Pesan Sahabat, “Hormatilah Proses Ta’arufmu”

Jujur kondisi hati saya saat ini masih bergejolak. Antara sedih, kesal, tapi juga bersyukur. Saya akan coba ceritakan mengapa bisa seperti demikian. Tadi sore handphone saya berdering agak lama. Saya lama mengangkatnya karena saya sedang memarkir motor. Setelah memarkir motor dan menaruh helm, saya rogoh saku saya untuk mengambil handphone. Betapa terkejutnya saya ketika melihat di-screen handphone tercantum nama Alfonso (bukan nama sebenarnya), teman ngaji saya di tingkat satu ketika masih kuliah di Universitas Padjadjaran. Langsung saja saya angkat telpon dari dia tanpa berpikir panjang. Ternyata dia ingin mengabarkan sebuah berita yang katanya entah ini buruk atau baik. Seketika saya potong perkataan dia dan saya bilang hendaknya kita berhusnudzhon atas segala kejadian yang terjadi kepada kita. Beberapa detik dia terdiam, lalu meminta waktu saya untuk mendengarkan cerita darinya. Lalu saya pun mengiyakan sambil mencari tempat duduk yang teduh agar nyaman mendengar ceritanya.

Ketika saya memberi tau dia bahwa saya sudah siap mendengarkan ceritanya, tanpa basa – basi dia mengatakan bahwa proses ta’aruf (proses perkenalan dalam Islam untuk menuju pernikahan) dengan Maria (bukan nama sebenarnya) diujung tanduk. Astaghfirullahal ‘adzhim spontan terucap dari lisan saya. Lalu saya tanyakan mengapa bisa sampai seperti itu? Padahal yang saya tau, sudah sejak lama Alfonso sangat menginginkan Maria untuk menjadi pendamping hidupnya. Tapi kok bisa diujung tanduk gini? Dia mengatakan bahwa Maria tampak tidak serius dalam proses ta’aruf. Singkat cerita ternyata Alfonso tidak tahan melihat kelakuan Maria selama proses ta’aruf ini. Maria seperti tidak sadar bahwa dia sedang ta’aruf, seperti tidak tau  bahwa ada pria yang sedang men-stalking dia. Baik dalam aktifitas sehari – hari melalui orang ketiga atau secara langsung jika sedang dalam acara yang sama. Bahkan Alfonso juga men-stalking Maria di Twitter dan Facebook. Alfonso tidak tahan melihat Maria sangat akrab dengan setiap teman laki – laki atau bahkan yang baru ia kenal. Bahkan kata Alfonso, Maria tidak malu untuk jalan dan bertemu teman laki – lakinnya. Walaupun ada muhrimnya disana, namun mungkin Alfonso tidak siap melihatnya. In my opinion, Alfonso ada rasa takut jikalau saja Maria berpaling kepada teman laki – lakinya yang lain.

Kemudian Alfonso meminta saran dari saya akan situasi ini. Menurut Alfonso ia memilih saya untuk meminta saran karena saya sangat dekat dengan dia ketika masih menjadi teman ngaji. Saya berpikir sejenak sambil memandang jauh ke langit. Kemudian saya katakan bahwa ini belum berakhir, masih bisa dipertahankan bahkan diwujudkan dalam pernikahan. Saya meminta Alfonso untuk tetap husnudzhon dan menyadari bahwa jodoh telah diatur oleh Allah. Kemudian saya menyarankan dia untuk segera mengambil sikap tegas kepada Maria. Baik secara langsung atau lewat pihak ketiga. Menanyakan sekaligus memastikan apakah Maria serius terhadap proses ta’ruf ini. Jika iya, maka selayaknya Maria mengurangi bahkan menghindari semaksimal mungkin interaksi dengan teman laki – lakinya. Namun jika ia ragu – ragu atau bahkan tidak serius, ya sudah lebih baik stop saja dan cari wanita lain untuk proses ta’aruf. Biarkan waktu yang akan menjawab kalau Maria telah salah ragu atau tidak serius dengan Alfonso. Akhirnya adzan ashar jugalah yang menyudahi pembicaraan kami. Alfonso akan mencoba konsultasi terlebih dahulu dengan guru ngajinya sambil mempertimbangkan saran dari saya. Namun sebelum menutup telpon, Alfonso berpesan kepada saya, “De, hormatilah proses ta’arufmu”. Saya pun menjawab, “Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah…”. Dan pembicaraan di sore hari yang mendung di Kota Bandung itu pun berakhir.

Sahabatku ikhwan maupun akhwat, yang akan atau sedang ta’aruf, hormatilah proses ta’arufmu!. Ya, jikalau memang akan berta’ruf maka mantapkanlah hatimu hanya karena dan hanya untuk Allah. Jikalau sedang ta’aruf, jagalah proses tersebut. Berseriuslah kepada proses ta’aruf itu dan kepada orang yang sedang ta’aruf dengan kamu. Saling jagalah perasaan, jaga sikap, jaga interaksi dengan lawan jenis. Kalau pun belum ta’ruf, tetap jaga sikapmu, terutama interaksi dengan lawan jenis. Itu bisa menjadi parameter seberapa murah atau mahalnya dirimu. Jika ada manfaat dari tulisan saya ini, mohon untuk disampaikan kepada saudara, sahabat, atau teman anda yang akan atau sedang ta’aruf. Mungkin saja kondisi mereka seperti Alfonso dan Maria dalam cerita ini. Ayo kita sama – sama berdoa bagi yang akan ta’aruf semoga dimudahkan prosesnya. Dan bagi yang sedang ta’aruf semoga berakhir dalam sebuah ikatan suci yang bernama pernikahan, aamiin.

Mau silaturahim dan ngobrol dengan saya?🙂 Silahkan follow twitter @adefahrizal / HP 082116061831 / BBM 29EEE7F0 / email adefahrizal@gmail.com

One thought on “Pesan Sahabat, “Hormatilah Proses Ta’arufmu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s