala atau kondisi yang kurang menguntungkan sebenarnya bukan penghalang kita untuk terus bergerak meraih tujuan. Kalau sudah kepepet, kadang kita jadi tidak takut dengan situasi seperti apa pun. Kalau sudah kepepet, kita bisa melejitkan potensi diri dengan seketika. Kalau sudah kepepet, yang tadinya seperti mustahil untuk dikerjakan ternyata bisa kita hadapi dan selesaikan. Jadi menurut saya, kalau sudah kepepet berarti hanya ada satu jalan buat kita : hadapi. Tapi bagaimana jika ternyata hasilnya tidak sesuai harapan? Kondisi sebelum kepepet, kita berpikir tidak mungkin dan takut untuk menghadapinya. Namun setelah kondisinya berubah menjadi kepepet, seketika mindset kita berubah menjadi bisa, berani, dan hadapi. Nah perubahan mindset inilah yang menurut saya merupakan hasil terbesarnya. Jadi urusan hasil akhirnya seperti apa, biarlah itu hak prerogatif Allah yang menentukan. So sahabat semua, percaya kan bahwa The Power of Kepepet itu ada?

Mau silaturahim dan ngobrol dengan saya? :) Silahkan follow twitter @adefahrizal / HP 082116061831 / BBM 29EEE7F0 / email adefahrizal@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s